
Dalam perjalanannya pulang, Steven masih memikirkan tentang dimana sebenarnya Denia berada sejak kemarin. Mengapa ia belum pulang hingga sekarang, begitulah pertanyaan yang terlintas di fikiran Steven saat ini. Perlahan-lahan ia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
*****
Jam istirahat pun telah berlangsung selama 5 menit, namun Denia masih tetap berada di ruangan Pegawai Cleaning Service dalam lamunannya. Jenita menghampiri Denia, karena sudah sejak mulai istirahat Denia sudah seperti itu.
"Nia, kamu kenapa sich?, akhir-akhir ini kamu sering melamun"kata Jenita.
"Hah" kata Denia. Ekspresi wajahnya tampak kebingungan, ia tak menyadari kalau Jenita mengamatinya sejak tadi.
"Kamu bilang kamu mau makan di kantin karena kamu tidak bawa bekal hari ini" kata Jenita.
"I...iya" kata Denia singkat.
Jenita mengetahui kalau Denia tak pulang ke rumahnya sejak kemarin namun ia tak tahu kalau Denia tidur di ruang kerja Britsh. Mereka berjalan menuju kantin perusahaan.
"Kalau aku makan di kantin terus, kapan aku bisa nabung untuk membayar sisa SPP Delia" kata Denia dalam hatinya. Tanggal gajian pertamanya masih tersisa 4 hari lagi sejak ia bekerja di hotel Sentosa. Ia khawatir memikirkan bagaimana cara membayar sisa uang SPP adiknya yang dianggapnya setengah lagi dari jumlah tunggakan yang telah di beri tahu oleh pihak Sekolah. Ia masih tak tahu kalau uang SPP yang setengahnya lagi sudah dihabiskan adiknya lagi untuk bersenang-senang.
****
Denia sedang menunggu bis yang lewat di sekitaran halte dekat perusahaan. Bis pun tak lama langsung datang dan Denia pun menaikinya dan duduk di kursi ke dua dari belakang yang masih kosong. Ia menyandarkan kepalanya pada pintu kaca bis seolah untuk meringankan beban berat di kepalanya. Denia hampir melewatkan halte bis menuju rumahnya.
"Pinggir pak"teriak Denia setelah ia melihat nama Halte untuk menuju rumahnya. Bis pun berhenti dengan mendadak karena sudah melewati sedikit batas halte tersebut. Bis tersebut melaju setelah Denia turun, untungnya para penumpang di dalam bis tidak memarahinya karena mendadak memberhentikan bis. Langkah kakinya terasa berat untuk berjalan ke rumahnya karena beban berat di kepalanya. Seseorang tiba-tiba mengikutinya dari belakang, namun Denia tak menyadarinya.
"Dia naif sekali, lihatlah jalannya itu sudah seperti orang yang tak punya harapan hidup saja" kata Steven mengoceh dengan pelan. Ternyata Steven adalah orang yang mengikutinya dari belakang. Kedua lengannya dia letakkan di kantong celana treningnya. Ia mempercepat langkahnya sehingga menyeimbangi langkah Denia.
"Permisi nona" kata Steven yang membuat Denia kaget.
__ADS_1
"Kamu ini, selalu saja muncul tiba-tiba" kata Denia.
"Kamu yang jalan sambil melamun"kata Steven.
Karena banyak fikiran di kepala Denia membuatnya tidak menyadari kalau Steven sudah mengikutinya sejak ia turun dari bis, karena secara kebetulan Steven memang sedang ada urusan yang lokasinya tak jauh dari halte bis.
"Kalau aku penculik, uda aku culik kamu dari tadi"kata Steven menggoda Denia agar tak terlalu serius.
Denia tak menggubris semua perkataan Steven, ia hanya fokus pada langkahnya.
" Kemarin kamu kenapa tidak pulang?"tanya Steven. Langkah Denia terhenti setelah mendengar pertanyaan dari Steven. Bertanya-tanya di dalam hatinya bagaiman bisa Steven mengetahui kalau dirinya tak pulang kerumahnya. "Bagaimana kamu bisa tahu?"tanya Denia sambil memandang ke arah Steven.
"Dari tadi kamu berjalan sangat serius, kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Steven menggoda Denia, ia melangkah maju yang sempat terhenti sesaat karena Denia berhenti, tangannya masih diletakkannya di saku celananya. Tak terima dengan perlakuan Steven tersebut, Denia pun mengejar Steven agar memberitahunya siapa yang telah memberi tahunya tidak pulang.
"Katakan padaku" perintah Denia dengan tatapan seriusnya. Steven pun tak kuasa melihat tatapan serius Denia, akhirnya ia memberitahukan siapa yang memberitahu dia jika Denia tidak pulang.
"Adikmu" kata Steven.
"Bagaimana kamu bisa bertemu adikku?"tanya Denia dengan penasaran.
"Kita kan tetanggaan" Kata Steven. namun Denia menyadari kalau Steven sedang bercanda terhadapnya sehingga ia mengulangi pertanyaannya bagaimana bisa Steven dan adiknya bertemu.
"Adikmu yang datang ke rumahku minta makan kemarin, tapi bukannya seharusnya dia sudah ke sekolah ya" kata Steven. Ia tak mengetahui kalau Delia kemarin tak masuk sekolah karena di skors.
"Maksud kamu apa?" Denia tak mengerti maksud perkataan Steven tersebut. Steven pun akhirnya menceritakan kalau Delia datang ke rumahnya pagi untuk minta sarapan. Ia sama sekali tak tahu alasan Delia tak berangkat ke sekolah, sehingga ia dengan santainya menceritakan pada Denia. Akan tetapi, perkataan Steven tersebut membuat Denia semakin kesal pada adiknya dan mempercepat langkahnya sampai ke rumahnya.
Steven tak mengetahui apa yang membuat Denia kesal dengan perkataannya sehingga Denia buru-buru untuk pulang, ia masih berdiri di pinggir jalan di dekat simpang rumah kontrakan mereka.
__ADS_1
****
Denia mendapatkan adik semata wayangnya tersebut sedang asyik main game dari ponselnya di kursi tamu. Matanya tampak tersulut amarah melihat adiknya tersebut. Kali ini Denia tak bisa menahan emosinya.
"Delia, kenapa kamu tidak sekolah?" kata Denia. Delia asyik memainkan game dari ponselnya tanpa menghiraukan Denia yang sudah sangat emosi. Ia masih tak menyadari kalau kakaknya tersebut sudah sangat marah.
"Kenapa kamu tak sekolah kemarin?"tanya Denia lagi dengan nada yang meninggi, kali ini Delia merespon pertanyaan kakaknya tersebut dengan kebingungan. Ia memejemkan matanya dan menggigit bibirnya seolah berfikir alasan apa yang akan ia berikan pada Denia. Namun, sikapnya tersebut hanya sementara karena ia memang tak takut dengan kakaknya.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku tidak sekolah?"tanya Delia.
"Kamu tidak perlu tahu, jawab saja pertanyaan kakak, kenapa kamu tidak berangkat ke sekolah kemarin?" kata Denia meminta penjelasan.
"Pasti dari tetangga depan itu kan, dia terlalu jabir juga ternyata"kata Delia.
"katakan saja kenapa kamu tak kesekolah kemarin" kata Denia.
"Aku di skors"kata Delia dengan santainya. Tak pernah terfikirkan oleh Denia kalau adiknya akan diskors, karena sesuai perjanjian dengan pihak sekolah kalau uang SPP dibayar setengah dari sisa tunggakan yang telah di beri tahu, maka tidak ada penskorsan sampai Denia membayar sisanya setelah gajian.
"Kenapa kamu sampai di skors?, jangan bilang uang untuk SPP kemarin kamu habiskan"kata Denia. Berharap jawaban Delia adalah tidak begitulah fikiran Denia, namun harapannya sia-sia karena Delia menjawab kalau dirinya di skors karena tidak membayarkan setengah uang SPP ke sekolahnya.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku tak ingin sekolah"kata Delia.
"Kalau kamu tidak sekolah, kamu mau jadi apa?"tanya Denia.
"Itu urusanku, kamu tak usah ikut campur mau jadi apa aku nanti" kata Delia.
Bagai teriris pisau rasanya hati Denia mendengar perkataan adiknya tersebut. Ia tak menyangka kalau adiknya akan berhenti dari sekolahnya secepat ini.Harapannya untuk menyekolahkan adiknya sampai sarjana hanyalah sia-sia.
__ADS_1
*****
Bersambung....