
Wajah Steven berubah menjadi panik, karena dia takut kalau Denia mencurigai orang yang membayar beasiswa adiknya.
"Apa kamu tahu siapa yang membayarnya?"tanya Steven. Denia menggelengkan kepalanya dan membuat Steven merasa lega.
"tetapi aku masih penasaran aja, di zaman sekarang ini masih ada orang baik. Dermawan yang menolong tanpa pamrih"kata Denia.
"Bagus donk, bukanya kamu seharusnya bersyukur?, orang itu tidak memintamu ganti rugi?"kata Steven.
Denia menggeleng kepalanya"Aku merasa sedikit beban, karena tidak dapat menemukan orang yang membayar uang SPP adik ku. Aku juga tidak bisa mengatakan terima kasih padanya karena aku tidak melihatnya" kata Denia lirih.
"Kalau begitu kamu berterima kasih saja padaku"kata Steven yang membuat Denia menjadi terkejut.
"Ada ada aja kamu ini. "kata Denia sembari memukul pelan lengan Steven.
"Beneran, anggap aja aku yang sudah membayar biaya sekolah adik kamu"kata Steven.
"Baiklah, terima kasih tuan dermawan sudah berbaik hati membayar uang SPP adik saya"kata Denia dengan nada bicara yang tidak serius sembari membungkukkan badannya. "Sudah puas?"tanya Denia dengan bercanda. dia sama sekali tidak berfikiran kalau Stevenlah yang membayar uang sekolah adiknya.
"Ucapan terima kasih kamu di terima"kata Steven dan membuat Denia mencibir karena Steven berakting seolah dirinya yang membiayai uang sekolah adiknya.
"Andai aku berterima kasih langsung pada orangnya, pasti akan sangat melegakan"kata Denia.
Denia dan Steven melanjutkan perjalanan mereka.
*****
Malam hari Denia, Nindy dan Steven berada di cafe. Mereka tsmpak sedang sibuk melyani pembeli yang datang.
Britsh sedang jalan menuju rumahnya, tiba-tiba dia ingin minum minuman dingin. dia menghentikan supirnya untuk berhenti di sebuah Cafe.
"Biar saya yang belikan tuan" kata pak Ridwan.
"Tidak usah pak, biar saya saja"kata Britsh sembari melangkah keluar mobil. Britsh berjalan menuju sebuah Cafe X yang tak lain dan tak bukan tempat Denia bekerja part time. Steven menyadari kehadiran Britsh ketika dia kembali ke cafe untuk membeli sesuatu.
"Itukan Britsh?, ngapai dia kesini?"tanya Steven dengan nada pelan.
"Ya emas mau pesan ap..."kata Denia.
dia terkejut ternyata pembeli yang datang adalah boss nya.
"Kamu?"tanya Britsh.
"Bapak?. mengapa bisa ada di sini?"tanya Denia dengan ekspresi kaget.
"Saya mau beli minuman. Ternyata kamu bekerja di sini juga?"tanya Britsh.
"Iya pak, saya kerja part time di sini, hanya malam saja"kata Denia.
"Pekerja keras sekali kamu"kata Britsh merasa kagum.
Denia hanya memberikan senyuman pada Britsh, sampai lupa menanyakan pesanan Britsh.
"Eh tadi bapak mau pesan apa?. Jadi keasyikan ngobrol"tanya Denia.
__ADS_1
"Oh ya, saya pesan cappuchino 1 ya. Eh 2 deh"kata Britsh.
"Baiklah pak, totalnya ****. "kata Denia sembari mengeprint total harganya.
Britsh memberikan uang tersebut, kemudian Denia mengembalikan sisa uang pada Britsh.
"Baik, kalau begitu silakan bapak tunggu sebentar"kata Denia.
Britsh menuruti permintaan Denia untuk menunggu pesanannya. Tak lama kemudian Denia kembali dengan membawa pesanan Britsh.
"Ini pesanan bapak"kata Denia.
Britsh mengambil 1 cappuchino dan menyisahkan satu lagi di tangan Denia.
"Itu untuk kamu"kata Britsh.
"Tidak usah pak"kata Denia menolak
"Ambil saja, temani saya minum"kata Britsh.
Nindy yang melihat peristiwa tersebut memberi kode pada Denia untuk menuruti permintaan Britsh. Akhirnya Denia menuruti Britsh karena dapat izin dari sahabatnya.
Britsh dan Denia berjalan keluar cafe. Saat mereka keluar Steven melihat mereka karena dia sendiri bersembunyi di balik tembok cafe sejak melihat Britsh ke Cafe.
"Sejak kapan mereka dekat?"tanya Steven dengan nada pelan.
Udara malam yang dingin membuat suasana malam di kota X semakin terasa romantis. Denia dan Britsh berhenti di sebuah jembatan sungai kecil yang tak jauh dari lokasi cafe.
"Iya pak"jawab Denia.
"Sepertinya kamu sangat bekerja keras"kata Britsh.
"Sejak kedua orang tua saya meninggal dunia, saya harus bekerja keras untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari untukku dan adikku"kata Denia yang keceplosan curhat.
"Kamu punya adik?"tanya Britsh.
"Iya pak, sekarang kelas 2 SMA" jawab Denia. Denia tersadar karena sudah keceplosan cerita mengenai kehidupan pribadinya pada Britsh.
"maaf pak, bukan bermaksud untuk apa-apa"kata Denia.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu merasa malu karena sudah menceritakan tentang kehidupan kamu"kata Britsh.
Steven masuk ke dalam Cafe dengan membawa plastik berisi bubuk cream.
"di mana Denia?"tanya Steven yang pura-pura tidak tahu keberadaan Denia.
"Dia sedang keluar sebentar. Tadi boss tempat kerjanya tidak sengaja datang kemari untuk beli minuman trus dia menawarkan Denia untuk menemaninya minum"kata Nindy.
"Apa?, Dia meminta Denia untuk menemaninya?"tanya Steven.
"Hmm" kata Nindy mengangguk. Kalau di pikir-pikir bos Denia itu sangat tampan sekali kalau dilihat secara langsung"tambah Nindy sembari tersenyum penuh kekaguman.
Steven meninggalkan Nindy yang masih dalam khayalannya pada sosok Britsh.
__ADS_1
Denia dan Britsh kembali ke cafe. Britsh pamit pada Denia dan berterima kasih karena sudah menemaninya minum.
"Masuklah, saya akan pulang"kata Britsh sembari melambaikan tangannya ke udara.
"Baik pak"kata Denia kemudian melangkah masuk.
"Jalan pak"kata Britsh pada pak Ridwan setelah dia naik ke mobil.
Denia menghampiri Steven dan Nindy.
"Kamu sudah kembali?"tanya Steven.
"Sudah"kata Denia.
Nindy dengan penuh semangat mendekti Denia untuk menanyakan ke mana saja Denia dan Boss tampannya itu pergi.
"Kalia ke mana saja?"tanya Nindy.
"Tidak ke mana-mana hanya di pinggir sungai X"kata Denia.
"Kamu beruntung sekali bisa jalan dengan pria serampan dirinya"kata Nindy merasa iri.
"Kamu ini mikirnya aneh-aneh saja. aku hanya menemaninya minum,"kata Denia.
"Kamu harus hati-hati dengan boss kamu"tsmbah Steven.
"mengapa?"tanya Denia.
"Dia terlihat bukan orang baik"kata Steven datar.
Mendengar perkataan Steven tersebut membuat Denia merasa terkejut karena seolah Steven mengenali Britsh.
"Bagaimana kamu tahu?. Apa kamu pernah melihatnya?"tanya Denia.
Steven menjawab dengan bingung" Aku melihatnya barusan ketika dia kemari tadi"kata Steven memberi alasan.
"Pokoknya kamu harus hati-hati saja dengan orang seperti dia"sambung Steven sembari melangkah pergi.
"Mau ke mana kamu?"tanya Denia.
"Pulang. Ini sudah hampir jam 12 malam"kata Steven.
Denia tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 23.45 wib. Itu artinya jam pulang mereka tinggal 15 menit lagi.
"Hei, kamu main pulang aja. Bantui nutup Cafe donk"teria Nindy.
Steven pun berbalik arah untuk membantu mereka menutup Cafe.
Setelah memastikan semuanya sudah tertutup, mereka bertiga berjalan pulang.
*******
Bersambung..
__ADS_1