Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 24 - Penasaran mengenai beasiswa


__ADS_3

Denia masuk ke kamar adiknya setelah tiba di rumah. Delia sudah tertidur pulas sehingga tak menyadari kakaknya sudah pulang. Denia merapikan barang-barang Delia yang berserakan dimpat tidur adiknya.


"Dia dari mana saja?, sampai tidur pakai seragam sekolah?"gumam Denia dalam hatinya. Delia tidur dengan memakai seragam sekolahnya karena sebelum pulang ke rumah ia dan teman-temannya mampir dulu ke mall buat buang suntuk. Denia bangkit dari tempat tidur Delia dan menuju kamar mandi sebelum ia tidur. Dikuncinya pintu kamar Delia perlahan agar tidak membangunkannya.


Setelah mencuci mukanya dan mengganti pakaian dengan piyama, Denia langsung tidur, tak lupa ia mematikan lampu kamarnya yang terletak di samping kasurnya.


****


Delia terlihat masih mengantuk dan bermalas-malasan di kamarnya padahal jam sudah menunjukkan pukul 07 00 wib pagi.


"Aku benci pagi"gumam Delia sambil meneruskan tidurnya. "Ahh menyebalkan sekali, kenapa bisa aku dapat beasiswa itu, sehingga aku tidak bisa bebas untuk tidak sekolah" kata Delia menggaruk kepalanya sehingga membuat rambutnya berantakan. Ia pun bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Sementara Denia sedang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan untuk mereka berdua.


"Kamu sudah bangun?"tanya Denia setelah melihat adiknya berjalan menuju kamar mandi. Delia tak menggubris kakaknya dan hanya berjalan melewatinya begitu saja.


"Kita makan dulu yuk. kakak sudah masak"kata Denia. Langkah Delia berhenti karena kakaknya. "Aku mau tanya,dari mana uang beasiswa itu berasal?"tanya Delia.


"Kakak tidak tahu, tapi dari pihak sekolah mengatakan kalau kamu mendapatkan beasiswa, hanya itu" kata Denia.


"Sejak kapan sekolah mau memberikanku beasiswa?"kata Delia sambil tersenyum sinis tak percaya. Denia terdiam karena ia sendiri juga bingung dari mana tiba-tiba beasiswa itu berasal. Seperti yang ia katakan pada Nindy, Selama bersekolah di SMA X, Delia tak pernah mendapatkan beasiswa meskipun mereka tergolong tidak mampu. Karena hanya siswa/siswi yang berprestasilah yang mendapatkan beasiswa, sementara Delia tidak pernah berprestasi sampai mau naik ke tingkat 3.


"Anggap saja itu beasiswa bagi yang tidak mampu, karena kita tidak sanggup membayar uang sekolahmu"kata Denia memberi jawaban asal.


"Bukannya uangnya ada?, tapi aku habiskan?,"kata Delia. Karena kalau tergolong tidak mampu adalah orang yang sama sekali tidak mampu membayar uang sekolah, dan itu juga tidak di tanggung sepenuhnya. Denia semakin bingung. "Sudahlah, kamu siap-siap aja dulu sana, kakak juga uda buru-buru harus kerja"kata Denia sembari menelan sesendok nasi karena tidak sempat untuk menghabiskan nasi yang sudah di letakkannya di piring."Kakak berangkat diluan"timpal Denia sembari berjalan.


"Dia seolah sebagai pegawai kantoran saja"sindir Delia yang melihat kakaknya sok sibuk dan buru-buru setiap berangkat kerja.


****

__ADS_1


Dalam perjalanannya ke Group Sentosa, Denia terus memikirkan darimana asal beasiswa adiknya. Karena baginya perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi Denia dan adiknya. Berkat beasiswa tersebut, beban Denia sedikit berkurang. "Huuufffttt"Denia menghela nafasnya panjang.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"tanya Britsh yang tak sengaja berselisih dengan Denia.


"Bapak?"


"Kamu berjalan sambil melamun, kamu sedang mikiri apa?" tanya Britsh.


"Tidak ada apa-apa pak"kata Denia. Ia tak ingin masalah pribadinya yang tak penting itu di ketahui oleh Britsh.


"Baiklah, kalau jalan hati-hati ya, nanti kamu bisa nabrak lagi"pesan Britsh sebelum melanjutkan perjalanannya.


"Huuuhhh" Denia menarik nafasnya dengan dalam. Ia merasa kalau dirinya telah ceroboh sampai tak melihat Britsh didepannya. Hampir saja ia melakukan kesalahan besar kalau sampai menabraknya. Denia pun melanjutkan perjalanannya sambil memukul kepalanya."Dasar bodoh"kata Denia. Ternyata Britsh masih belum jauh dari Denia. Ia tersenyum melihat kelakuan Denia tersebut, namun Denia tak menyadari kalau Britsh berhenti dan memperhatikan sikapnya barusan.


Britsh masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi empuknya. Ia tampak lelah, karena mengurusi semua perusahaan.


"Anak itu, dimana sekarang ia berada?"tanya Britsh pada dirinya sendiri. Ia seperti mencari seseorang, tentu saja orang yang di carinya adalah adik sepupunya Steven. Karena, Bibinya meminta bantuan padanya beberapa hari lalu untuk menemukan Steven agar pulang dan membantu perusahaan. Hubungan Steven dan Britsh merenggang semenjak Britsh berpacaran dengan Marsya, kekasih Britsh yang telah meninggal 6 tahun silam.


Britsh berusaha melupakan Marsya dengan pindah kuliah ke Amerika dan untuk memperbaiki hubungan saudara sepupu tersebut. Steven masih kecewa padanya. Hingga mereka selesai kuliah, keduanya sudah mulai melupakan masalah lalu, namun Steven masih sedikit kecewa hingga ia tidak mau ikut mengurus perusahaan bersama Britsh. Selain ia tidak ingin berada satu gedung yang sama dengan Britsh, ia juga masih belum mau mengelola perusahaan kakeknya tersebut.


Tok...tok..tok...


"Masuk"kata Britsh setelah mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya.


"Tuan, sepertinya anda harus menandatangani berkas ini" kata Pak Broto sambil menyerahkan beberapa berkas di meja Britsh.


"Bagaimana kerja sama dengan Perusahaan X?, apa mereka menerima tawaran kita?"tanya Britsh

__ADS_1


"Mereka masih belum memberi keputusan tuan"kata pak Broto dengan sopan.


"Baiklah, kamu kabari saya kalau sudah ada kabar dari mereka" kata Britsh sambil terus menandatangani berkas laporan yang diberikan pak Broto.


"Baik tuan"kata pak Broto. Britsh menyerahkan semua berkas yang telah ditandatanganinya tersebut pada pak Broto."Kalau begitu saya permisi tuan"kata pak Broto sambil membungkukkan badannya


"Silahkan"kata Britsh mempersilahkan pak Broto pergi. Pak Broto keluar dari ruang kerja Britsh dan mengunci pintu kembali. Britsh membuka lacinya dan mengambil foto mereka bertiga waktu SMA.


*****


Steven merogoh saku celananya saat ia sedang berjalan-jalan disekitaran komplek rumahnya. "Sama sekali tidak ada uang"gumamnya dengan kesal. padahal ia berencana mau membeli minuman di market yang dilihatnya dalam perjalanannya. Denia kebetulan lewat, Steven pun menghentikan langkah Denia.


"Wah kebetulan ada kamu"kata Steven yang membuat Denia terkejut.


"Ada apa?, kamu selalu membuatku kaget"kata Denia.


Steven merasa ragu-ragu ingin mengatakannya atau tidak pada Denia, kalau ia tidak punya uang dan ingin membeli minuman.


"Kebetulan ada kamu, jadi kita bisa pulang bareng"kata Steven berbohong. Ternyata rasa segannya jauh lebih besar daripada keberaniannya. Steven merasa tidak enak hati kalau sampai Denia yang membayar minuman untuknya.


"Aku kira asa apa"celetuk Denia. Mereka pun pulang bersama menuju rumah kontrakan mereka.


"Apa adik kamu sudah kembali sekolah?"tanya Steven.


"Syukurlah, ia sekolah lagi karena beasiswa dari sekolahnya. Tapi sepertinya ada yang membayarkannya"kata Denia.


"Maksudnya?"tanya Steven terkejut. Ternyata Denia maaih mencurigai mengenai orang yang telah membiayai uang sekolah adiknya.

__ADS_1


*******


Bersambung...


__ADS_2