
Steven dengan sangat berhati-hati menepikan motornya. Dia memberhentikan sepeda motornya jauh diluar pintu gerbang Hotel Sentosa. Sehingga staff yang lalu lalang disekitar Hotel Sentosa tak mengetahui keberadaannya.
"Terima kasih" kata Denia sambil melangkah masuk gerbang. Denia berjalan dengan terburu-buru sehingga lupa mengembalikan helm milik Steven yang dikenakannya tadi.
"Hei" kata Steven, namun Denia tidak mendengarnya. Steven mempercepat langkahnya dan tiba-tiba muncul dihadapan Denia dan jelas saja membuat nya terkejut. Jantungnya serasa ingin keluar dari dalam tubuhnya. Dia pun mencoba mengatur pernafasan secara perlanan. Denia bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya tujuan Steven muncul mendadak dihadapannya.
"Ada apa lagi?" Tanya Denia dengan ketus.
"Mau sampai kapan kamu pakai itu?" Tanya Steven sambil menunjuk ke kepala Denia.
Denia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dia merasakan sesuatu benda yang dikenalnya berada di kepalanya. Denia buru-buru membuka helm itu dan memberikannya pada Steven.
"Maaf, aku baru saja hendak mengembalikannya " kata Denia. Dia pun berlari kencang menuju gedung Hotel Sentosa karena merasa malu, Steven hanya menggelengkan kepalanya. Seseorang tampak masuk kedalam gedung, namun tak memperhatikan keberadaan Steven karena dia buru-buru langsung menutup wajahnya dengan jacket yang dikenakannya. Setelah merasa aman Steven naik ke sepeda motornya dan langsung melaju dengan kecepatan 40km/jam.
Denia tampak sudah mengganti pakaiannya dengan seragam kerja. Dia menuju ke sebuah ruang untuk pertemuan para pegawai petugas kebersihan. Setelah semua pegawai kebersihan berkumpul, seseorang masuk dengan membawa sebuah kayu kecil, yang biasanya digunakan untuk memukul pegawai yang tidak mentaati peraturan. Namanya Ibu Selia, dia diberi tanggung jawab penuh pada petugas kebersihan, bisa dikatakan jika beliau adalah kepala di bagian petugas kebersihan.
"Selamat pagi semua!" kata Ibu Selia memulai pembicaraan.
"Pagi Bu". Jawab seluruh pegawai kebersihan.
"Hari ini karena ada beberapa pegawai yang baru bergabung hari ini, jadi saya akan menjelaskan ulang peraturan di sini". Ibu Selia memukul-mukul tangannya dengan kayu yang biasa dibawanya.
"Pertama: Kalian dilarang untuk mengobrol dengan para tamu.
Kedua: Kalian dilarang menggosip sesama pegawai di jam kerja.
Ketiga: Jangan pernah telat datang, karena saya paling tidak suka pada orang yang tidak menghargai waktu.
Keempat: Kalian harus memperhatikan kebersihan setiap sudut ruangan. Apa kalian mengerti!!" Tanya Ibu Selia dengan tegas. Semua karyawan menyetujui semua perkataan ibu Selia. Ibu selia terkenal sangat profesional saat bekerja dan terkenal galak. Tidak ada pegawai yang bisa dekat dengannya malah merasa ketakutan, sehingga saat Ibu selia memberikan pengarahan, tak ada yang berani membantah.
Ibu Selia membubarkan para pegawai karena dianggap sudah paham akan penjelasannya.
***
Denia membersihkan salah satu kamar Suit Room bersama salah seorang pegawai kebersihan. Namanya Jenita, yang baru bekerja 3 bulan di sana. seprai diganti dengan yang baru, sampah dikamar itu kelihatan kotor, karena tamu baru saja check out dari kamar itu.
__ADS_1
" Jorok sekali kamar ini" keluh Jenita. Denia hanya tersenyum mendengar perkataan Jenita dan hanya meneruskan pekerjaannya.
"Kamu masih baru ya di sini" tanya Jenita
"Iya, baru hari ini" jawab Denia.
" Aku tidak suka sama ibu Selia, dia galak sekali"
"mengapa kamu menggosipkannya, padahal kita baru diingatkan dilarang menggosip" tanya Denia.
"Benar juga. Jangan bilang kamu akan ceritakan padanya?" Tanya Jenita dengan panik.
" Tidaklah" kata Denia dengan tersenyum.
" tetapi aku hanya ingin memberitahukan hati-hati saja dengannya, jangan mencoba melawan, kalau berani melawannya kamu akan dipecat. Dia kalau marah mengerikan sekali " kata Jenita. Denia tak menjawab apapun perkataan Jenita, dia hanya memberikan senyum sambil menganggukkan kepalanya seolah ia paham maksud dari Jenita.
"Oh ya kalau kamu ada perlu bantuan, kabari aku aja ya. Meski aku baru 3 bulan bekerja disini, tapi aku masih lebih senior dari kamu" kata Jenita memberi tawaran dengan sedikit bercanda.
"Terima kasih" kata Denia dengan tersenyum. Dia merasa sangat bahagia, karena ditempat kerja yang baru, ia mendapatkan teman baru.
Mereka berdua saling diam dan serius membersihkan ruangan suit room tersebut.
*****
"Siapa ini?, malam-malam jalan sendirian" kata Steven meledek Denia. Denia tak menjawab Steven, dia berjalan tanpa menghiraukan Steven. Steven merasa kecewa dengan perlakuan Denia tersebut. dia pun mengejar Denia.
" Mau apa lagi?" tanya Denia dengan ketus.
"Jangan marah donk, aku hanya ingin menagih janjimu padaku"jawab Steven.
Denia menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan panjang. Steven merasa ketakutan dengan reaksi Denia tersebut. Seolah Denia ingin menerkamnya saat itu juga.
"Aku harus berangkat kerja hari ini, jadi bisakah kamu tolong minggir?"kata Denia dengan mengecilkan mulutnya karena merasa kesal pada Steven.
"Terus, kapan kamu akan membalasnya?" tanya Steven.
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi keluar angkasa, jadi kamu tunggu aja" kata Denia.
"Kapan?" tanya Steven, sehingga membuat Denia tambah kesal.
"Minggu depan" kata Denia memberi jawaban asal. Ia juga tidak tahu minggu depan ia bisa atau tidak, hanya memberikan jawaban yang keluar begitu saja dari fikirannya.
"Baiklah, aku akan tagih lagi janji kamu minggu depan" kata Steven.
" Pasti kamu nolong aku tidak ikhlas" kata Denia.
" Aku nolongnya ikhlas kok, hanya saja kamu yang sudah membuat janji, jadi aku menagihnya" kata Steven sambil tersenyum.
Steven melangkah membelakangi Denia sambil melambaikan tangannya.
"Dia benar-benar aneh" kata Denia dengan mempercepat langkahnya.0
****
Denia dan nindi sedang melayani pelanggan yang datang di cafe x.
"Gimana pekerjaan kamu dihari pertama kali kerja?" Tanya Nindi.
"Begitu lah, aku diterima bekerja di sana aja sudah senang. Oh ya tadi aku langsung dapat teman baru ditempat kerja" kata Denia
"Oh ya?, baguslah kalau begitu.
"Dia baru 3 bulan kerja. Dia sepertinya orang baik" kata Denia.
"Apa-apaan ini?, apa kau ingin menyombongkan sahabat barumu itu padaku?" Kata Nindi merasa sedikit cemburu.
"Bu..bukan begitu. Maksudku..." kata Denia terbata-bata karena merasa tidak enak pada nindi. Nindi yang melihat reaksi sahabatnya itu spontan tertawa karena merasa lucu. Denia merasa heran dengan sikap Nindi. Wajahnya terpelongo.
"Aku hanya bercanda" kata Nindi. "Aku senang sahabatku yang satu ini langsung cepat beradaptasi di tempat kerja barunya"sambung Nindy.
Denia membalas dengan senyuman, ia menyadari kalau sahabatnya hanya bercanda kepadanya, karena mereka sudah lama saling mengenal.
__ADS_1
*****
Bersambung.