
Hari ini tepat tanggal 20 September 2020, Denia memperingati 4 tahun kematian orang tuanya. Denia mengambil cuti sehari untuk mendatangi makam ayah dan ibunya. Dia datang, tanpa di temani oleh Delia yang merupakan adik Denia. Hal itu dikarenakan Delia mengatakan sedang mengikuti ujian sekolah.
Denia menangis di depan pusaka kedua orang tuanya, yang meninggal 4 tahun silam karena Peristiwa kecelakaan mobil yang mereka tumpangi. Denia teringat kembali peristiwa kecelakaan 4 tahun silam.
Saat itu Pak Doris mengajak istrinya, Denia dan Delia menuju ke taman bermain yang berada dipusat kota seperti biasa yang dilakukan merrka setiap pak Doris pulang kerja. Mereka menggunakan mobil mereka yang disetir langsung oleh Pak Doris. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba rem mobil mengalami blong, sehingga kecelakaan tidak dapat dihindari. Pak Doris menabrak pembatas jalan, dan setir tak dapat dikendalikan. Sebelum pak Doris menabrak pembatas jalan, Ibu Rena masih sempat menyuruh Denia membawa Delia untuk loncat keluar dari pintu mobil belakang. Awalnya Denia merasa takut, karena mobil masih dalam keadaan kencang. Untungnya Denia dan Delia terlempar didaerah tumpukan rumput, sehingga mereka hanya mengalami luka ringan.
Tak jauh dari lokasi mereka loncat, mobil Pak Doris menabrak pembatas jalan dan menabrak truck yang berada didepan mereka, hingga menyebabkan mobil terjatuh ke jurang. Denia menemukan kejanggalan pada kematian kedua orang tuanya tersebut.Di mana rem mendadak mengalami blong, dan Denia menemukan sebuah recording di mobil ayahnya saat mobil dan mayat kedua orang tuanya di evakuasi.
Namun, rekaman itu mendadak hilang saat orang tuanya telah di evakuasi. Denia masih tidak bisa menemukan alat perekam itu sampai sekarang. Denia selalu mengingat peristiwa kecelakaan tersebut, dan setiap mengingatnya Denia selalu trauma dan menangis.
Sebelum kedua orang tuanya meninggal, mereka hidup dalam serba berkecukupan. Mereka memiliki sebuah mobil dan bahkan mempunyai rumah yang terbilang besar karena terletak di Perumahan elite. Saat itu Ayah Denia bekerja disalah satu Perusahaan dibidang perhotelan dengan jabatan Manajer.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, rumah mereka yang lama terpaksa harus dijual untuk membiayai sekolah Delia dan kebutuhan mereka sehari-hari. Saat itu Denia belum memiliki pekerjaan, karena masih kuliah di semester akhir jurusan Sekretaris, namun harus menghentikan kuliahnya dikarenakan mengalah untuk biaya sekolah Delia.
Denia tidak bisa menyesali semua yang terjadi pada dirinya. Karena dia berharap agar Delia bisa menggantikannya, dalam menempuh pendidikan sampai ke Perguruan Tinggi. Denia pun terpaksa harus menjual rumah milik peninggalan orang tuanya, dan pindah ke rumah kontrakan yang sangat kecil. Meski sekarang Denia sudah bekerja di dua tempat. Sebagai cleaning servis dipagi hari di salah satu perusahaan dan part time pada malam hari disalah satu cafe. Namun, gaji Denia tersebut, tidak cukup untuk membiayai kehidupan dirinya dan Delia.
Denia sering mengambil simpanan dari tabungannya, sisa penjualan rumah mereka yang jumlahnya sudah tidak banyak lagi untuk menutupi kekurangan pengeluaran.
Meski dahulu orang tua Denia masih hidup, namun Denia tidak pernah di ajarkan untuk hidup manja dan bermalas-malasan. Sehingga, hingga saat ini Denia sangat rajin dan tidak malu mengerjakan apapun.
Berbeda dengan Delia, yang saat itu masih berusia 14 tahun, sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, hingga saat ini pun masih manja, meskipun mereka hidup serba berkekurangan. Denia selalu menuruti keinginan adik kesayangannya itu, kalau tidak terkadang Delia akan mengancam untuk tidak sekolah. Bagaimana pun Delia adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.
Air mata Denia mengalir di depan pusaka kedua orang tuanya. Setelah 2 jam Denia bercerita, Denia berpamitan kepada ayah dan ibunya dan barjanji akan sering berkunjung ke makam mereka.
******
DEG...
__ADS_1
Langkah kaki Denia terhenti saat berjalan menuju rumahnya. Denia menyadari kalau ada seseorang dibelakang yang sedang mengikutinya. Denia menoleh kebelakang dengan sedikit berkidik. Namun, saat ia menolej ke belakang, ia tidak melihat ada orang di belakangnya. Sehingga, Denia melanjutkan langkahnya, dan berpikir kalau itu hanya perasaannya saja.
Duaaaarr...
Denia sangat terkejut melihat kemunculan Nindi yang tiba-tiba dari belakang dan mengagetkannya.
"Kamu keterlaluan sekali, hampir aja jantungku copot" kata Denia sambil mencoba mengatur nafasnya yang hampir keluar.
" Kamu terlalu fokus sekali berjalan, Kamu habis dari makam mama dan papa kamu ya?" tanya Nindi yang sudah mengetahui rutinitas Denia setiap tanggal 20 September. Denia hanya mengangguk membenarkan perkataan Nindi, dan masih mengatur pernafasannya.
Nindi mengatakan kalau dirinya sudah sejak tadi memperhatikan tingkah Denia, sejak Nindi turun di halte bus yang baru pulang dari pasar dan membawa beberapa belanjaan untuk dimasak. Bahkan, saat Nindi menyapa Denia, Denia tidak menghiraukannya. Sehingga muncullah ide Nindi untuk mengagetkan Denia.
Denia memukul pundak Nindi setelah nafasnya kembali normal.
"Pantesan tadi aku merasa seperti ada yang mengikutiku, tetapi saat aku menoleh, aku tidak melihat siapa pun"kata Denia.
"Bagaimana kalau yang mengikuti kamu perampok atau pencuri?, kamu pasti sudah menjadi korban mereka" ucap Nindi.
****
"Kak bagi uang donk" bentak Delia dengan paksa kepada kakaknya. Delia terlihat berpakaian cantik, bersiap-siap untuk keluar menemui teman-temannya.
Denia tidak menghiraukan adiknya tersebut dan fokus memasak didapur.
Triiiing.
Delia melemparkan piring kaca kearah Denia, sehingga membuat Denia terkejut dan hampir menjatuhkan sendok goreng yang di pegangnya. Untungnya pecahan piring tersebut tidak mengenai dirinya.
__ADS_1
"Aku minta uang" Teriak Delia lagi membentak kakaknya. Denia memberikan nasihat kepada adiknya tersebut agar jangan selalu meminta uang untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Namun Delia tidak menghiraukan nasihat kakaknya tersebut.
"Kakak tidak punya uang sekarang" kata Denia.
Delia tidak percaya akan perkataan kakaknya tersebut dan mengatakan kalau kakaknya masih menyimpan uang dari hasil penjualan rumah lama mereka. Namun Denia mengatakan kalau uang itu untuk biaya sekolah Delia. Delia memang tidak akan pernah menyerah untuk meminta uang kepada kakaknya sampai kakaknya memberikan uang kepadanya. Alasannya selalu tidak ingin ke sekolah kalau Denia tidak memberikannya uang.
Denia pun mengalah kepada adiknya tersebut dan memberikannya sejumlah uang. Saat Delia berjalan keluar dari rumahnya, dirinya berpapasan dengan Nindi yang hendak masuk kerumah mereka. Nindi memandangi Delia dari atas sampai kebawah dengan pandangan sinisnya. Dirinya beranggapan kalau Delia pasti meminta uang lagi dari Denia. Delia mengarahkan Jari telunjuknya ke wajah Nindy.
"Apa lihat-lihat?" tanya Delia dengan nada marah.
Nindi langsung masuk kedalam rumah dan menemui Denia yang sedang membersihkan pecahan kaca piring yang dipecahkan adiknya tadi.
"Ini pasti kelakuan adik kesayanganmu itu lagi, kan?" tanya Nindi yang sudah biasa melihat hal tersebut terjadi kalau datang kerumah Denia.
"Aku sudah berapa kali mengatakan padamu untuk tidak terlalu memanjakan adikmu itu, ini akibatnya" celoteh Nindi yang merasa kasihan kepada sahabatnya itu, karena perlakuan adiknya yang tidak pernah merasakan perjuangan Denia untuk dirinya, namun Denia hanya tersenyum mendengar celotehan Nindi, dan menanyakan ada apa dirinya datang ke rumahnya.
Nindi mengatakan kalau tidak pernah ada alasan dirinya untuk berkunjung kerumah sahabatnya itu. Memang Nindi dan Denia sangat dekat, hubungan mereka seperti saudara sendiri tanpa adanya pemisah bagi mereka. kapan pun Nindi ingin datang kerumah Denia, dia tinggal datang saja begitu juga sebaliknya. Denia hanya bercanda menanyakan alasan Nindi datang kerumahnya.
Tring...
Ponsel Denia terdengar berdering dari arah ruang tamu. Denia berlari kearah tempat dia meletakkan ponselnya. Denia melihat panggilan masuk dengan nomor baru dan langsung mengangkatnya, menduga-duga kalau panggilan penting.
"Halo, iya pak?" Terdengar suara Denia hanya menjawab singkat pertanyaan dari Pak Dedi, Bagian SPP di sekolah Delia. Pak Dedi menjelaskan kalau Delia sudah menunggak uang SPP selama 6 bulan.
"Apa?" Denia sangat terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya,kemudian langsung menjatuhkan ponselnya di kursi, sebelum pak Dedi mengakhiri panggilannya.
******
__ADS_1
Bersambung.
Selamat Membaca Episode Selanjutnya ya😉