Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 17 - Ketiduran


__ADS_3

Berbeda dengan Jenita yang selalu kagum dengan penampilan Britsh bagaimanapun keadaannya. Baginya Seorang Britsh tak pernah memiliki cacat. Degup jantungnya selalu terasa kencang dengan kehadiran Britsh matanya seolah dimanjakan oleh pemandangan yang sangat indah.


"Dia perfect sekali. Seandainya dia melihatku juga seperti aku melihatnya" kata Kenita dengan nada centilnya, kedua tangannya dilipat dan diletakkannya dipipinya. "Bagaimana pendapatmu tentang pak Britsh?" tambahnya.


Denia hanya menggelengkan kepalanya yang tak dapat berfikir apa-apa setelah ia mendengar perkataan yeng keluar dari mulut Jenita. Ia merasa kalau Jenita terlalu banyak berkhayal. Tak mau ikut dalam khayalan tingkat tinggi Jenita, Denia memeras sapu pel yang ada di tangannya dan meninggalkan Jenita yang masih pada khayalannya. Sapu pel mengayun dilantai setelah Denia memerasnya sampai kering.


Jujur saja sebenarnya ada rasa khawatir di batin Denia atas sikap Britsh barusan padanya. Seolah dirinya tak menganggap Denia ada dihadapannya. Bukan karena harapannya tinggi pada Britsh, hanya saja dirinya sempat beranggapan kalau Britsh itu orang baik yang bisa menghargai orang lain.


"Ah apa yang sedang aku fikirkan lagi" Denia memukul kepalanya dengan kuat tanpa ia sengaja yang membuatnya meringis kesakitan.


"Awwww...." teriaknya dengan sangat keras membuat seisi ruangan menjadi berisik, ditambah koridor tempat mereka mengepel terbilang sunyi sehingga suara akan menjadi lebih keras.


"Kamu kenapa?"tanya Jenita. Lamunannya spontan buyar setelah mendengar teriakan Denia.


"Aku tidak apa-apa". Kata Denia sambil menahan rasa sakit didahinya.


****


Malam harinya seluruh pegawai pulang, Denia masih baru bersiap-siap akan pulang karena hari ini dia mendapat tugas tambahan untuk membersihkan venue hotel yang akan dipakai untuk acara pernikahan besok. Sehingga ia pun pulang sudah larut, rencananya ia akan langsung ke Cafe karena tidak sempat untuk pulang kerumah untuk mandi. Denia berjalan di lorong perusahaan yang mulai tampak sepi karena para staff dan pegawai sudah pada berpulangan. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang memanggilnya. Ternyata orang yang memanggilnya adalah pak Seto, satpam perusahaan yang sudah paruh baya, usianya kisaran 50an dan mulai sakit-sakitan.

__ADS_1


"Dek belum pulang?'tanya Pak Seto.


"Ini mau pulang pak"kata Denia menjelaskan. Namun ia bertanya mengapa pak Seto memanggilnya tiba-tiba.


"Tolong antarkan paket ini keruangan pak Britsh. Katanya ini paket penting" kata Pak Seto sembari menyerahkan paket yang ada di tangannya pada Denia. Denia tak dapat menolak permintaan pak Seto karena tampaknya paket tersebut benar-benar penting seperti surat-surat penting ditambah lagi kondisi Pak Seto yang tak memungkinkan untuk berjalan keruangan Britsh yang letaknya memang lumayan jauh dari ruang satpam.


"Baik pak, akan saya antarkan"kata Denia. Tanpa fikir panjang lagi Denia segera melangkah kembali ke dalam perusahaan. Sebenarnya ia bisa saja menitipkan paket tersebut ke bagian informasi. Namun ia sangat bertanggung jawab dengan apa yang telah diperintahkan padanya. Denia melalui lift agar cepat sampai ke ruangan Britsh. Ia menekan tombol 20, karena ruangan Britsh dan beberapa Sraff kantor hotel ada dilantai paling puncak gedung Perusahaan. Tidak terbayangkan kalau lift mati dan harus menggunakan tangga untuk sampai kesana.


Denia tiba dilantai 20, ia mencari-cari ruangan Britsh karena tak ada pegawai yang bisa ditanyai olehnya. Para pegawai sudah pada pulang sejak sore tadi pukul 5 sore. Sebagian lampu juga sudah mati. Denia semakin ketakutan, karena sebagian ruangan tampak gelap seperti didalam film horror. Langkahnya sangat hati-hati.


"Apa pak Britsh sudah pulang ya?" tanya Denia dalam hatinya, ia berencana meletakkan Paket tersebut didalam ruangan Britsh ketika sudah menemukan kantornya. Salah satu lampu ruangan masih menyala, Denia dengan cepat mendekati ruangan tersebut untuk memastikan apakah itu ruangan Britsh atau tidak. Denia membaca papan nama di pintu ruangan yang lampunya masib menyala tersebut.


"Apa pak Britsh sudah pulang?, tapi mengapa ia tak mematikan lampunya?" Kata Denia. Ia memastikan lagi apakah didalam ada orang atau tidak dengan mengetuk pintu.


"Apa ia lupa mematikan lampunya?" Denia ragu-ragu untuk membuka pintu ruangan Britsh yang ia anggap sudah dikunci. Namun pintu tersebut tak terkunci, Denia memberanikan diri melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dan berencana akan meletakkan paket tersebut dimeja kerja Britsh kemudian langsung pergi. Denia meletakkan Paket tersebut di meja kerja Britsh dan melangkah pergi. Saat Denia ingin mematikan lampu, ia dikagetkan dengan suara isakan tangis dari dalam ruangan itu. Bulu kuduknya mulai merinding seolah bayangannya suara tersebut adalah hantu. Denia berencana untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut, namun langkahnya terhalang karena mendengar isakan tangis tersebut sepertinya suara Britsh. Langkah kakinya mengikuti arah tangisan tersebut.


Denia mendapatkan Britsh sedang tidur di sofa sambil ngigau, sepertinya Britsh bermimpi buruk. Perasaannya tak tega meninggalkan Britsh sendirian dalam kondisi seperti itu. Ia mengambil selimut yang sudah ada di lemari kecil dekat sofa lalu menyelimuti Britsh. Tiba-tiba tangan Denia di tarik dengan sangat kuat seolah Britsh tak ingin melepaskannya.


"Jangan pergi" gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi keringat. Tangannya terasa dingin. Denia dengan sigap memegang erat tangan Britsh sampai Britsh merasa tenang. Britsh pun tidur dengan tenang di tangan Denia. Tak sadar Denia juga tertidur pulas disamping Britsh. Ia melupakan pekerjaan part time nya.

__ADS_1


Britsh perlahan membuka matanya yang masih setengah sadar. Ia tak menyadari akan tidur sampai subuh. Ia melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Ia tersadar ada seseorang disampingnya sedang tertidur pulas. Britsh mengucek kedua matanya untuk memastikan dirinya sedang tidak bermimpi. Britsh spontan berdiri karena orang disampingnya adalah seorang wanita.


Dengan keras Britsh membangunkan Denia, meski ia masih belum tahu siapa wanita yang ada diruang kerjanya tersebut. Ia beranggapan kalau wanita tersebut adalah suruhan mamanya lagi.


*Flash back*


saat Britsh masih kuliah di Amerika, ibunya sengaja mengirim seorang wanita dari keluarga rekan bisnis nya untuk menggoda dirinya. Wanita tersebut tiba-tiba masuk keapartmennya dan tidur disampingnya dengan memakai dress tipis. Untungnya Britsh tersadar dan buru-buru mengusir wanita tersebut pergi. Begitu juga saat Britsh sedang rekreasi bersama teman kampusnya. Seseorang dikirim ibunya untuk kembali menggodanya.


*Flash off*


"Banguunnn.. " bentak Britsh. Suara Britsh mengguncang seluruh isi ruangan dilantai 20, untungnya tak ada lagi pegawai disana. Denia terbangun karena terkejut mendengar suara Britsh.


"Kamuuuuu!!!" tanya Britsh dengan tak percaya kalau wanita yang dihadapannya adalah Denia.


Wajah Denia berubah menjadi panik, dia tak seharusnya tidur diruangan Britsh apalagi sudah pagi. Sampai sampai ia tak pergi ke cafe dan tak mengabari sahabatnya untuk tidak masuk. Pandangan tajam mata Britsh seolah tembus sampai ke jantung Denia..


*****


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2