
Pak Ridwan dan Denia berjalan menuju ruang kerja Britsh dengan menggunakan lift. Pak Ridwan mempersilahkan Denia untuk masuk terlebih dahulu ke dalam lift yang telah terbuka, kemudian pak Ridwan mengikuti Denia sembari menutup pintu lift dan menekan tombol 20.
Dalam ruangan lift yang sesak itu, hanya ada pak Ridwan dan Denia, mereka tidak saling bicara sampai ke lantai 20.
Tiinnggg...
Bunyi suara bel di pintu lift yang menunjukkan mereka sudah tiba dilantai 20 dan dengan otomatis pintu lift terbuka.
"Silahkan nona"kata pak Ridwan mempersklahkan Denia jalan di depan.
Tibalah mereka di depan pintu ruangan Direktur Britsh Sanjaya.
Tok...tok..tok
Pak Ridwan mengetuk pintu, Britsh mempersilahkan mereka untuk masuk dan masih fokus pada dokumen-dokumen di mejanya. Dengan langkah yang ragu Denia tetap berjalan.
"Nona Denia sudah datang tuan muda"kata pak Ridwan sembari melangkah pergi meninggalkan Britsh dan Denia dalam ruangan itu.
Britsh menghentikan aktivitasnya sejenak, setelah melihat Denia di hadapannya, Denia dengan merasa canggung menundukkan kepalanya.
"Ada apa bapak memanggil saya kemari?"tanya Denia.
"Silahkan duduk"kata Britsh, sembari menunjukkan kursi di hadapannya.
"Baik pak"kata Denia.
"Kamu pasti terkejut ya, tiba-tiba saya panggil ke ruangan saya?" tanya Britsh.
Denia mengangguk setuju, karena ia sendiri memang terkejut di panggil oleh Britsh.
"Begini, belakangan ini saya sering kelelahan mengurus perusahaan. Kamu tahu sendiri saya mengurus sendiri perusahaan ini semenjak papa saya sakit. Bisakah kamu menjadi asisten pribadi saya?"tanya Britsh pada Denia. Denia menjadi tsmbah canggung, bagaimana bisa seseorang yang tidak tamat kuliah sepertinya bisa menjadi asisten pribadi seorang Britsh Sanjaya.
"Tapi pak, saya kan hanya seorang cleaning service, saya juga tidak punya pengalaman di bidang ini, bahkan saya tidak tamat kuliah"kata Denia.
Ternyata Denia sempat menceritakan mengenai berhentinya ia dari kuliahnya saat ia minum cappuchino di jembatan kemarin.
"Saya tahu, maksud saya paling tidak kamu membantu saya untuk membuat minuman"kata Britsh.
Ekspresi wajah Denia terlihat berat untuk menerima tawaran dari Britsh tersebut. Bagaimana bisa ia mendapatkan tugas segampang itu di perusahaan besar.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau?"tanya Britsh."Tapi saya harap kamu mau menerimanya, karena selain kamu, saya tidak bisa menerima orang lain"pinta Britsh.
"Baik pak, saya akan terima tawaran bapak"kata Denia.
Britsh sangat senang karena Denia mau menerimanya tawarannya. Baginya Denia memang orang yang tepat mengisi posisi khusus itu. Tidak tahu kenapa, meski mereka baru saja kenal, tapi Britsh merasa nyaman kalau bersama Denia. Entahlah, tidak tahu rasa nyaman apa yang di rasakan oleh Britsh. Sejak kekasihnya meninggal 6 tahun silam, belum ada seseorang pun yang dapat menggantikannya.
"Kalau begitu kamu bisa mulai pekerjaan kamu sekarang" kata Britsh.
"Sekarang pak?"tanya Denia tak percaya.
"Iya, pertama-tama tolong kamu buatkan aku kopi ya"kata Britsh dengan nada lembut sembari tersenyum membuat kaum hawa meronta-ronta. Bagi wanita manapun senyuman Britsh merupakan yang paling berharga. Kalau tersenyum eye smile nya langsung keluar. Tapi berbeda dari Denia, ia sangat profesional dalam bekerja. Tidak ada baginya terpesona pada rekan satu kerjanya, apalagi kalau terpesona sama bos nya.
"Baik pak, akan saya buatkan" kata Denia sembari berdiri dari kursinya sembari memberi hormat pada Britsh yang di balas anggukan oleh Britsh.
Sebelum Denia melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Britsh, ia berhenti dan membalikkan badannya.
"Maaf pak, kalau boleh saya ingin pamit sama rekan satu kerja saya. Karena tadi saya meninggalkannya bekerja sendirian"kata Denia.
"Baiklah" jawab Britsh.
Denia pun kembali melangkah menuju pintu ruang kerja Britsh untuk keluar dari ruangan itu, tak lupa ia mengunci kembali pintunya setelah berada di luar ruangan.
"Denia"sapa Jenita dengan membawa peralatan kebersihannya. Denia terkejut dengan suara Jenita yang ada di depannya.
"Urusan Kamu sudah selesai?"tanya Jenita.
"Maaf ya, aku meninggalkan kamu bekerja sendirian"kata Denia, merasa tidak enak hati meninggalkan Jenita bekerja sendirian.
"Tidak apa-apa, jadi bagaimana kamu akan kembali ke bagian kebersihan kan?"tanya Jenita. Denia menggeleng kepalanya dengan perasaan berat hati.
"Aku sepertinya tidak akan kembali bekerja di bagian Cleaning Service"kata Denia.
"Kenapa?"tanya Jenita dengan ekspresi wajah yang berubah seolah tidak ingin mendengar alasan yang dirinya sudah mengerahuinya.
"Aku di pindahkan menjadi asisten pak Britsh"kata Denia.
"Apa?"kata Jenita. Ia semakin tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, karena baginya itu hal yang menyakitkan. Denia baru sebulan bekerja sudah mendapatkan posisi yang enak. Sementara dirinya sudah 4 bulan tidak mendapatkan perubahan. Hanya sebagai Cleaninf Service. Rasa iri di hati Jenita pun semakin menjadi, pandangannya pada Denia menjadi berubah menjadi tidak bersahabat, namun Denia tidak menyadarinya sama sekali.
"Ya uda Jen, aku pamit dulu ya" kata Denia sembari memeluk Jenita. Jenita merapatkan mulutnya untuk menahan emosi yang meluap di hatinya. Denia melepaskan pelukannya dan melangkah pergi, sementara Jenita memandangnya dengan tatapan tidak menerima kenyataan.
__ADS_1
Denia kembali ke ruang kerja Britsh dengan membawa segelas kopi panas.
"Pak ini kopinya, saya letak di mana?"tanya Denia.
"Kamu letak disini saja"kata Britsh sembari menunjuk meja kerjanya.
"Baik pak"kata Denia sembari meletakkan kopi tersebut sesuai perintah Britsh.
"Kalau begitu saya permisi pak"kata Denia.
"Tunggu dulu donk" kata Britsh.
"Hah?"tanya Denia tidak mengerti kenapa Britsh menyuruhnya untuk tinggal.
"Apa bapak membutuhkan bantuan lain?"tanya Denia.
"Kamu tolong duduk di sana dan menunggu saya menghabiskan kopi saya"kata Britsh.
DEG....Seerrr....
Aliran darah Denia seolah mengalir cepat di dalam tubuhnya sehingga membuat tubuhnya menjadi panas. Tidak menyangka orang seperti Britsh menyuruhnya untuk menunggu sampai kopinya habis.
"Ba...baik pak"jawab Denia terbata-bata.
Meski Grace merasa tidak enak hati dan canggung namun ia juga tidak dapat menolak perintah Britsh. Denia segera melangkah ke sebuah kursi sofa yang berada di depan meja kerja Britsh. Sofa itu biasa di pakai oleh Britsh untuk beristirahat di kala lelah.
Denia sangat kelihatan sekali merasa canggung, ia menggertakkan kakinya berulang-ulang, sehingga Britsh menyadarinya.
"Apa kamu merasa canggung?"tanya Britsh.
"Ah?. Bukan begitu pak, hanya saja saya segan dan tidak terbiasa duduk seperti ini bersama bos perusahaan."kata Denia.
Britsh hanya tersenyum mendengar ucapan Denia tersebut, ia merasa lucu aja. Seseorang mengatakan kalau ia bos yang di segani. Ia tak pernah merasa, kalau ia seorang bos yang harus di segani di perusahaannya...
******
Bersambung...
Haloo semuanya, jangan lupa like dan commentnya ya. Terima kasih 🥰.
__ADS_1