
Meski melihat langkah Delia yang terburu-buru, Steven tetap tidak terlalu memperdulikannya. Karena menurutnya tingkah Delia memang sudah biasa pulang pergi dari rumah dengan sesuka hatinya. Ia tidak ingin menambah masalah, jika ia bertanya langsung pada Delia. Steven sangat tahu betul sifat Delia yang gampang marah dan tidak suka diurusi.
Tidak beberapa lama setelah Delia keluar dari rumahnya, Denia muncul baru pulang kerja.
"Hi Stev"sapa Denia.
"Hi juga"balas Steven.
Meski usia mereka beda 4 tahun, namun Denia lebih suka memanggil Steven dengan namanya. Itu adalah panggilan permintaan Steven, karena ia tidak memberitahukan pada Denia tentang usianya yang sebenarnya.
"Tadi adik kamu baru aja keluar dengan tergesa-,gesa, kamu tidak lihat?"tanya Steven.
Ternyata Denia tidak terlalu memperhatikan Delia, saat berjalan dari persimpangan jalan rumah mereka. Wajah Denia terlihat sangat panik, sehingga membuat Steven menjadi bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Tanpa fikir panjang lagi Denia berbalik untuk menelusuri jalan di lingkungan mereka tinggal, yang diikuti oleh Steven.
Denia mempercepat langkahnya, sebelum Delia berbuat sesuatu atau naik kendaraan.
"Sebenarnya ada apa?, kenapa kamu terlihat panik sekali?"tanya Steven.
Perkataan Steven tersebut tidak di dengar oleh Denia, ia hanya fokus mencari adiknya. Denia tahu pasti telah terjadi sesuatu pada Delia, melihat sikap Delia pagi ini yang tak seperti biasanya. Hari semakin gelap , namun Delia tidak di temukan juga, meski sudah sampai ujung jalan, bahkan sampai ke halte bis. Denia berjalan dengan lemas, karena ia telah lelah bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi fikirannya juga. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada adik satu-satunya itu. Keringat bercucuran di tubuhnya, namun ia tidak menghiraukannya.
"Sudahlah kita pulang dulu, nanti juga dia pulang sendiri"saran Steven sembari memegang pundak Denia, untuk menahan Denia agar tidak terjatuh karena kelelahan.
Denia melepas pegangan tangan Steven, karena ia masih sanggup untuk berjalan sendiri.
Mereka pun tiba di depan rumah mereka, Steven menyarankan pada Denia untuk tidak masuk kerja malam ini, karena Denia tampak tidak sehat. Saran Denia itu di turuti oleh Denia, ia juga berenacana untuk izin karena merasa tidak baik.
"Steven mengantar Denia sampai depan pintu rumahnya, dan memastikan Denia masuk ke dalam.
"Jangan fikirkan yang aneh-aneh, istirahatlah. Adik kamu pasti pulang" kata Steven memberi semangat pada Denia.
Denia tersenyum sembari berjalan masuk ke rumahnya.
Setelah memastikan Denia baik-baik saja ditinggal, Steven pun pergi untuk bekerja ke Cafe X.
Denia mencoba menelpon ke hp Delia, namun tidak tersambung. Ponsel Delia sepertinya sengaja di matikan agar tidak ada yang menelponnya.
"Kamana sebenarnya dia pergi?" gumam Denia.
Steven tiba di Cafe setelah menempuh waktu 10 menit berjalan kaki.
__ADS_1
"Kamu sendiri?, mana Denia?"tanya Nindy.
"Dia tidak masuk kerja hari ini" jawab Steven datar
"Kenapa?, mengapa tidak memberitahukan padaku?"tanya Nindy
"Ada sesuatu mendadak terjadi, sehingga ia tidak bisa masuk kerja"kata Steven.
"Apaan?"tanya Nindy semakin khawatir.
"Aku juga tidak tahu, tapi tadi adiknya pergi dari rumah dengan buru-buru, tidak tahu kemana"jawab Steven menjelaskan.
Wajahnya tampak sedikit khawatir, memikirkan wajah Denia hari ini yang terlihat panik.
"Anak itu memang sudah keterlaluan, dia pasti menyusahkan Denia lagi"gerutu Nindy.
"Mungkin dia lagi ada acara sama teman-temannya, makanya pergi tergesa-gesa"kata Steven mencoba menenangkan suasana.
"Pasti pergi ke Club malam lagi tuh anak. Uda ku bilang sama Denia jangan terlalu baik padanya, tapi dia tidak mau mendengarkanku"kata Nindy
"Club?"tanya Steven.
Steven sepertinya tahu Club mana yang biasa di tuju untuk anak-anak pelajar seperti Delia. Steven pun permisi izin keluar pada Nindy.
"Kamu mau kemana?, baru tiba uda mau pergi aja. Terus aku siapa temannya disini?"tanya Nindy dengan panik.
Steven bergegas ke luar dari Cafe, namun alangkah terkejutnya Steven saat tiba di depan Cafe, ia melihat Britsh memarkirkan mobilnya di depan Cafe mereka. Steven langsung bersembunyi karena tidak ingin di lihat oleh Britsh, untungnya Britsh tidak melihatnya dan berjalan ke dalam Cafe.
"Kenapa dia datang kesini lagi?" gumam Steven.
Ia melihat Britsh berbicara dengan Nindy, meski ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Steven lebih memilih untuk melanjutkan rencananya, yaitu mengunjungi sebuah club malam yang kemungkinan Delia berada di sana.
"Permisi" sapa Britsh sembari melihat segala ruang sudut cafe.
"Ada yang bisa saya bantu?. Bukannya bapak bos Denia?"kata Nindy
"Ah, benar. Kenalkan nama saya Britsh Sanjaya" kata Britsh sembari mengulurkan tangannya.
"Saya Nindy. bapak kalau di lihat langsung lebih tampan" Kata Nindy memuji.
"Terima kasih"kata Britsh sembari tersenyum.
__ADS_1
"Denia telah menceritakan tentang bapak" kata Nindy.
"Cerita apa?"tanya Britsh penasaran.
"Katanya bapak itu galak, bapak juga telah membuatnya harus begadang mencari jam tangan bapak padahal jam nya ada sama bapak sendiri. Bahkan dia harus membeli jam dengan tabungannya"kata Nindy menjelaskan panjang. Ia sebenarnya keceplosan mengatakan semua itu pada Britsh, hingga saat sadar akan ucapannya Nindy menjadi panik karena takut karena ucapannya itu, sahabatnya itu akan di pecat. Namun, Britsh malah tertawa mendengar Nindy menjelekkannya.
"Saya juga tidak tahu, kenapa saya punya ide untuk mengerjainya seperti itu"kata Britsh.
"Oh ya bapak mau pesan apa?"tanya Nindy.
"Jangan panggil saya Bapak, panggil saja Bristsh. Saya pesan cappuchino du..."Britsh melihat kembali ruangan cafe tersebut yang diikuti oleh Nindy.
"Bapak cari Denia?"tanya Nindy.
"Oh, tidak juga"kata Britsh berbohong. Tapi apakah dia tidak masuk hari ini?"tanya Britsh lagi membuat ekspresi wajah Nindy mengkerut karena perkataan Britsh yang tidak sinkron itu.
"Dia tidak masuk kerja hari ini"jawab Nindy.
"Kenapa?"
"Saya tidak tahu alasannya. Jadi bapak pesan Capuchinonya berapa?"tanya Nindy.
"Saya pesan 1"kata Britsh.
Tidak lama kemudian Nindy memberikan pesanan Britsh tersebut.
"Totalnya 30 ribu."kata Nindy. Britsh pun mengeluarkan uang seharga seratus ribuan untuk membayarnya. Nindy menerima uang tersebut.
"Kembaliannya ambil saja. Terima kasih minumannya"kata Britsh sembari melangkah pergi.
Saat Britsh sudah berada di luar Cafe ia hendak menghubungi Denia, untuk menanyakan apa yang terjadi padanya. Namun Britsh mengurungkan niatnya karena takut mengganggu Denia karena sudah malam.
Lagian, ia bisa menanyakannya di kantor. Britsh melangkah ke mobilnya, yang sudah di tunggu oleh pak Ridwan.
"Jalan pak"kata Britsh setelah ia telah duduk di jok belakang.
"Baik tuan"jawab pak Ridwan.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
******
__ADS_1
Bersambung..