
Denia pun tiba di depan restaurant "K", tempat yang dikatakan oleh Britsh di telepon untuk mereka bertemu. Denia merapikan sedikit pakaiannya sebelum melangkah ke dalam rrstaurant. Saat Denia di depan pintu, seorang pelayan membukakab pintu untuk Denia sembari tersenyum dan membungkukkan badannya sambil mengatakan "Selamat datang, nona". Denia hanya membalas dengan membungkukkan badannya pada pelayan tersebut sembari tersenyum. Setelah Denia berada di dalam restaurant yang megah itu, Denia menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Britsh.
"Dimana Pak Britsh?" kata Denia pelan. Denia pun hendak menghubungi Britsh, karena tidak menemukannya, mungkin saja Denia salah lokasi. Belum sempat Denia menghubungi Britsh, seseorang melambaikan tangan kepadanya dari meja di sudut ruang restaurant. Denia kemudian menuju ke meja tersebut, setelah memastikan jika orang itu adalah Britsh.
Denia tiba di meja, dimana Britsh duduk. Britsh membukakan kursi untuk Denia, tentu saja hal tersebut membuat Denia merasa canggung.
"Seharusnya tadi kamu saya jemput"kata Britsh sembari melangkah ke kursinya.
"Tidak usah, Pak. Saya lebih nyaman naik bus"jawab Denia.
"Apa kamu tidak nyaman bersama saya?" tanya Britsh.
"Bukan... bukan begitu, Pak. Maksud saya..."jawab Denia terbata, namun belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, karena ia juga tidak bisa memberikan alasan yang tepat, Britsh tersenyum seolah merasa lucu dengan sikap Denia.
Denia menatap Britsh dengan tatapan memelas.
"Ya sudah, kamu mau pesan apa?"tanya Britsh sembari memanggil seorang pelayan.
Waiters tersebut menghampiri meja mereka dan memberikan menu makanan yang tersedia di reataurant tersebut.
"Pesanlah dahulu"kata Britsh sembari memberikan buku menu makanan pada Denia. Denia menerima buku menu dan membukanya perlahan. Dilihatnya menu makanan yang ada di dalam buku itu, dan harganya yang terbilang cukup mahal. Ia tak mengerti juga dengan bahasa yang ada di tulisan menu tersebut. Denia membuka buku tersebut berulang kali, berharap ia menemukan jenis makanan yang dikenalinya dengan harga yang terjangkau. Namun, meski ia mengulang membuka menu buku itu, ia tak menemukan makanan yang dikenalinya dan juga harga yang diinginkannya.
"Bagaimana bisa hanya makanan saja semahal ini?. Dan lagi, makanan jenis apa ini?, aku sama sekali tidak mengerti satupun"batin Denia.
Britsh memperhatikan Denia yang menatap buku menu tanpa mengerti apa yang ada di kepala Denia.
"Apa kamu sudah memilih makanannya?" tanya Britsh dengan nada pelan.
"Aa..?" Denia hanya kebingungan menjawab pertanyaan Britsh.
"Kenapa?, apa tidak ada yang sesuai seleramu?"tanya Britsh.
"Bu...kan begitu, Pak. Hanya saja saya tidak begitu mengerti bahasa yang ada di dalam menu tersebut"jawab Denia sembari tersenyum malu.
"Baiklah, kalau begitu biar saya yang memesannya"kata Britsh.
"Mmmmm.... begini, Pak. Bagaimana kalau kita ke tempat lain saja. di warteg misalnya. Disana harganya murah dan menunya juga lumayan enak"kata Denia.
"Hari ini, saya yang ajak kamu kesini, jadi saya yang akan traktir"jawab Britsh.
"Begini... pak" kata Denia yang merasa tidak enak. Namun, Britsh mengabaikan perkataan Denia dan memanggil waiters.
"Mas..." Britsh melambaikan tangannya kepada waiters, dan tak beberapa lama waiters pun kembali ke meja mereka. Britsh membuat pesanan pada waiters dan di catat oleh waiters.
__ADS_1
"Baiklah, Mas dan Mbak tunggu sebentar ya, saya akan membuat pesanannya. Apa ada tambahan lagi?"tanya waiters.
"Itu aja dulu, nanti kita pesan lagi"jawab Britsh.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar ya"kata waiters sembari mengambil buku menu yang ada di meja mereka kemudian melangkah pergi.
Denia tampak masih kebingungan, karena ia tak mengerti mengapa orang kaya menghamburkan uang untuk makanan. Ternyata Britsh melihat sikap Denia.
"Jangan merasa sungkan, ini kan keinginan saya mengajak kamu kesini"kata Britsh.
Denia pun tersenyum tipis mendengar perkataan Britsh. Ia pun sudah tak memikirkan tentang makanan.
"Oh, ya. Kenapa tiba-tiba Bapak memanggil saya kemari?"tanya Denia.
"Tidak ada, hanya ingin bertemu saja"jawab Britsh.
"Apa maksudnya?, hanya ingin bertemu saja?" batin Denia yang semakin bingung.
"Kenapa?, apa tidak boleh? atau kamu ada janji dengan seseorang?"tanya Britsh.
"Bukan... bukan begitu Pak"jawab Denia.
"Lantas kenapa?"tanya Britsh lagi.
****
Steven melihat Nindy yang berjalan sendiri menuju rumahnya. Steven menaiki sepeda motornya hendak keluar dari rumahnya.
"Nindy, kamu habis darimana?"tanya Steven.
"Oh, aku tadi dari rumah Denia"jawab Nindy.
"Tapi sepertinya aku lihat rumahnya tutup, sepertinya dia tidak di rumah"jawab Steven heran, karena ia sebelum berangkat, melihat ke arah rumah Denia.
"Oh, tadi ada janji ketemu sama bosnya"jawab Nindy.
"Apa?, bukannya dia sedang libur?"tanya Steven.
Steven mengetahui jadwal Denia di kantor, karena Denia menceritakan pada Nindy tadi malam dan ia mendengarnya.
"Iya, tapi tadi dia di telepon sama bosnya, tidak tahu mau bicara apa. Ya uda aku diluan ya"kata Nindy.
Steven tersenyum tipis pada Nindy, kemudian ia terdiam diatas sepeda motornya seolah ia memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kemana mereka?. Kenapa Britsh mengajaknya bertemu disaat libur kerja?" tanya Steven di dalam hatinya.
****
Seorang waiters kembali kemeja Britsh dan Denia dengan membawakan makanan sesuai pesanan mereka. Setelah meletakkan makananan di meja, waiters tersebut kemudian permisi untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Britsh mempersilahkan waiters tersebut kembali, sementara Denia memandang makanan yang belum pernah dimakannya itu dengan penuh takjub.
"Makanan mahal memang beda bentuknya"batin Denia. Ia kemudian teringat beberapa hari yang lalupernah diajak Steven ke sebuah restaurant, dimana Steven mengatakan semua makanan itu gratis.
"Apa benar, saat itu semua makanannya gratis?"batin Denia tak percaya.
"Ada apa?"tanya Britsh. Ia memperhatikan ekspresi Denia yang hanya diam saja melihat makanan yang ada di hadapannya.
"Hah?" Denia terkejut mendengar suara Britsh.
" Apa makanannya tidak sesuai dengan selera kamu?. Mau dipesankan yang lain?" tanya Britsh
"Tidak usah, Pak"jawab Denia.
"Lalu kenapa kamu hanya diam saja memandang makanannya?"tanya Britsh
"Tidak ada apa-apa, Pak" jawab Denia yang tidak ingin menjelaskan isi fikirannya pada Britsh.
"Kalau begitu, silahkan dimakan"kata Britsh sembari tersenyum.
"Baik, Pak"jawab Denia parau.
Ia mulai mengambil sendok dan mencicipi makanan yang tidak ia mengerti sama sekali.
Tiba-tiba Denia tersedak, saat Britsh melihatnya makan. Entah apa yang ada di dalam fikiran Denia, sehingga membuatnya tersedak. Britah dengan cepat mengambilkan air putih yang ada di gelas kepada Denia.
"Minum dulu" kata Britsh menyerahkan segelas air putih kepada Denia.
Denia dengan segera mengambil air putih tersebut dan meminumnya.
"Kamu baik-baik saja?"tanya Britsh merasa khawatir
"Saya baik-baik saja, Pak" jawab Denia.
Britsh kemudian mengambil tisu yang terletak diatas meja mereka, namun ternyata Denia juga hendak mengambilnya, dan akhirnya tangan mereka bersentuhan dan mata mereka beradu satu sama lain.
***
Bersambung....
__ADS_1