Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 22 - Misteri Beasiswa


__ADS_3

Ibu Sofia tak percaya begitu saja dengan perkataan putra semata wayangnya itu. Dia berpikir kalau anaknya sengaja berpoyah-poyah untuk menghabiskan uang di tabungannya, apalagi anaknya tersebut sudah lama tidak pulang ke rumah.


"Kamu pikir mama akan percaya padamu?"kata Ibu Sofia.


"Bener ma, ada keperluan mendesak yang penting sekali"kata Steven. dia mencoba memohon kepada ibunya agar kartu Kreditnya di aktifkan kembali.


"Keperluan mendesak apa?"tanya ibu Sofia ingin tahu.


"Aaaa..."Steven bingung memberikan jawaban apa pada ibunya itu. Ia masih belum memikirkan alasan yang tepat, agar ibunya mengaktifkan kembali kartu kreditnya.


"Kenapa kamu tidak bisa menjawab?, mama tahu kamu pasti pakai uang kamu untuk berpoyah-poyah diluar sana. Apa kamu punya pacar?"tanya Ibu Sofia curiga jika putranya itu menghabiskan uang bersama pacarnya.


"Tidak ada, Ma"jawab Steven


"Kamu akan mendapatkan kartu kredit kamu kalau kamu mau bergabung di grup Sentosa dan kembali ke rumah"Kata Ibu Sofia mengancam Steven.


"Mama tega pada anak kesayangan mama ini?"kata Steven hampir merengek.


"Kamu sendiri yang ingin pergi dari rumah, seharusnya kamu bisa memikirkan kedepannya, apa efek kamu berbuat begini"kata Ibu Sofia.


"ma, bagaimana bisa mama membiarkan aku hidup tanpa kartu kreditku?" tanya Steven.


"Makanya mama bilang kamu kembali ke rumah dan bekerjalah di grup Sentosa, agar kamu bisa mendapatkan kartu kreditmu kembali"ancam Ibu sofia kembali agar putra satu-satunya itu mau kembali. Namun, ancaman ibu sofia tidak dituruti oleh Steven. dia malah mematikan panggilan dari ibunya, membuat Ibu Sofia kehabisan kata-kata.


"Dasar anak ini, berani sekali dia mematikan telepon dari ibunya, padahal aku kan belum selesai bicara"kata Ibu Sofia. dia sedikit marah dengan kelakuan anaknya tersebut, meskipun dia juga merasa khawatir dengan keadaan anaknya tanpa kartu kredit tersebut.


"Mama, benar-benar tega padaku"kata Steven dengan menghela nafas, setelah menekan tombol merah di layar ponselnya. wajahnya tampak kebingungan, karena tidak tahu bagaimana harus menjalani hidupnya tanpa memegang uang cash dan kartu kredit. Steven memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan uang untuk membiayai hidupnya.


dia menggaruk kepalanya sebelum melangkah pergi ke tempat sepeda motornya berada.

__ADS_1


****


Denia menceritakan tentang uang sekolah adiknya kepada Nindy di cafe. Di mana uang SPP adiknya tiba-tiba lunas karena katanya adiknya mendapatkan beasiswa dari sekolah.


"Yang benar kamu Nia?"tanya Nindy tak percaya setelah mendengarkan cerita dari sahabatnya itu.


Wajahnya tampak terkejut dan matanya terbelalak, menurutnya Delia bukan anak yang pintar apalagi anak yang baik di sekolahnya. Bagaimana bisa dia mendapatkan beasiswa secara mendadak.


"Iya, tetapi aku tidak percaya sepenuhnya kalau adikku mendapat beasiswa. Aku pikir kamu yang membayarnya"kata Denia.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu Nia, seandainya aku punya, aku juga akan memberi kamu uang itu. tetapi kamu tahu sendiri aku baru membawa ibuku kontrol"kata Nindy.


"Iya sich, terus siapa ya yang memberi uang itu?, aku merasa tidak enak hati"kata Denia.


"Mungkin saja adikmu memang benar mendapat beasiswa"kata Nindy sedikit ragu.


"Tidak mungkin, karena selama dia sekolah, baru kali ini dia mendapatkan beasiswa. Dan di sekolahnya beasiswa hanya untuk siswa yang berprestasi sementara adikku tidak pernah berprestasi"kata Denia.


"Kalau adikku mendapatkan beasiswa, mereka tidak akan menskorsnya sebelumnya"kata Denia.


"Bagaimanapun, kamu harus bersyukur karena adikmu tidak jadi di skors"kata Nindy menghibur Denia.


Ia sich, tetapi aku juga merasa tidak enak hati, menerima bantuan begitu."kata Denia.


"Bagaimana kalau kamu tanya ke pihak sekolah adikmu saja, siapa yang memberi uang itu"kata Denia.


"Mereka hanya mengatakan uang itu adalah beasiswa, aku tidak mungkin menanyakan orang yang memberi uang tersebut"kata Denia.


Denia dan Nindy terlihat memandang satu dengan yang lainnya, karena tidak dapat memecahkan masalah tersebut, mereka tidak bisa menebak-nebak siapa yang sudah memberi uang itu dengan cuma-cuma.

__ADS_1


*****


Denia pagi ini hendak berangkat ke grup sentosa, dia sudah berpakaian rapi. Kali ini dia memakai rok selutut yang sedikit longgar, dengan kemeja berwarna putih. Rambut sebahunya diikatnya ke belakang agar tidak berantakan. Steven menghampiri Denia, ketika dia berjalan dengan langkah yang lumayan terburu-buru karena takut telat.


"Denia!!!" panggil Steven.


"Ada apa Stev, aku buru-buru, sudah telat"kata Denia dengan nada yang seperti di kejar waktu.


"Kalau kamu takut terlambat, biar aku antar aja"kata Steven menawarkan. Denia tidak menolak tawaran Steven, karena menurutnya ada hal penting yang ingin disampaikan Steven padanya. Denia menunggu Steven mengambil sepeda motornya.


Tak lama kemudian, Steven datang menaiki sepeda motornya dan menghampirinya.


"Nih pakai"kata Steven sambil memberikan sebuah helm kepada Denia. Denia segera memakai helm tersebut dan naik ke motor Steven. dia duduk menyamping karena memakai rok.Tangannya melingkar dipinggang Steven karena takut jatuh. Steven yang melihat tangan Denia di pinggangnya merasa ada getaran yang berbeda di hatinya. Sedikit merasa canggung, dan menahan nafasnya sejenak sebelum ia menghembuskannya dengan kencang.


"Kamu tadi mau ngomong apa?"tanya Denia. Steven tak bisa menjawab pertanyaan Denia karena merasa canggung, tiba-tiba suasananya menjadi berubah, dia menjadi tak ingin mengatakan apa yang ingin dikatakannya tadi. Tangan Denia semakin menekan perutnya, membuatnya semakin grogi.


"Ah... nanti saja"kata Steven. dia terus memperhatikan ke arah tangan Denia yang melingkar di perutnya.


"Kamu aneh sekali, tadi sepertinya ada hal yang penting yang ingin kamu katakan, tapi sekarang tidak jadi"kata Denia.


"Nanti saja, tidak terlalu penting kok"kata Steven sambil melihat tangan Denia.Denia tak menyadari perasaan aneh di hati Steven tersebut, dia hanya fokus melihat jalan di sekitarnya. Pemandangan kota yang sangat ramai dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang.


Steven melajukan sepeda motornya sambil tersenyum. Setibanya di Perusahaan grup Sentosa, Steven menghentikan sepeda motornya secara mendadak, sehingga membuat Denia kaget dan terdorong ke punggungnya.


"Kamu apa-apaan sich?, mengapa bisa mengerem mendadak?. Apa kamu mau buat kita celaka?"tanya Denia. Steven tak bersuara, dia hanya merasakan getarannya semakin bertambah ketika Denia menempel di Punggungnya. Denia turun sambil mengomel.


"Ni helm kamu"kata Denia kemudian melangkah pergi.


"Dia mengapa muda sekali marah jika bersamaku?"tanya Steven sambil melihat kepergian Denia, dan hanya melihat punggung Denia. Setelah Denia sudah jauh, dia pun menghidupkan mesin sepeda motornya dan melaju.

__ADS_1


******


Bersambung...


__ADS_2