Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 14-Menagih Janji


__ADS_3

Britsh melangkahkan kakinya mendekati Denia yang masih merasa deg degan karena ketakutan akan apa yang akan dilakukan Britsh padanya. Pandangan Denia mengarah kebawah lantai, dia merasa tak sanggup memandang Britsh yang semakin mendekat padanya.


"hem" Britsh pura-pura batuk didepan Denia dengan meletakkan tangannya dimulutnya. Denia masih menundukkan kepalanya kebawah.


"Coba kamu lihat jam baruku, ini hadiah dari seseorang padaku, cantik tidak?"kata Britsh sambil menunjukkan arloji yang dikenakannya ditangan kirinya. Arloji itu adalah arloji dari Denia yang dibelinya dipasar murah, berwarna hitam, ada cahaya terlihat dari dalam kalau ditempat gelap, harganya juga tidak terlalu mahal tetapi bagi Denia Arloji itu sangat mahal. Denia memberanikan diri menatap kearah tangan Britsh dengan perlahan. Denia melihat arloji yang ditangan bossnya adalah arloji pemberian darinya,dia pun menatap heran ke wajah Britsh. Karena seorang Britsh pemilik perusahaan sukses dan memiliki banyak uang malah memakai arloji pemberian darinya yang bisa dikatakan tak ada apa-apanya .


"mengapa bapak memakai jam pemberian saya, padahal Bapak punya arloji yang lebih mahal dari ini"kata Denia.


"Itu hak saya mau pakai arloji yang mana hari ini"kata Britsh dengan nada sedikit tinggi namun hanya bergurau.


"Bapak menyukainya?"tanya Denia.


"Tidak juga, namun karena pemberian jadi saya menghargainya, ditambah orang tersebut sudah bersusah payah"kata Britsh dengan sedikit bercanda sehingga membuat Denia tersenyum.


"Lihatlah arloji ini ada lampunya"kata Britsh. dia menutup arlojinya dengan lengan kanannya sehingga mengeluarkan cahaya.


Denia merasa senang sekaligus heran karena seorang Britsh terlihat senang memakai arloji pemberian darinya.


"Bekerja keraslah"kata Britsh sambil melangkah pergi. Mendengar perkataan Britsh tersebut, Denia berbalik melihat punggung Britsh yang sudah melangkah membelakanginya. dia mengerti maksud ucapan Britsh tersebut kalau dia tidak jadi dipecat. Sehingga dia ingin memastikannya lagi.


"Sebentar pak"teriak Denia. Langkah Britsh terhenti dan dia langsung membalikkan badannya kearah Denia setelah mendengar panggilan dari Denia. Denia mempercepat langkahnya mendekati Britsh.


"Terima kasih pak, karena tak memecat saya" kata Denia.Britsh hanya memberikan senyumannya pada Denia sebelum pergi meninggalkan Denia yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya pagi ini. Karena menurutnya Britsh orang yang ditakuti karyawannya meskipun memiliki wajah yang tampan. Berbeda dengan temannya Jenita yang selalu memuji tentang Britsh.


****


Denia dan Jenita sedang makan dikantin perusahaan, karena Denia tidak membawa bekal. Berbeda dengan Jenita yang tak ingin makan didapur perusahaan meski sudah potong gaji. Mereka memesan makanan untuk makan siang.


Denia hanya memesan nasi dan telur beserta air mineral untuk mengisi perutnya. Sementara Jenita memesan daging dan nasi beserta juz.


"Kamu pelit sekali untuk diri kamu sendiri"kata Jenita setelah melihat pesanan mereka telah tiba dimeja mereka. Denia hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya yang baru dikenalnya beberapa hari tersebut.


"oh ya bagaimana dengan masalah arloji itu?" tanya Jenita dengan penuh penasaran.

__ADS_1


"sudah selesai"kata Denia sambil menyendok nasi yang telah dipesannya.


"serius?, terus bagaimana?,kamu tidak jadi dipecatkan?"tanya Jenita penasaran.


"tidak"kata Denia.


"syukurlah"kata Jenita sejenak dia terdiam berpikir bagaimana bisa Denia tidak dipecat padahal sudah menghilangkan jam tangan kesayangan bossnya. dia tak mengetahui kalau Denia sedang dikerjai oleh Britsh.


Mereka pun menikmati makan siang mereka tanpa berbicara sampai mereka menghabiskannya.


****


Sore hari pun tiba pukul 17.00 wib. Waktunya untuk pulang. Seperti biasa Denia berjalan menuju Halte bus. dia berjalan menuju gerbang kantor. Setelah melewati gerbang kantor seseorang menariknya, sehingga Denia sangat terkejut dan ingin berteriak. Namun setelah dia melihat wajah sipelaku dia menghentikan niatnya untuk berteriak.


"Kamu,ngageti aja"kata Denia sedikit merasa shock. dia menatap kearah Steven. Orang yang menariknya adalah steven. dia bermaksud untuk menjemput Denia pulang kerumah.


"Apa yang kamu lakukan di sini seperti maling"kata Denia dengan heran karena menariknya dengan tiba-tiba.


Perkataan Steven tersebut semakin membuat Denia tak percaya karena hanya karena Steven ingin menagih janjinya harus sampai datang kekantornya dan menariknya seperti penculik.


"Hanya karena janji itu, kamu jauh-jauh datang kesini?"tanya Denia tak percaya.


Britsh menganggukkan kepalanya dengan manja dan memanyunkan bibirnya yang merah merona tersebut. Karena meskipun penampilan Steven seperti berandalan tetapi dia tidak merokok karena sangat menjaga kesehatannya. Melihat tingkah Steven yang seperti itu membuat Denia semakin kesal.


"Naiklah, nanti biar kutentukan tempatnya"kata Steven. Denia merasa tak adil karena Denialah yang mentraktir seharusnya dia yang menentukan tempatnya.


"Bagaimana bisa kamu yang nentukan tempatnya, padahal aku yang traktir"celoteh Denia sebelum menaiki sepeda motor Steven. Mendengar celotehan Denia tersebut membuatnya tersenyum.


Tak beberapa lama mereka tiba disebuah restoran yang lumayan mewah letaknya tak jauh dari perusahaan tempat Denia kerja, namun karyawan di Perusahaan Sentosa sangat jarang bahkan hampir tidak pernah kerestaurant tersebut. Steven sudah mengetahui hal tersebut, makanya dia membawa Denia kesana.


"Kita mengapa di sini?"tanya Denia


"mau makan"kata Steven.

__ADS_1


"Nanti karyawan dikantorku lihat kita"kata Denia.


"tidak akan, aku jamin"kata Steven.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"tanya Denia merasa heran karena seolah Steven mengenal lokasi rersebut.


"kamu kan masih pegawai baru, jadi tak akan ada yang mengenalinya" kata Steven memberi alasan. mendengar perkataan Steven tersebut, Denia merasa kesal sampai menaikkan bibir atasnya.


"Ayo masuk"kata Steven.


Steven melangkahkan kakinya kearah pintu masuk, sementara Denia masih merasa bingung bagaimana bisa Steven mengajaknya kerestaurant mahal seperti itu. dia juga tak membawa banyak uang. dia melangkah dengan pelan-pelan sementara kepalany terus berpikir. Steven yang sudah melangkah didepan Denia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita makan ditempat lain" kata Denia memberi saran.


"tidak mau, aku yang milih tempatnya"kata Steven.


"restoran dekat rumah kita rasanya enak banget, bagaimana kalau kita makan di sana?" kata Denia memberi saran.


"aku tidak mau"kata Steven lalu membuka pintu. Britsh melangkah kedalam restoran. Denia berpikir sejenak sebelum melangkah masuk. Wajahnya menunduk karena menahan rasa kesalnya. Mereka memilih disalah satu kursi kosong. Seorang pelayan memghampiri mereka dengan membawakan daftar menu. Pelayan tersebut tersenyum ke arah Steven yang seakan telah mengenal Steven, namun Steven memberikan kode, seakan menyembunyikan sesuatu dari Denia.


Steven melihat daftar menu dan langsung memilih makanan dan minuman yang akan dipesan untuknya, sementara Denia masih berpikir untuk memesan karena melihat daftar harga menu yang terbilang cukup mahal.


"Kamu pesan apa?"tanya Steven. Setelah mengatakan pesanannya pada pelayan reataurant yang tak asing baginya tersebut.


"aku air putih saja"kata Denia. Setelah dia melihat semua daftar menu, hanya air putihlah yang paling murah. dia lalu menanyakan pesanan Steven. Lalu melihat hargany dimenu yang harganya terbilang cukup mahal.


"Apa dia ingin membunuhku?,bagaimana bisa dia memesan makanan semahal itu?, mendingan dia biarkan saja aku mati waktu itu"kata Denia dalam hatinya. dia memeriksa isi dompetnya yang pas- pasan dengan harga pesanan Steven.


"Bagaimana bisa kamu hanya pesan air putih ditempat seperti ini?"tanya Steven. Denia masih tak percaya dengan kata-kata Steven tersebut. Bagi Denia Steven adalah pria pengangguran yang tak memiliki uang. Sehingga yang traktir ditempat mahal tersebut adalah dirinya.


***


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2