
Dalam beberapa detik Britsh dan Denia saling beradu mata, sampai akhirnya mereka menyadari posisi tangan mereka yang bersentuhan dan saling melepaskan. Wajah mereka tampak memerah dan mereka menjadi canggung satu sama lain.
"Maaf, Pak"kata Denia.
"Kenapa harus minta maaf, aku hanya ingin membantu kamu untuk mengambilkan tisu"kata Britsh.
Denia memberikan senyum simpulnya yang tipis, masih merasa canggung dengan kejadian yang baru saja. Rasanya jantungnya hampir keluar dari cangkangnya. Bristsh berusaha untuk mencairkan suasana dengan menyuruh Denia melanjutkan makannya.
"Ayo, lanjutkan makannya"jelas Britsh. Matanya menunjuk ke arah makanan yang berada tepat dihadapan Denia. Lagi - lagi, Denia hanya memberikan senyum tipis pada Britsh.
Steven yang berjalan menuju rumah mamanya, tidak sengaja melihat Britsh dan Denia berjalan ke arah Parkir mobil di depan reataurant "K". Steven menghentikan sepeda motornya, dan melihat mereka dari kejauhan, ia sengaja tidak menghampiri mereka karena tidak ingin memancing keributan. Sementara setelah di depan mobilnya, Britsh membukakan pintu untuk Denia dan mempersilahkan Denia untuk masuk. Denia melangkahkan kakinya dengan ragu. Ia merasa tidak enak dan canggung diperlakukan bosnya seperti itu, seolah kalau dia adalah pacarnya atau orang terdekatnya. Setelah Denia masuk mobil dengan ekspresi masih diam seribu bahasa, Britsh masuk ke mobil dan duduk di samping Denia. Ia kemudian menyalakan mesin mobil dan mulai meninggalkan halaman restaurant dengan perlahan. Mereka tidak menyadari keberadaan Steven yang memperhatikan mereka sejak mereka keluar dari reataurant. Steven juga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, agar tidak di lihat oleh Britsh dan Denia.
Setelah mobil Britsh sudah mulai menjauh, Steven melepaskan kedua telapak tangannya secara perlahan, sembari melihat mobil Britsh perlahan menghilang.
"Ada apa sebenarnya?, mengapa Britsh mengajaknya kemari?" batin Steven.
Ia tak ingin terlalu memikirkannya, dan mulai menyalakan mesin sepeda motornya kemudian melaju melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah orang tuanya.
***
Britsh melajukan mobilnya menuju ke sebuah pantai, Denia merasa heran ketika mereka dalam perjalanan yang sama sekali ia tidak tahu tujuan mereka. Ia tidak menyangka jika Britsh mengajaknya lumayan jauh dari lingkungan rumahnya maupun tempat kerja mereka.
"Kita mau kemana,Pak?"tanya Denia ragu.
"Ke pantai"jawab Britsh santai. Ia tidak meminta izin terlebih dahulu pada Denia untuk membawanya kesana.
"Pantai?. Mau apa kita kesana Pak?"tanya Denia
"Hanya liburan saja"jawab Britsh sembari tersenyum dan melihat wajah Denia yang duduk disampingnya. Melihat Denia tampak gugup membuat senyuman Britsh perlahan menghilang dan berganti dengan wajah heran.
__ADS_1
"Kenapa?, apa kamu tidak suka pantai?"tanya Britsh.
"Bukan begitu, Pak. Hanya saja..."jawab Denia terbata-bata.
Ia merasa heran seorang Britsh yang terkenal sombong di tempat kerjanya dan terkesan pendiam bisa membawanya kepantai di hari liburnya. Meski menurutnya Britsh tidak sesuai dengan apa yang dikatakan orang di tempat kerja, tetap saja membawanya liburan di saat hari liburnya merupakan hal yang tidak dapat dipercaya. Bisa bisa seluruh pegawai Perusahaan merasa iri melihatnya.
"Maaf ya, saya tidak izin terlebih dahulu sama kamu, apa kamu merasa sungkan?"tanya Britsh yang mulai merasakan sikap Denia.
Denia hanya diam dan membalas dengan senyuman kecil dari bibirnya. "Saya merasa tidak enak aja, Pak. Bapak membawa saya jalan-jalan. Bisa-bisa seluruh pegawai merasa iri dengan saya"kata Denia menuangkan isi fikirannya pada Britsh.
Mendengar perkataan Denia, Britsh hanya senyum saja melihat Denia dan fokus pada jalan.
"Jangan fikirkan mereka. Lagian mereka juga tidak akan tahu kita jalan-jalan, kan ini sudah jauh dari lokasi Perusahaan"kata Britsh.
Britsh kembali menatap Denia dengan senyuman yang dibalas Denia dengan senyuman tipis.
Denia melihat pemandangan pantai dari pintu kaca mobil, ia tersenyum mengagumi keindahan alam, ia membuka perlahan kaca mobil, agar pemandangan disampingnya dapat terlihat dengan jelas dan udara segar dapat masuk. Denia menutup kedua matanya, menikmati udara yang masuk ke tubuhnya. Rasanya ia berada di awang-awang. Britsh sesekali melihat Denia yang sedang asyik menikmati pemandangan dan angin yang berhembus. Britsh sengaja mematikan AC mobilnya, agar Denia dapat merasakan angin yang segar.
Memang Denia tidak pernah melakukan liburan, semenjak kedua orang tuanya meninggal duni. Ia selalu bekerja dan bekerja untuk mencukupi kehidupannya dan adiknya, ditambah lagi ia harus membiayai keperluan sekolah adiknya.
Tak beberapa lama, Britsh menghentikan mobilnya, tepat di pinggiran pantai. Denia membuka pintu mobil dan segera berlari dan mengagumi keindahan pemandangan pantai.
"Wah, indah sekali"teriak Denia.
Britsh hanya tersenyum melihat tingkah Denia tersebut. Ia berdiri disamping pintu mobilnya.
Denia merasa tidak enak, karena menikmati pemandangan sendirian, ia pun kembali menghampiri Britsh.
"Maaf, Pak. Saya terlalu senang makanya saya seperti itu"kata Denia.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Inikan hari libur kamu, kamu bebas melakukan apapun"kata Britsh. Denia membalasnya dengan senyuman yang lebar dari mulutnya.
"Terima kasih ya, Pak sudah membawa saya liburan. Selama ini saya tidak pernah pergi berlibur"jawab Denia.
"Benarkah?"tanya Britsh tak percaya.
Denia mengangguk. "Semenjak kedua orang tua saya meninggal dunia, saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya dan adik saya"kata Denia.
Britsh mendengarkan perkataan Denia dengan sangat serius, tidak tahu apa yang difikirkannya antara iba atau terharu.
"Sejak kapan orang tua kamu meninggal?"tanya Britsh.
"Sejak 6 tahun yang lalu, Pak. Waktu itu saya masih kuliah di semester akhir, tapi saya berhenti karena tidak ada biaya lagi. Sementara adik saya masih kecil dan sekolah, jadi saya mengalah agar adik saya bisa melanjutkan sekolahnya"kata Denia.
Britsh melihat dan mendengarkan cerita Denia, ia merasa simpati dan kagum pada pengorbanan Denia. Denia yang melihat Britsh menatapnya dengan serius jadi merasa canggung.
"Maaf, pak. Saya tidak bermaksud curhat"kata Denia merasa sungkan.
"Tidak apa-apa. Malah saya kagum dengan kamu". Kata Britsh.
Denia hanya senyum datar, tidak menyangka jika Britsh merasa kagum mendengar ceritanya, kemudian Denia melihat wajah Britsh yang berubah datar memandang ke arah pantai yang luasnya berkilo-kilo meter.
"Ada apa, Pak?, sepertinya suasana hati bapak sedang tidak baik?"tanya Denia menerka.
Britsh menarik nafas panjang namun matanya tetap menatap pada luasnya pantai yang berada di depannya.
"Apa ada yang sedang bapak fikirkan?"tanya Denia lagi.
Denia merasa jika keadaan Britsh sedang tidak baik-baik saja hari ini, terlebih lagi Britsh mengajaknya ke pantai disaat libur kerja.
__ADS_1
***
Bersambung....