
Semua karyawan kebersihan saling bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga ruangan ribut sampai ibu Selia tiba. Melihat kedatangan ibu Selia dengan kayu dilengannya membuat semua pegawai kebersihan tak berkutik.
"Selamat siang" ucap ibu Selia
"Siang bu" jawab seluruh karyawan.
"Hari ini saya dapat laporan dari tamu dikamar melati yang merupakan kamar suit room dan tamu penting kita. Bahwa dia kehilangan jam tangannya" kata ibu Selia.
Mendengar perkataan ibu Selia tersebut, semua karyawan menjadi ribut dan bertanya-tanya siapa yang membersihkan ruangan tersebut.
"Nia bukannya kamu tadi yang bersihkan ruangan itu?"tanya Jenita pada Denia dengan berbisik.
"Iya, tetapi saya tidak mengambil apa-apa"kata Denia dengan nada berbisik.
"Saya tidak suka kalau karyawan saya adalah seorang pencuri. Denia!
"Iya bu"jawab Denia kaget.
"Kamu tadi kan yang bersihkan kamar itu?" kata ibu Selia dengan keras sehingga semua katyawan memandang kearah Denia.
"Iya bu, tetapi saya tidak mengambil apa-apa dari kamar itu"kata Denia.
"Saya tidak mau tahu, saya dapat laporan setelah kamar itu kamu bersihkan"kata ibu Selia.
Ibu Selia terkenal sangat tegas dan kejam, apalagi kalau sampai karyawannya mencuri. Denia yang merasa sebagai tersangka tak bisa berbuat apa-apa dengan tuduhan tersebut ditambah dia yang membersihkan ruangan itu. Keringatnya mulai turun dikeningnya. Denia meminta izin pada ibu Selia ubtuk mencari jam tersebut. Ibu Selia mengizinkannya,namun dia memberikan syarat jika jam tersebut tidak ditemukan dalam waktu 2x24 jam, dia akan dipecat dan mengganti jam tersebut.
Denia segera keluar dari barisan untuk mencari jam tersebut. Pertama dia mencari kepembuangan sampah. Letaknya dibelakang hotel, semua sampah hotel dibuang kesana. Denia merasa bingung bagaimana mencarinya ditumpukan sampah yang seperti gunung tersebut. Namun dia tak menyerah untuk mencarinya karena takut dipecat. Selain dipecat, dia merasa bertanggung jawab karena dia yang membersihkan ruangan itu.
Denia membuka satu per satu tumpukan sampah tersebut, sampai dia tak sadar tangannya terluka. Tangannya mengenai kaca di antara tumpukan sampah. Setelah kurang lebih 1 jam Denia mencari, akhirnya dia menyerah karena tak menemukannya meski sudah bolak balik membongkar semua sampah.
Denia berjalan menuju kamar melati, di mana tamu spesial itu tinggal. dia berencana untuk meminta maaf karena tak bisa menemukan jam tersebut. Langkahnya terasa berat dan fikirannya tidak karuan. dia membayangkan kalau dirinya dipecat akan susah mencari pekerjaan lagi. dia pun tak bisa membiayai sekolah adiknya.
Sesampainya dikamar melati, ternyata Denia tak menemukan tamu yang tinggal dikamar tersebut. Karena pintu terkunci, Denia sudah menekan bel berulang namun tak ada balasan dari dalam. Denia kembali keruangan para Cleaning Servise.
"Bagaimana nia, apa sudah bertemu"tanya Jenita cemas.
Denia hanya menggelengkan kepalanya lemas sehingga membuat Jenita semakin khawatir. Jenita sejak tadi menunggu Denia karena Denia lama mencari jam sampai melewatkan makan siang dan istirahat mereka.
__ADS_1
"Coba kamu temui tamu itu dikamarnya, lalu kamu minta maaf" kata Jenita memberi saran.
"Sudah tetapi tamunya tidak ada dikamar"kata Denia.
"Wah ribet juga ya, mana kamu diberi waktu cuma 2x24 jam oleh ibu Selia"kata Jenita.
Denia hanya diam mendengar perkataan teman satu kerjanya itu, dia sendiri juga sangat khawatir memikirkan apa yang akan terjadi jika jam tangan tersebut tidak ditemukan.
"Apa kamu tahu siapa yang menginap dikamar itu?"tanya Denia.
"Tidak tahu, bagaimana kalau kamu tanya dibagian informasi?"kata Jenita
"Percuma, mereka tidak akan memberi tahu"kata Denia.
"Benar juga"kata Jenita.
Memang setiap tamu yang menginap dihotel Sentosa adalah private, tidak akan ada orang yang diberi tahu oleh bagian informasi meski dipaksa, kecuali keluarga atau polisi.
****
Denia melayani pembeli dengan tak konsentrasi, Meskipun begitu dia bisa melayani semua pembeli sampai cafe tutup. Setelah cafe akan ditutup, Steven masuk kedalam tanpa sepengetahuan Denia. Karena Denia sedang fokus menghitung pemasukan sebelum disetorkan. Denia merasa ada yang datang setelah langkah Steven mendekat.
"maaf kita sudah tutup"kata Denia. Mata Denia tertuju pada orang yang datang dihadapannya. dia terkejut karena Steven yang datang.
"Apa saya juga tidak bisa beli?" tanya Steven.
"Kamu mau pesan apa?"tanya Denia.
"Iced Cappuchino"kata Steven.
Denia hanya diam mendengar Steven, konsentrasi nya masih pada jam yang hilang. Denia memberikan Steven Ice Cappuchino.
"Nih"kata Denia.
"kamu mengapa?"tanya Steven.
"Hah?"tanya Denia.
__ADS_1
Denia terlihat linglung, dia tak tahu kalau Steven sudah ada diluar sejak tadi memperhatikannya, yang dia tahu kalau Steven baru saja datang setelah cafe tutup.
"Apa kamu bisa bekerja dengan konsentrasi terbagi begitu?"tanya Steven.
"Apa sangat jelas?"tanya Denia.
"Wajahmu sangat kelihatan jelas, kalau kamu butuh uang banyak" canda Steven.
Mendengar perkataan Steven tersebut Denia merasa kesal. dia mengkerutkan wajahnya karena dia menganggap kalau Steven hanya sok tahu.
"Aku sudah sejak tadi memperhatikan kamu"kata Steven.
"Sudah berapa lama kamu di sini?"tanya Denia.
"mungkin 4 jam"kata Steven.
Itu artinya Steven di sana sudah sejak Denia masuk kerja. Ekspresi Denia menjadi bertambah kesal, karena Steven sudah sejak tadi di sana namun tidak datang membantunya.
"Kamu sudah di sini sejak tadi tetapi tidak membantuku"kata Denia.
"Aku berencana membantu, tetapi aku tidak mau mengganggu konsentrasimu, bisa-bisa kamu menerkamku"kata Steven.
Denia bertambah kesal dengan perkataan steven tersebut yang menganggapnya seolah-olah macan yang bisa menerkam orang. dia tahu kalau Steven datang hanya untuk menggodanya saja. Setelah menutup seluruh cafe, Denia dan Steven pulang. Dalam perjalanan mereka berbicara. Steven menanyakan tentang keadaan adik Denia. Denia mengatakan kalau adiknya baik-baik saja. Namun lagi-lagi Denia terdiam memikirkan masalah yang terjadi ditempat kerjanya.
"kamu diam lagi, seolah kamu sedang punya utang triliunan"kata Steven.
"mungkin saja"kata Denia. dia mempercepat langkahnya untuk sampai dirumahnya karena mereka sudah hampir sampai, Steven tertinggal dibelakangnya. Steven hanya diam mendengar perkataan Denia. Denia masuk kerumahnya dan
mendapatkan adiknya sudah tertidur pulas di kamarnya.
****
Denia masuk kerja dengan sangat lemas dan tak bersemangat fikirannya masih tertuju pada jam tangan yang hilang. Setelah mengganti pakaian kerja, Denia mendatangi kamar melati untuk menemui pemilik jam. Akhirnya Denia bertemu dengan pemilik jam tersebut dan dia terkejut karena orang yang menginap dikamar melati adalah Britsh sang Pemilik Hotel.
****
Bersambung..
__ADS_1