Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 41- Bermain Air


__ADS_3

Pandangan Denia diarahkannya pada luasnya pantai yang berada di depan matanya, bibirnya tersenyum dan menutup kedua matanya, seolah merasakan desiran angin yang menggelitik tubuhnya. Britsh melihat ke arah Denia yang sedang menikmati angin pantai. Bibirnya tersenyun tipis.


"Aku kembali di jodohkan mama ku"kata Britsh memulai pembicaraan kembali.


Diarahkannya pandangannya ke pantai dengan tatapan kosong, sementara Denia mendelik dan terdiam mendengar perkataan Britsh. Angin yang brtiup seolah tak terasa di tubuhnya, hanya terdengar gelombang air yang saling bersahutan. Denia bingung harus memberi saran apa pada Britsh. Karena di satu sisi, perjodohan tersebut adalah permintaan orang tua Britsh.


"Aku sudah pernah cerita kan, kalau ibuku selalu ingin menjodohkanku dengan wanita pilihannya, kali ini dia ingin aku meminta maaf oada wanita pilihannya itu karena sudah ku tolak"kata Britsh parau.


Bagi Britsh menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain merupakan hal yang tabu, namun ia tidak sadar mengapa ia bisa bercerita masalah pribadinya pada Denia, ditambah lagi Denia hanya karyawan biasa yang tidak lulus dari kuliahnya.


Denia hanya diam mendengar pembicaraan Britsh, ia tidak tahu harus memberi saran apa pada Britsh.


"Apa Bapak sudah bicara pada ibunya bapak, kalau tidak ingin di jodohkan?"tanya Denia.


"Sudah berkali-kali, tapi ibu saya tidak menyerah. Kali ini, dia sangat memaksa agar aku menikahi anak rekannya"tambah Britsh menjelaskan.


"Maaf ya Pak, saya tidak bisa memberikan solusi apapun untuk Bapak. Karena itu merupakan perintah orang tuanya bapak. Tapi menurut saya, Bapak ikuti kata hati Bapak"kata Denia mencoba memberi masukan.


"Tidak apa-apa, menceritakan masalah saya ini kepada kamu saja, saya sudah berterima kasih"kata Britsh yang dijawab dengan senyuman oleh Denia.


"Sebenarnya saya tidak pernah mau menceritakan masalah saya pada orang lain. Tapu saya tidak tahu, mengapa saya menceritakan masalah saya pada kamu"kata Britsh.


Mendengar pengakuan dari Britsh, Denia jadi tersiam, ia merasa sedikit canggung. Ia menatap ke arah Britsh dengan tatapan kosong. Pandangan mereka beradu ketika Britsh pun melihat Denia, yang membuat mereka semakin canggung.


"Maaf ya, saya memang butuh teman cerita. Tidak ada maksud lain"jawab Britsh.


Britsh merasa sedikit tidak enak pada Denia, apalagi jika Denia sampai salah paham padanya. Karena, ia sendiri juga masih tidak tahu menjelaskan isi di hatinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa,Pak. Saya siap kok menjadi teman curhat, Bapak"jawab Denia.


"Terima kasih ya. Maaf waktu itu saya sempat ngerjai kamu"jawab Britsh.


Denia bingung, karena ia lupa kesalahan apa yang telah dilakukan Britsh padanya, sehingga ia harus meminta maaf padanya. Ternyata Britsh mengerti kebingungan Denia dan menjelaskan kesalahannya .


"Waktu itu, saya menuduh kamu mencuri jam tangan saya dari kamar saya"kata Britsh.


"Oh, masalah itu"kata Denia setelah mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu."Tidak apa-apa, Pak. Saya juga yang salah, telah meletakkan air bekas pelan di jalan, sehingga Bapak jadi basah. Saya juga minta maaf atas kesalahan saya itu"tambah Denia.


"Apa-apaan ini?. Kenapa suasananya jadi tegang begini?, apakah kita "canda Britsh.


Denia pun tertawa mendengar candaan Britsh, suasana kembali relex diantara keduanya. Denia pun mengajak Britsh mengikutinya, berjalan ke tepi pantai, sesampainya di tepi pantai, Denia mendorong Britsh ke air pantai. Hal tersebut membuat tubuh Britsh menjadi basah karena ombak yang tiba-tiba datang menghampirinya. Melihat reaksi Britsh yang kebingungan basah terkena air membuat Denia tertawa puas, seolah ia baru saja memenangkan lotre. Hanya saja kebahagiaannya langsung berubah menjadi tegang, karena ia melihat reaksi Britsh yang menakutkan.


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud...


Belum sempat Denia menyelesaikan perkataannya, Britah menarik tangan Denia, dan membuat Denia juga terkena air pantai. Keduanya pun saling berbalas satu dengan yang lain dan tertawa.


Bagi Denia, melihat Britsh yang seorang atasannya bisa tertawa lepas bersamanya merupakan suatu yang membahagiakan. Ditambah tawa Britsh sangat mempesona. Ketampanannya bisa berkali-kali lipat, lesung pipinya seolah ikut tertawa.


Britsh dan Denia saling balas melemparkan air dengan tangan mereka. Seolah mereka anak kecil yang sedang bermain air.


***


Steven tiba di depan gerbang rumahnya, ia melihat rumah megah itu dari balik pintu pagar yang masih tertutup. Ia menatap ke atas, dimana kamarnya berada. Entah apa yang dipikirkannya. Hanya kurang dari 10 menit ia berada di sana, ia langsung melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Ibu Sofia yang kebetulan berada di kamar itu membuka kaca kamar dimana biasa Steven tidur, namun ia tidak melihat Steven berada di bawah sejak 10 menit yang lalu, karena Steven sudah beranjak dari sana. Wajah Ibu Sofia tampak murung, ia merindukan anak tunggalnya itu yang tak kunjung pulang. Ia berbalik dari jendela kaca untuk melihat seluruh ruangan kamar yang tak berpenghuni itu.


"Dimana sebenarnya anak itu sekarang?"batin Ibu Sofia.

__ADS_1


Bagaimana pun, ia merasa khawatir pada keberadaan putranya itu.


Steven sedang dalam perjalanan ke rumahnya, pikirannya teringat pada peristiwa yang tadi dilihatnya, dimana Brirsh dan Denia keluar dari cafe yang ia sendiri tidak tahu hendak kemana tujuan mereka. Karena fikirannya terasa kacau, ia pun melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, kaca penutup mata di helm di turunkannya agar ia terhindar dari debu jalanan.


Sudah hampir 5 jam Britsh dan Denia berada di pantai. Rasanya memang tidak ada yang ingin beranjak jika sudah melihat keindahan alam di pantai, di tambah cuaca yang sejuk. Namun tiba-tiba perut Denia berbunyi, ia sangat malu mendengar bunyi perutnya yang keroncongan meski mereka baru makan 5 jam yang lalu. Britsh yang mendengarnya hanya tersenyum.


"Sepertinya kita harus cari tempat makan"ucap Britsh.


Denia merasa sangat malu sampai tak sanggup untuk melihat Britsh, ia hanya menutup matanya dan merapatkan bibirnya.


"Bagaimana bisa perut ini tidak bisa diajak bekerja sama di saat seperti ini"keluh Denia dalam hati.


"Ti... tidak usah, Pak"tolak Denia terbata.


"Saya tidak ingin, karyawan saya mati kelaparan saat bersama dengan saya"canda Britsh.


"Justru itu, justru karena aku seorang karyawan, makanya aku tidak ingin diajak makan"batin Denia.


Britsh yang sudah berjalan di depan akhirnya berbalik untuk melihat Denia yanh hanya terdiam saja, ia pun kembali menegur Denia.


"Hei, kenapa kamu hanya diam saja?"tanya Britsh yang tidak tahu isi fikiran Denia.


"Hah?"kata Denia.


Denia mau tidak mau akhirnya menuruti keinginan Britsh.


Mereka berdua pun melangkah ke mobil...

__ADS_1


***


Bersambung....


__ADS_2