Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 10 - Pencurian


__ADS_3

Setelah memastikan tidak terjadi apapun pada dirinya dan pakaiannya masih utuh, Delia merasa lega meski tak menunjukkan secara langsung pada Denia dan Steven. dia masih bertingkah seperti biasanya.


"Gak usah urusi hidup saya" kata Delia kepada Denia sembari melangkah pergi. dia menghempaskan selimut yang deberikan oleh Steven subuh tadi ke sofa tempat dia tidur.


Denia menahan kesedihannya melihat perlakuan adiknya tersebut pada dirinya.


"Kamu tidak apa-apa?"tanya Steven dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak apa-apa" kata Denia sambil berusaha untuk berdiri dengan menahan rasa sakit didaerah kakinya. Kakinya tampak memerah karena bekas luka kemarin. Denia berpamitan pulang pada Steven karena dia pun harus pergi kerja. Steven merasa prihatin melihat langkah Denia yang pincang.


*****


Delia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya dan tidak berangkat ke sekolah. Denia bersiap-siap untuk berangkat kerja setelah memasak sarapan untuk mereka berdua. Langkah kaki Denia tertuju ke kamar adiknya untuk berpamitan, namun Denia mengurungkan niatnya karena melihat adiknya masih tidur pulas. dia juga tak ingin mengambil risiko dimarahi adiknya kalau dia membangunkannya. Denia melangkah pelan menuju rak sepatu yang berada disamping pintu masuk. Denia hanya menutup pintu rumahnya karena kunci pintu rumah ditinggalkan untuk Delia. Kunci pintu rumah mereka tinggal satu karena yang satu dihilangkan oleh Delia dan belum sempat diduplicat.


"Hi" kata Steven yang tiba-tiba muncul dari belakang Denia.


Kali ini Denia tidak terkejut dengan kehadiran Steven yang tiba-tiba, karena sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Steven tersebut. Denia masih berjalan dengan kakinya yang pincang.


"Ayo ku antar" kata Steven


" Tidak usah, saya naik bus saja" kata Denia sambil terus berjalan dengan kakinya yang masih terkilir.


" Apa kamu bisa mengejar bus dengan kondisi kaki seperti itu?" tanya Steven.


Denia merasa kesal dengan perkataan Steven tersebut. dia merasa kalau dia sedang diledeki oleh Steven karena kakinya. Namun Denia tak punya alasan untuk tak menerima tawaran Steven. dia merasa kalau ucapan Steven memang benar, dia tidak akan bisa berjalan cepat kehalte bus ditambah lagi dia tidak ingin terlambat ke tempat kerjanya. Steven hanya memperhatikan Denia yang hanya terdiam tanpa mengetahui isi kepala Denia.


"Apa boleh buat karena kamu paksa" kata Denia pura-pura menjual mahal. Steven tersenyum melihat tingkah Denia yang jual mahal namun sebenarnya dia mengetahui kalau Denia ingin diantar oleh Steven. Denia naik ke sepeda motor Steven dengan hati-hati karena masih menahan rasa sakit di kakinya ditambah bangku belakang sepeda motor milik Steven tinggi. Steven dengan sabar menunggu Denia sampai duduk dengan nyaman kemudian memberikan helm yang sudah disediakannya untuk Denia. Setelah Denia naik, Steven pun langsung menyalakan motornya dan melaju dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan mereka tak saling berbicara. Sampai akhirnya mereka tiba didepan pintu gerbang Hotel Sentosa. Steven menghentikan sepeda motornya dengan hati-hati. Kali ini Denia memperhatikan tingkah Steven tersebut. Mata Denia mengikuti arah pandangan Steven yang sepertinya merasa panik.


"Kamu mengapa?" tanya Denia.


"Ah"kata Steven yang menyadari akan kecurigaan Denia padanya.

__ADS_1


"Kamu cari siapa?" tanya Denia lagi


"Gak ada, ya uda aku pamit dahulu ya" kata Steven.


Steven memberikan senyumannya pada Denia sebelum melajukan sepeda motornya. Denia masih bingung dengan sikap Steven barusan, sampai dia baru menyadari kalau helm yang dipakainya lupa dikembalikan. Akhirnya Denia membawa helm tersebut ke tempat kerjanya. Setelah tiba di ruang ganti, Denia meletakkan Helm milik Steven kedalam locker nya. Jenita baru tiba juga dan dia melihat Denia meletakkan helm didalam lockernya.


"Itu helm siapa nia?" tanya Jenita.


"Ah"Kata Denia dengan kaget.


"Kamu bawa motor?" tanya Jenita


"Bukan, ini helm milik teman"kata Denia


"Cowok ya?" tanya Jenita


"Ah" kata Denia dengan kebingungan.


"Dari reaksi kamu sepertinya benar cowok"kata Jenita dengan yakin


"Pacar kamu ya?" tanya Jenita.


Denia bertambah bingung harus menjawab apa pada Jenita karena dia tak tahu apa hubungannya dengan Steven. Karena dia sendiri merasa tidak begitu dekat dengan Steven. Denia segera menutup lockernya dan mengajak Jenita untuk bersiap-siap mengikuti rapat Cleaning servis agar Jenita tak melanjutkan pertanyaannya. Denia melangkah keluar dari ruang ganti yang diikuti oleh Jenita. Mereka menuju ruangan khusus untuk rapat bagian karyawan Cleaning servis.


*****


Delia bangun dari tidurnya karena merasa perutnya lapar dan mual. dia pun berjalan kedapur untuk mencari makanan yang bisa dimakan. dia membuka tudung saji di meja makan. Denia sudah menyiapkan sop agar membantu mengurangi teler dan bubur untuk mengurangi mual adiknya. Delia memakan makanan tersebut langsung dari panci tanpa menggunakan piring karena dia merasa sudah sangat lapar.


****


Denia dan Jenita membawa peralatan mereka setelah selesai mengikuti rapat.

__ADS_1


Dalam perjalanan mereka menuju kamar yang akan mereka bersihkan, mereka berpapasan dengan Britsh dan pak Broto beserta beberapa karyawan lainnya. Denia yang melihat Britsh merasa panik dan ketakutan. dia berpikir apakah Britsh masih marah padanya atau tidak, apakah Britsh menerima hadiah permintaan maafnya. Mata Britsh dan Denia saling beradu, namun baik Denia maupun Britsh fokus pada perjalanan mereka masing - masing. Jenita membungkukkan kepalanya memberi hormat pada Steven.


Jenita dan Denia melihat kebelakang setelah mereka melalui Britsh. Denia masih memikirkan tentang kejadian kemarin.


"Pak Britsh emang paling tampan"kata Jenita dengan penuh semangat.


"Alasan aku bertahan bekerja di sini karena melihat wajah tampannya"kata Jenita sambil menggenggam kedua lengannya ke dagunya.


"Bagaimana menurutmu nia?" tanya Jenita lagi. Jenita menoleh kearah Denia setelah Denia tak merespon ucapannya. dia melambaikan tangannya kewajah Denia, namun Denia tak meresponnya. Mata Jenita mengikuti arah pandangan Denia yang ke arah tembok dan koridor hotel di mana tidak ada satu orang pun di sana.


"Hei" kata Jenita dengan nada keras sehingga membuat Denia tersadar dari lamunannya.


"Kamu buat saya hampir kena serangan jantung"kata Denia.


"lagian kamu dari tadi melamun terus, mikiri apaan sich?"kata Jenita.


"Gak ada, ayo kita lanjutkan"kata Denia sambil mendorong bak sampah.


"Bagaimana pendapatmu tentang pak Britsh?" tanya Jenita.


"Tidak tahu ah"kata Denia dengan ketus.


Melihat reaksi temannya tersebut, Jenita menjadi hilang nafsu untuk menceritakan panjang lebar tentang Britsh, karena menurutnya kalau Denia pasti tidak akan tertarik mendengar ceritanya.


Denia dan Jenita membersihkan ruangan Suit Room bersamaan. Namun belum selesai menyelesaikan tugas mereka, tiba-tiba ibu Selia memanggil Denia untuk membersihkan kamar suit room yang lain karena ada tamu penting yang menginap di Hotel mereka. Denia tak bisa menolak perintah dari ibu Selia.


******


Ruangan Staff kebersihan sedang ribut karena mereka mendadak dikumpulkan oleh bu Selia .


Mereka bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Denia dan Jenita baru saja kembali dari pekerjaan mereka. Seorang karyawan kebersihan bernama Yeni menduga-duga kalau mereka dikumpulkan karena pencurian. Yeni merupakan karyawan lama dihotel tersebut jadi dia tahu alasan yang membuat mereka dikumpulkan secara mendadak.Denia dan Jenita tak sengaja mendengar perkataan Yeni dan mereka pun terkejut.

__ADS_1


****


Bersambung..


__ADS_2