Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 30 - Flash Back


__ADS_3

Denia mencoba untuk mengenyampingkan masalah pribadinya dengan Delia. dia harus tetap fokus untuk bekerja. dia tidak ingin mengacaukan urusan pekerjaannya karena masalah pribadi. Walau bagaimanapun dia juga bekerja demi adiknya Delia. Denia mencoba tersenyum setelah tiba di pintu gerbang Perusahaan Sentosa grup.


Untuk masalah adiknya, dia akan mencoba menanyakannya lagi ketika Denia sudah merasa tenang nanti. Kepribadian Delia memang sangat keras dan tertutup meski pada kakaknya sendiri. Denia sebenarnya orang yang baik, dan pengertian. Namun bagi Delia, kakaknya tersebut merupakan orang yang hanya tempatnya meminta uang, bukan untuk berbagi cerita. Karena baginya kakaknya merupakan orang yang membosankan, yang hanya gila kerja dan kerja. Sangat bertolak belakang dengan dirinya.


"Selamat pagi pak" sapa Denia sembari tersenyum. dia membawakan segelas kopi ke ruang kerja Britsh. Britsh merasa senang melihat kehadiran Denia tersebut. Meski dia belum mempersilahkan Denia untuk masuk, namun Denia membuka pintunya sendiri setelah mengetuk pintu. Baginya itu adalah hak istimewanya sebagai asisten pribadi.


"Ini kopinya pak" kata Denia sembari meletakkan kopi yang dibuatnya tersebut di meja kerja Britsh.


"Wah, kamu tepat waktu sekali"kata Britsh memuji Denia. Meski sekarang sudah jam 8 pagi, yang artinya seluruh pegawai sudah berada di kantor.


Denia hanya membalas dengan senyuman untuk pujian Britsh. dia sendiri tahu kalau Britsh hanya basa basi untuk mengawali pembicaraan.


"Bukankah ini sudah waktunya semua yang bekerja sudah tiba di tempat mereka kerja?" tanya Denia yang di balas dengan tawa oleh Britsh.


"Kamu memakai blezer?"tanya Britsh dengan heran.


Selama Denia bekerja di Sentosa grup, memang baru ini dia menggunakan stelan blezer. Denia melihat ke pakaiannya dan bertanya-tanya apakah ada yang aneh pada dirinya.


"Apa saya kelihatan aneh pak?"tanya Denia.


"Oh, tidak. Kamu terlihat cantik. Hanya saya tidak memaksa kamu untuk memakai pakaian formal. Pakailah pakaian yang nyaman di badan kamu" kata Britsh sembari meneguk kopi. Denia sengaja membuat kopi tersebut tidak terlalu panas, agar Britsh dapat langsung meminumnya.


"Baik pak"jawab Denia sembari tersenyum. dia merasa sangat tersanjung ketika Britsh memberinya hak istimewa yang lain.


"Oh ya, apa nanti malam kamu kerja part time di cafe kemarin?"tanya Britsh.


"Iya pak, saya tiap malam kerja di sana"kata Denia.


"Bagus sekali" kata Britsh dengan semangat.


"mengapa pak?"tanya Denia.


"Tidak apa-apa, rencananya saya ingin mampir lagi. Cappuchino buatan kamu kemarin enak" kata Britsh memuji Denia. Denia semakin merasa tersanjung dengan kata-kata Britsh tersebut. Meski dia tahu kalau Britsh hanya asal bicara.


"Cobalah menu yang lain juga pak"kata Denia mempromosikan menu yang tersedia di cafe X itu.


"Baiklah, tetapi harus kamu yang buatkan"jawab Britsh

__ADS_1


Britsh pun tertawa bersama Denia.


****


Steven sedang melamun di rumahnya, dia sedang duduk di teras rumah sembari memikirkan perkataan Denia mengenai bossnya yang tidak lain adalah Britsh sepupu Steven.


"Sejak kapan dia begitu peduli pada orang lain?" batin Steven.


****


Flash Back..


Di salah satu SMA X ada 3 siswa bersahabat dekat. Mereka adalah Britsh, Steven dan Marsha. Mereka bersahabat sejak mereka duduk di bangku kelas 1 SMA sampai sekarang mereka berada di kelas 3 dan hampir lulus.


Mereka bertiga berfoto bersama dengan sangat bahagia. Sejak kelas 1 sampai kelas 3 bersahabat sehingga ada tumbuh rasa cinta di antara mereka. di mana Britsh dan Steven mencintai Marsya. Marsya menganggap Steven hanya sahabat dekat, namun berbeda dengan Britsh. Marsya mencintai Britsh sebagaimana Britsh mencintainya.


Steven membeli setangkai bunga mawar. di mana saat itu mereka sedang merayakan hari kelulusan mereka. Steven berlari sekencang-kencangnya untuk segera menemui Marsya dan memberikan seikat mawar itu untuk Marsya.


Steven melihat Marsya sedang duduk sendirian di kursi halaman sekolah yang tidak jauh dari Aula tempat mereka akan yudisium. Steven memberikan seikat mawar tersebut.


"Hi Stev"balas Marsya.


"Selamat ya atas kelulusannya"kata Steven sembari memberikan bunga pada Marsya.


Marsya dengan ragu menerima bunga tersebut dari Steven, namun dia akhirnya menerimanya karena dia menganggap kalau mereka adalah sahabat.


"Terima kasih ya. Selamat juga atas kelulisan kamu, tetapi aku tidak memberi kamu apa-apa"kata Marsya.


"Tidak apa-apa. Ada yang ingin kusampaikan padamu"kata Steven.


"Apa?"tanya Marsya.


"Jadilah pacarku"kata Steven.


Mendengar pengakuan Steven, membuat Marsya terdiam kemudian dia tertawa untuk menghindari kecanggungan di antara mereka.


"maaf Stev, tetapi aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat tidak lebih. Aku dan Britsh sudah pacaran sejak sebulan yang lalu"kata Marsya. Tepat saat itu Britsh datang membawa bunga untuk Marsya.

__ADS_1


"Oh jadi kalian sudah jadian?. Selamat ya" kata Steven sembari menyalam Marsya dan Britsh menahan kesedihannya.


Steven meninggalkan Marsya dan Britsh yang diikuti pandangan iba dari Marsya dan pandangan heran dari Britsh.


Hujan malam ini sepertinya merasakan kegalauan yang di rasakan Steven. Tepat saat perayaan hari kelulusan mereka,Steven memilih untuk menyendiri. dia berjalan di tengah hujan tanpa tujuan.


Ponselnya bolak balik berdering. Panggilan itu berasal dari Marsya dan Britsh, namun Steven membiarkan ponselnya tetap berdering sampai ponselnya mati total karena hujan yang sangat deras.


Setelah merasa lebih baik, Steven memutuskan untuk menemui Britsh dan Marsya, karena ingin kuliah ke Amerika. Tentu saja keputusan yang diambil oleh Steven membuat Marsya dan Britsh terkejut. Karena bagi mereka kuliah di dalam negeri tidak kalah hebat dari luar negeri.


Britsh dan Marsya menyadari kalau kepergian Steven untuk melupakan Marsya.


"Kapan kamu pergi?"tanya Britsh..


"Besok"kata Steven.


"Kita antar ya sampai bandara ya "kata Britsh.


"Tidak usah, aku pergi sendiri. Jaga hubungan kalian baik-baik. Jaga Marsya ya"pesan Steven pada Britsh.


Bagi Steven pergi sendiri ke bandara merupakan yang terbaik. Karena jika mereka mengantarnya berat bagi Steven untuk melupakan Marsya.


"maaf ya"kata Britsh. dia merasa tidak enak hati telah melukai hati sepupunya tersebut.


"Tidak usah minta maaf, kalian tidak salah. Aku titip Marsya"kata Steven.


Hatinya sedikit sedih ketika melihat Britsh dan Marsya berpegangan tangan. Namun Steven mengalihkan pandangannya.


Setahun berlalu Steven berada di luar negeri. dia mendengar kabar kalau Marsya telah meninggal dunia. Hancur hatinya berkeping-keping, pesan yang dititipkannya pada Britsh untuk menjaga Marsya tidak dilakukan oleh Britsh. Apalagi Steven mengetahui kalau Marsya meninggal karena Britsh meninggalkan Marsya sendirian sehingga Marsya harus mengalami kecelakaan. dia tahu pada saat itu Britsh sedang melamar Marsya. Namun mengapa Britsh membiarkan Marsya sendirian malam itu.


Flash Off.


Steven masih duduk dalam lamunannya di teras rumahnya, sampai dia menyadari Delia keluar dari rumahnya dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Mau ke mana dia?" kata Steven.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2