
Pak Ridwan yang melihat Britsh sudah keluar dari acara merasa terkejut. Pak Ridwan pun turun dari dalam mobil untuk menanyakannya pada Britsh.
"Apa acaranya sudah selesai, Tuan muda?"tanya Pak Ridwan.
"Bapak tunggu disini saja ya, saya pulang naik taxi aja"kata Britsh sembari menepuk satu pundak Pak Ridwan.
Pak Ridwan menuruti perintah tuan mudanya itu, meski tidak tahu apa yang terjadi diantara Britsh dan mamanya, Pak Ridwan memilih untuk tidak menanyakan pada Britsh.
Britsh memilih untuk naik taxi dan di tujukan ke Cafe X.
Setelah tiba di cafe X, Britsh langsung menemui Denia yang sedang bekerja. Tentu saja Denia merasa terkejut, melihat ekspresi yang tidak biasa dari wajah bosnya itu, Britsh melonggarkan tali dasinya yang mulai terasa sesak.
"Bapak tidak apa-apa?"tanya Denia.
Britsh hanya memberikan senyumannya pada Denia. Tapi Denia merasa telah terjadi sesuatu pada Britsh, ekspresinya sangat muram, pakaiannya masih yang dipakainya dari kantor tadi, padahal sudah pulang sejak tadi.
Denia membuat segelas capucino dingin untuk Britsh, meski Britsh tidak memesannya.
"Ini pak, silahkan diminum dulu"kata Denia
"Terima kasih"kata Britsh sembari mengambil cup yang berisi capucino dingin.
" apa bapak butuh teman untuk bicara?, sepertinya bapak sedang tidak baik"tanya Denia.
Britsh tersenyum ke arah Denia"Boleh juga ide kamu"kata Britsh.
Memang bagi Britsh saat ini adalah membutuhkan teman untuk cerita, masalahnya bersama ibunya yang sudah lama berlarut terus mengusik fikirannya. Perjodohan dengan berbagai gadis yang tidak disukainya selalu menjadi beban tersendiri bagi Britsh.
Steven menatap Denia dan Britsh dari balik pintu gudang, ternyata ketika Steven hendak kembali ke meja karyawan, Steven melihat kedatangan Britsh ia menghentikan langkahnya seolah tidak inhin bertemu Britsh.
Pandangan Steven terlihat sayu. Mungkin ada rasa cemburu di hatinya melihat kedekatan Britsh dan Denia. Namun, ia masih belum bisa menyimpulkannya sendiri.
"Kamu ngapai disana?"tanya Nindy.
"Aku tadi melihat ini"kata Steven memberi alasan asal, dan membuat Nindy hanya menggelengkan kepalanya, bagi Nindy, dia sudah sering melihat kelakuan aneh Steven, sehingga ia sudah tidak heran lagi.
__ADS_1
***
Britsh dan Denia berjalan di jembatan sungai, ditemani dengan hembusan angin malam dan tetesan suara air yang . Britsh masih diam tidak mau menceritakan tentang yang ada dihatinya. Hembusan angin sangat terasa masuk ke dalam tubuh, membuat Denia merasa kedinginan dan tangannya memggosok lengannya agar sedikit hangat. Ternyata Britsh menyadari tindakan Denia tersebut. Britsh pun dengan inisiatif memberikan jasnya pada Denia.
Awalnya Denia menolaknya. Namun, karena Britsh terus memaksanya, ia pun menerimanya.
Senyuman dari sudut bibirnya tidak dapat disembunyikannya, karena merasa terharu atas sikap bosnya itu.
Britsh belum menceritakan, mengapa ekspresinya menjadi muram, Denia pun tidak ingin menanyakannya, karena takut menyinggung perasaan Britsh.
Mereka berhenti di pinggir jembatan, menatap sungai kecil dan lampu-lampu di gedung-gedung menerangi suasana malam.
"Ibuku, kembali menjodohkanku"kata Britsh setengah parau memulai pembicaraan. Denia hanya menoleh ke arah Britsh sekilas dan kembali mendengarkan cerita Britsh.
"Kamu tahu kan, dari dulu, ibuku selalu mengirimkan wanita selama aku tinggal di Amerika. Hari ini, salah satu wanita itu, kembali dipertemukan denganku"kata Britsh.
Denia terdiam dan bingung harus memberikan saran apa yang tepat untuk Britsh.Hatinya seolah tidak ingin kalau Britsh menemui wanita itu, akan tetapi, sarannya juga tidak akan di dengar, karena Denia hanyalah seorang karyawan. Denia memilih diam dan hanya mendengar suara ombak yang saling bersahut-sahutan.
"Aku tidak ingin wanita yang dijodohkan oleh ibuku, menjadi istriku"kata Britsh.
Meski Denia memilih untuk diam, akan tetapi Denia juga penasaran, dengan alasan penolakn Bditsh pada wanita pilihan ibunya. Kalau difikirkan di usia Britsh yang sekarang sudah bisa untuk berumah tangga.
"Entahlah, aku juga tidak tahu alasannya apa" kata Britsh sembari mengkerutkan dahinya.
Alasan Britsh awalnya untuk tidak menerima wanita lain di dalam hidupnya adalah karena cintanya pada Marsya. Namun, semenjak Denia memberi saran padanya saat itu, Britsh sudah sedikit merelakan kepergian Marsya.
Suasana kembali hening. Hanya suara percikan air yang terdengar sangat keras, seolah ada yang melemparkan sesuatu ke sungai.
Steven terlihat gelisah di Cafe, dia memikirkan kemana dan apa yang dilakukan oleh Britsh dan Denia sampai beberapa jam tidak kembali. Steven berkali-kali melihat jam tangannya.
Denia dan Britsh tiba di Cafe, Setelah mengantar Denia, Britsh pamit untuk pulang. Denia menatap kepergian Britsh dengan tatapan kosong. Perkataan Britsh tadi membuatnya kepikiran.
"Kamu sudah kembali, Nia?" tata Nindy setelah melihat Denia masuk ke cafe.
Steven langsung mendekati Denia setelah mendengar Denia sudah datang.
__ADS_1
"Kamu dari mana tadi?"tanya Steven.
"Aku habis keluar sebentar"kata Denia.
"Sama bos kamu?"tanya Steven.
"Iya"jawab Denia terbata-bata.
"Dia dari tadi gelisah nunggui kamu"kata Nindy menyindir Steven.
"Siapa bilang aku nunggui dia!, aku hanya merasa dia terlalu enak pergi tanpa pemberitahuan, dan pulang sesukanya"bentak Steven.
Kekesalan tampak sekali di wajah Steven, bukan karena Denia lalai dalam pekerjaannya, tapi karena Denia pergi bersama Britsh dengan waktu yang lama.
Steven memilih untuk meninggalkan Denia dan Nindy, karena dia takut kalau sampai mereka berdua tahu, apa yang sebenarnya yang di kecewai Steven.
"Dia suka sekali marah"kata Denia.
"Bukankah dia sedang cemburu?"tanya Nindy yang sedikit bisa membaca pikiran Steven.
"Mana mungkin dia cemburu, dia hanya tidak ingin rugi aja"kata Denia dengan polosnya.
Baginya kekesalan Steven hanyalah, karena Denia tidak ingat waktu untuk bekerja, malah pergi berjam-jam bersama Britsh.Denia menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong, pikirannya masih terfokus akan ucapan Britsh. Denia seolah paham akan perasaan Britsh yang tidak ingin dijodohkan oleh wanita pilihan ibunya.
******
Kayla merasa sedih dengan perlakuan Britsh hari ini padanya, mamanya dan Ibu Yeni berusaha menenangkannya, agar tidak bersedih lagi. Namun, Kayla tetap menangis. Ia sangat mencintai pria yang sama sekali tidak mencintainya itu.
"Sudahlah, kalau anaknya tidak mau, jangan di paksa"kata Ibu Sofia.
Ibu Yeni mengerutkan bibirnya. Ibu Yeni tidak ingin menambah suasana menjadi panas, apalagi Kayla sedang bersedih. Namun, bagi Ibu Sofia, perjodohan atas dasar tidak suka, tidak akan bahagia, sebaiknya di batalkan saja.
*****
Bersambung...
__ADS_1