
Steven baru saja tiba di sebuah club malam, Steven masuk ke dalam dengan sangat hati -hati karena banyak orang yang mabuk berjalan mendekatinya. Hampir saja ia menabrak salah seorang yang sudah sangat mabuk berat, untungnya dengan cepat ia menghindar.
Steven mulai mencari-cari keberadaan Delia, untuk memastikan kalau ia tidak salah memilih tempat Club malam yang sering dikunjungi anak muda. Hampir saja Steven menyerah dalam pencariannya dan berencana keluar dari tempat itu, untuk mencari di tempat Club malam yang lain. Namun, ia akhirnya menemukan Delia yang dalam keadaan mabuk, duduk menyendiri di meja bar dengan gelas yang sudah kosong. Steven pun menghampiri Delia sembari menyeringai sinis mendapatkan Delia mabuk berat
"Dasar gadis gila ini" gumam Steven.
Ia pun berjalan mendekati Delia yang setengah sadar di kursinya.
"Hei, bangun. Apa yang kau lakukan disini?"tanya Steven sembari mengguncang badan Delia.
"Siapa kamu, jangan urusi saya. Pergi sana!"bentak Delia dengan setengah sadar. Delia masih tidak tahu siapa yang mendekatinya. Ia kembali tidur di meja bar.
"Gadis gila ini, benar-benar merepotkan saja"keluh Steven.
"Sejak kapan dia seperti ini?"tanya Steven pada pemuda pegawai bar.
"Sudah 30 menit yang lalu"jawab pemuda pelayan bar tersebut.
"Berapa banyak yang dia minum?"
"10 gelas, Mas" jawab pegawai bar.
Steven pun tercengang melihat kemampuan minum Delia, untuk anak seumurannya.
"Dia benar-benar tidak normal"kata Steven sembari menggelengkan kepalanya.
"Hei, sadarlah!." Steven kembali mengguncang tubuh Delia agar sadar.
Steven mencoba membangunkan kembali Delia dengan memukul-mukul lengannya, Delia setengah sadar menatap ke arah Steven. Dia akhirnya mengenali Steven meski samar-samar karena masih dalam pengaruh alkohol.
"Oh.. Pria tetangga baru"kata Delia sembari menunjuk wajah Steven dengan jari telunjuknya, yang di pandang datar oleh Steven.
"Pulanglah, kakakmu mengkhawatirkanmu"kata Steven.
"Kau kesini, hanya karena kakakku?. Apa kau menyukai kakakku?"tanya Delia dengan masih dalam pengaruh alkohol.
"Apa yang kau bicarakan?. Pulanglah, jangan berfikiran yang aneh"kata Steven.
"Sejak pertama melihatmu aku tahu, kalau kau suka dan perhatian sama kakakku. Sementara aku?, tidak seorangpun yang memperhatikan aku"kata Delia.
__ADS_1
"Jangan bicara yang tidak berguna. Kakakmu sangat perhatian padamu"kata Steven.
"Cih, kau bicara begitu, seolah kau sangat mengenalnya. Aku beritahu padamu, dia itu hanya pura-pura baik. Aku sangat membencinya, ia menyuruhku tetap ke sekolah padahal aku tidak mau sekolah. Dia memaksaku untuk sekolah sampai perguruan tinggi. Tapi, dia sendiri tidak menyelesaikan sarjananya. Apa menurutmu itu adil?"kata Delia.
Alasan Delia selalu melawan dan membangkang pada kakaknya adalah, karena Denia selalu berbuat baik padanya. Dia merasa menjadi beban, karena Denia harus menghentikan kuliahnya demi sekolahnya. Seharusnya memang Delia berterima kasih untuk itu. Tapi, baginya itu beban tersendiri di hatinya. Kakaknya saat itu sudah di semester 2 terakhir, namun harus menghentikan kuliahnya karena kedua orang tuanya meninggal dunia untuk memikirkan Delia sekolah.
Saat itu Delia masih tidak mengerti, karena dia sendiri masih kecil saat itu. Hingga akhirnya dia tahu kalau kakaknya sudah tidak kuliah lagi dan terus bekerja mencari uang.
"Sudah, ayo pulang"kata Steven.
Bruuuuggg...
Delia terjatuh kembali di meja bar, karena tidak sadar.
"Dia benar-benar menyusahkan"kata Steven lirih.
Dengan terpaksa, Steven pun menggendong Delia di belakang punggungnya sampai ke depan Club untuk mencari taxi. Tidak beberapa mereka menunggu, akhirnya taxi pun datang untuk membawa mereka.
"Kenapa dia banyak sekali minum?"tanya Steven kesal.
Dalam perjalanan pulang, Delia masih dalam keadaan tidak sadar, hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah.
"Ya, ampun. Delia!" teriak Denia yang merasa khawatir dengan keadaan adiknya.
"Sepertinya ia banyak minum"kata Steven.
Denia merasa sedih melihat keadaan adiknya tersebut, ia dapat merasakan beban di dalam diri adiknya tersebut, meskipun Delia tidak memberitahunya.
"Terima kasih ya, sudah bawa dia pulang"kata Denia.
"Tidak apa-apa"jawab Steven singkat.
"Terus, bagaimana dengan cafe?"tanya Denia
"Aku tinggal bentar tadi"kata Steven sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 1 dini hari.
"Ah, sepertinya aku uda tidak sempat lagi balik ke cafe"kata Steven.
"Maaf ya, karena aku kamu jadi ikutan tidak kerja"kata Denia merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kalau begitu aku pulang dulu ya"kata Steven.
"Iya, sekali lagi terima kasih ya Stev"
Kalau di fikirkan, memang Steven sudah banyak membantu Denia meski mereka baru saja kenal. Mulai dari menyelamatkan nyawa Denia saat pertama mereka bertemu, membawa Delia nginap di rumahnya saat Delia mabuk, mengantar Delia pulang karena mabuk, bahkan sampai membayar SPP Delia, meskipun Denia masih tidak menyadari akan hal itu.
Britsh membuka gorden jendela kamar hotelnya. Memandang ke arah luar dengan bangunan yang mulai diterangi oleh lampu.
Hari ini Britsh menginap di Hotel lagi, karena ia tidak ingin ibunya selalu membahas masalah perjodohan setiap ia pulang ke rumah. Meski dirinya sudah menolak puluhan kali, namun ibunya selalu memaksanya untuk segera menikah dengan wanita pilihannya.
Padahal kakek dan ayahnya sendiri tidak pernah memaksanya untuk menikah, apalagi sampai di pilihkan calonnya. Suasana malam membuatnya sedikit tenang, karena tidak ada yang mengganggunya.
Namun fikirannya kembali terusik akan Denia yang tidak masuk kerja di Cafe hari ini, padahal tadi pagi ia mengatakan kalau Denia akan kerja.
****
Sruukkk....
Denia mengaduk bubur yang dimasaknya untuk Delia, agar perutnya tidak mual.
Bubur tersebut sengaja di raciknya sendiri dengan campuran bahan sayur yang ada di dalam kulkas.
Denia mencicipi bubur tersebut untuk memastikan rasanya tidak keasinan atau tawar. Setelah memastikan rasanya pas, Denia menunggu sampai bubur tersebut matang lalu mengangkatnya.
Denia menyendok bubur ke dalam piring untuk segera memberikannya pada Delia selagi panas.
"Makanlah dulu ini, agar perutmu tidak mual"kata Denia.
"Pergi sana, jangan ganggu aku"bentak Delia sembari mendorong tangan Denia. Jadilah bubur tersebut tumpah ke lantai. Bukannya merasa bersalah Delia malah melanjutkan tidurnya.
Kali ini Denia kesal dengan kelakuan adiknya tersebut karena itu dia memarahi adiknya.
"Kalau kau punya masalah katakan saja, jangan menyimpannya!"bentak Denia.
"Pergilah, aku tidak punya waktu berdebat denganmu"kata Delia sembari menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
Dengan langkah yang masih menahan rasa emosinya, Denia meninggalkan Delia sendirian, meski ia telah memarahi adiknya itu, dalam hati kecilnya ia juga tidak tega.
"Buburnya masih ada di panci, kamu makanlah kalau sudah bangun"pesan Denia.
__ADS_1
******
Bersambung....