Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 15 - Restaurant Mewah


__ADS_3

Denia menggigit kukunya, kepalanya terus berfikir bagaimana harus membayar biayanya nanti. Sebenarnya, perutnya juga merasa sangat lapar, karena siang ini ia hanya memakan nasi dan telur.


Steven melihat gerak gerik Denia, sejak mereka masuk, dia sudah mengetahui, kalau Denia hanya memikirkan bagaimana cara membayar biaya makanan mereka. Steven membisikkan sesuatu kepada pelayan wanita, yang sejak tadi menunggu pesanan mereka.Wanita tersebut mengerti apa yang dimaksud oleh Steven. Pelayan itu pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Mbak saya be...lum" kata Denia. Ia masih belum memesan apapun, namun ia tidakk jadi memanggil pelayan tersebut karena menurutnya ia juga tak mampu membayar makanan itu nanti.


Tak beberapa lama pelayan wanita tadi datang kemeja mereka dibantu dengan karyawan lain dengan membawa banyak makanan. Pelayan tersebut menaruh makanan tersebut kemeja dimana Steven dan Denia duduk. Wajah Denia kebingungan melihat banyaknya makanan dimeja mereka karena menurutnya mereka tak memesan makanan sebanyak itu.


"Maaf mbak, sepertinya ini salah letak, kita masih belum memesan makanan" kata Denia.


"Kita tidak salah kok non, hari ini memang lagi ada event makan gratis, jadi siapapun yang datang ke restaurant kami hari ini, bisa makan sepuasnya secara gratis." jelas pelayan wanita tersebut. Mendengar kata gratis wajah Denia langsung berubah menjadi semringah.


Menurutnya, kapan lagi ada tempat makan enak secara gratis. Baginya memang tak masuk akal, apalagi zaman sekarang yang semakin susah untuk mendapatkan sesuatu yang gratis. Namun, meskipun demikian, ia tak mau ambil pusing bagaimana bisa mereka mendapat makanan dengan gratis hari ini.


"Ini benaran kan mbak?" tanya Denia mengulangi pertanyaannya, karena masih tak percaya.


"Iya non"kata pelayan tersebut sambil melirik ke arah Steven.


Setelah pelayan-pelayan tersebut selesai meletakkan makanan di meja, pelayan tersebut pamit sembari memberi hormat. Denia mulai mencicipi satu per satu hidangan dihadapan mereka.


"Wah, mimpi apa aku kemarin?" kata Denia. Ia masih tak mempercayai apa yang terjadi hari ini.


"Sepertinya kamu harus mentraktir aku lain kali"kata Steven menggoda Denia.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?"tanya Denia sembil menikmati makanan.


"Karena hari ini gratis" kata Steven.


"Hari ini adalah hari keberuntunganku, jadi aku mentraktir kamu ditempat yang kamu inginkan secara gratis"kata Denia.


"Kamu curang"kata Steven sambil tersenyum. Ia merasa senang melihat Denia yang bahagia.


"Tapi bagaimana bisa semua ini gratis?, sangat mustahil'kata Denia masih tak percaya. Mendengar perkataan Denia tersebut membuat Steven batuk.

__ADS_1


"Kamu kan sudah bilang kalau hari ini adalah hari keberuntunganmu"kata Steven.


"Benar juga" kata Denia. Ia pun menikmati seluruh makanan dengan bahagia sampai sampai dirinya sudah tak sanggup lagi untuk menghabiskan makanan tersebut karena kekenyangan. Ia menjadi malas untuk bergerak karena kenyang, Steven pura pura pamit kekamar mandi. Padahal ia menemui pelayan yang telah mengantar pesanan mereka.


Steven membayar semua tagihan makanan yang ia pesan untuk dirinya dan Denia. Setelah ia meninggalkan kasir, pelayan kasir tersebut terpesona pada Steven.


"Wanita itu sangat beruntung, ia menyiapkan semua ini untuk memberi pacarnya kejutan"kata Pelayan kasir.


Steven melihat Denia yang masih tak bisa bergerak karena kekenyangan. Bibirnya tersenyum menatap Denia.


"Ah sesak sekali, seharusnya aku tidak makan sebanyak itu"kata Denia pada dirinya sendiri.


"Apa kamu menyesal telah makan sebanyak itu?"tanya Steven.


"Siapa bilang, aku malah bersyukur bisa memakan semua makanan itu apa lagi gratis" kata Denia.


Ia terpaksa berbohong pada Steven karena ia tak ingin Steven mengejeknya. Meskipun demikian ia tak 100% berbohong, karena baginya mendapatkan makanan gratis adalah sesuatu yang langka.


"Kalau sudah selesai kita pulang"kata Steven. Wajahnya tersenyum sambil melangkah meninggalkan Denia yang masih mengatur pernafasannya karena kekenyangan.


Dalam perjalanan mereka pulang, Steven mencoba menggoda Denia dengan melajukan Sepeda motor lumayan kencang dan membuat Denia mual. Sesekali Steven sengaja menabrak lubang kecil yang ada dijalan. Denia merasa tambah sesak diperutnya karena menahan rasa mual.


"Apa dia dengan sengaja ingin membuatku mati?" gumam Denia didalam hatinya. Steven seolah tak mengetahui perasaan Denia.


Mereka tiba di depan rumah mereka. Denia sempoyongan turun dari sepeda motor Steven. Langkahnya terasa berat melangkah masuk kerumahnya. Ia tak menyadari kalau helm milik Steven masih dikepalanya.


"Apa kau akan membawa helmku masuk juga?" tanya Steven. Denia memegang kepalanya dan langsung membuka helm tersebut.


"Seharusnya kamu mengajakku masuk juga" canda Steven.


Denia mengembalikan helm milik Steven lalu melangkah masuk kerumahnya tanpa merespon ucapan Steven. Ia merasa seluruh dunia sudah bergoyang seperti gempa.


"Sepertinya dia sangat kekenyangan"ucap Steven sebelum masuk kerumahnya.

__ADS_1


****


Denia merasa mual mual dan perutnya terasa sakit. Padahal ia akan segera berangkat kerja di cafe.


"Seharusnya aku tidak rakus meskipun gratis" Keluh Denia sambil menahankan sakit didaerah perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Delia. Pakaiannya sudah rapi, karena ia ada janji dengan teman sekolahnya untuk party. Dress malam yang dikenakan Delia sangat terbuka, padahal angin malam sangat tidak baik hari ini. Denia sudah berulang kali menasehati adiknya tersebut, namun tak ada kesadaran juga dari adiknya. Kali ini Denia hanya diam melihat penampilan adiknya tersebut. Badannya terasa lemas karena gangguan pencernaan.


Delia memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengambil uang dari tas Denia yang jumlahnya tidak terlalu banyak.


"Kembalikan uang kakak" kata Denia dengan nada lemah.


"Cuma segini doank, pelit amat"kata Delia. Ia meninggalkan Denia yang masih lemah sendirian.


Teman-temannya sudah menunggunya diluar rumahnya. Steven yang kebetulan sedang berada diteras rumahnya melihat Delia bersama teman-temannya. Steven hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Delia. Beberapa saat Steven diluar, ia masih tak melihat Denia keluar dari dalam rumahnya, padahal biasanya Denia sudah berangkat kerja.


"Kenapa dia masih belum keluar juga?"tanya Steven dalam hatinya.


Steven memberanikan diri untuk masuk kerumah Denia. Ia melihat Denia dalam keadaan lemah dibawah kursi menahan rasa sakit.


"kamu kenapa?"tanya Steven khawatir.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit mual"kata Denia.


"Kenapa kamu makan terlalu banyak kalau kamu tidak bisa?" tanya Steven. "Meskipun gratis, kamu tak perlu sampai menghabiskan semuanya".


"Aku tak menghabiskannya, tadi masih banyak juga tersisa"kata Denia membela diri.


Makanan yang dipesan Steven memang jumlahnya sangat banyak, meskipun makanan itu tersisa, tapi porsi untuk berdua sudah terbilang cukup banyak.


"Apa dia tak sadar, kalau dialah yang membuat aku jadi seperti ini?"Gumam Denia didalam hatinya. Ia menyalahkan Steven karena mengendarai sepeda motornya dengan tidak hati-hati. Ia tak tahu kalau Steven sengaja melakukannya untuk menggoda Denia.


"Apa dirumahmu ada persediaan obat?" tanya Steven.

__ADS_1


"Tidak ada"kata Denia.


"Akan aku beli bentar" Steven hendak beranjak dari tempatnya untuk membeli obat, namun Denia menahannya. Tangan Denia menyentuh tangan Steven.


__ADS_2