
Britsh menatap ke arah pintu kamar hotelnya yang terkunci secara otomatis setelah kepergian Ibu Yeni. Ibu Yeni mempercepat langkahnya setelah keluar dari kamar Britsh sambil menyeringai penuh kepuasan, seolah ia senang telah berhasil mengatakan kelemahan putranya. Britsh terduduk lemas di kursi sofanya sambil menunduk dan kedu tangannya menutupi wajah dan rambutnya. Ia merasa Ibunya sudah menggali kembali kenangan lamanya bersama sang mantan. Meski bukan karena Marsya ia menolak perjodohan dengan Kayla, namun perkataan ibunya yang menyebutkan nama sang mantan, membuatnya kembali mengingatnya. Hal itu membuatnya sedikit gemetar, ia menyandarkan tubuhnya di sofa untuk menenangkan fikirannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, Britsh dengan langkah yang masih lemah melangkah ke tempat ia menyimpan ponselnya. Britsh melihat panggilan yang masuk di ponselnya ternyata dari ibunya yang sedang berada di parkiran Hotel. Dengan malas Britsh mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Britsh, dengar kata mama, kamu harus segera meminta maaf pada Kayla, jika kamu tidak ingin mama membahas mantan kamu yang sudah meninggal itu" jelas Ibu Yeni sembari menekan tombol off di ponselnya dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah di tunggu oleh supir pribadinya.
Britsh masih terdiam setelah mendengar pesan dari ibunya dari telelon, perlahan ia menurunkan ponsel dari telinganya dan terduduk di kasur yang empuk itu. Masih saja ibunya mengancamnya melalui sang kekasihnya yang sudah meninggal. Britsh kembali mengambil ponselnya dan menekan salah satu nomor di ponselnya. Ternyata Britsh menelpon Denia.
Denia dengan ragu untuk mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Britsh, sehingga Nindy melihat pada ponsel Denia, untuk melihat siapa yang menghubungi sahabatnya itu. Nindy pun tersenyum, ketika ia melihat nama kontak yang menghubungi Denia sembari mengerutkan bibirnya dan matanya melirik Denia. Hal itu tentu membuat Denia menjadi malu, ia pun mengangkat teleponnya setelah ia menjauh dari Nindy.
"Halo, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?"tanya Denia sedikit heran. Dia tidak menyangka, jika Britsh menghubunginya di saat libur kerja, tentu saja Denia merasa heran dengan bertanya-tanya di dalam hatinya. Nindy dengan segera menghampiri Denia untuk menguping pembicaraan Denia dengan Britsh. Denia membiarkan sahabatnya itu menguping, karena ia tidak bisa untuk mengusirnya ditambah ia penasaran dengan jawaban Britsh yang menelponnya.
"Bukan, bukan soal kerjaan"jawab Britsh.
Mendengar jawaban Britsh sontak membuat Denia penasaran, hal apa yang membuat Britsh menghubunginya jika bukan soal kerjaan. Nindy yang penasaran tidak mendengar jawaban dari Britsh meski ia mendekatkan telinganya pada ponsel Denia. Denia memperhatikan tingkah sahabatnya itu, sehingga Nindy pun berbisik pada Denia, apa alasan Britsh menelponnya.
"Begini, kamu ada waktu hari ini?"tanya Britsh lirih.
Mendengar jawaban Britsh, Denia merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada Britsh.
"Saya ada waktu pak, saya juga tidak kemana-mana hari ini"jelas Denia.
Mendengar jawaban Denia, membuat Nindy tersenyum. Meski ia tidak dapat mendengar suara Britsh dengan jelas, namun ia sudah mengerti tujuan Britsh menelpon Denia.
"Baik pak.. Baik" jawab Denia setelah mendengar tempat mereka untuk bertemu sembari mengakhiri teleponnya.
"Cieeee.... Eheeemmm... Panjang umur dia, baru aja kita bicara tentang dia"kata Nindy menggoda Denia.
Denia terlihat malu dengan candaan sahabatnya itu. Wajahnya sedikit memerah, bagai terbakar.
"Terus kalian akan bertemu nih?. Jangan-jangan Bos mu ada rasa padamu"kata Nindy
__ADS_1
"Jangan sembarangan bicara ah. sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Pak Britsh, makanya ia mengajak ketemu"jelas Denia.
"Terus dia ngajak karyawannya gitu?"tanya Nindy yang tidak percaya.
"Nggak tahu lah, ya uda aku bersiap-siap dulu ya"kata Denia sembari melangkah meninggalkan Nindy.
Nindy menatap kepergian Denia dengan tatapan mencurigakan, Ia beranggapan jika Britsh menghubungi Denia bukan karena Denia karyawannya. Bagaimana mungkin bos sebuah perusahaan besar mengajak karyawannya untuk bertemu di hari libur kerja. Meski begitu, Nindy tidak terlalu ikut campur.
Tidak lama kemudian Denia kembali ke ruang tamu, dimana Nindy masih menunggunya, duduk di kursi menatap penampilan Denia yang mengenakan stelan kasual, kaos putih dan celana jeans.
"Kamu ingin bertemu bosmu dengan tampilan seperti ini?"tanya Nindy sedikit mengerutkan keningnya.
"Ia, emang kenapa?"tanya Denia sembari menatap dirinya dari atas sampai ke kaki. Ia merasa tidak ada yang salah pada penampilannya. Namun berbeda dari Nindy yang beranggapan jika Denia itu sedang diajak kencan oleh Bosnya, sehingga menurut Nindy tampiln Denia itu biasa saja.
"Masa kamu ketemu bos kamu pakaian seperti itu?, Pakai gaun, gitu"saran Nindy.
"Aku sudah tidak punya waktu lagi, aku tidak ingin Pak Britsh menunggu terlalu lama"kata Denia. Denia pun bersiap-siap untuk berangkat.
"Aku juga mau pulang"jawab Nindy.
Denia dan Nindy pun melangkah ke luar rumah, Nindy menuju rumahnya, sementara Denia menuju halte bis. Meski Britsh menawarkan menjemput Denia, namun Denia lebih memilih untuk naik bus.
Tidak menunggu lama, bus untuk tujuan Restaurant "K" segera tiba di halte bis dan Denia pun menaikinya dan duduk di salah satu bangku yang kosong.
Denia duduk menatap keluar kaca jendela dengan tatapan kosong. Saat ia memalingkan wajahnya, ia melihat seorang ibu dan bapak bersama kedua putri mereka sedang bercanda di dalam bus. Kembali kenangan lama dirinya bersama kedua orang tuanya terlintas di dalam fikirannya.
#FLASH BACK#
"Denia, Delia ayo kita jalan-jalan" panggil pak Doris pada kedua putrinya.
__ADS_1
Denia berlari menghampiri ayahnya, sementara Delia sedang di gendong ibunya juga ikut menghampiri ayahnya.
Pak Doris memeluk Denia sembari berlutut, karena tubuh Denia yang kecil.
"Putri ayah sangat cantik sekali"puji Pak Doris
Denia memeluk ayahnya dengan tawa bahagia.
Setelah memeluk Denia, Pak Doris memeluk istrinya dan Delia.
"Kita mau kemana, ayah?"tanya Delia sembari memegang celana kerja ayahnya, membuat Pak Doris kembali berlutut untuk menyeimbangkan tinggi putri pertamanya itu.
"Delia mau kemana?"tanya pak Doris.
"Taman bermain" teriak Denia dengan antusias.
"Taman bermain?, Denia mau ke taman bermain?"tanya Pak Doris menirukan suara Denia.
"hmmm... jawab Denia.
"Baiklah, kita ke taman bermain hari ini"kata pak Doris.
"Horeeee..... kata Denia kegirangan. Ia mengangkat kedua tangannya keatas. Pak Doris pun memeluk menggendong Denia dan memeluk istrinya.
#FLASHBACK OFF#
Tidak sadar, Denia meneteskan air matanya, namun ia tersenyum melihat kedekatan keluarga yang berada di bangku belakang bus. Ia masih merasakan kedua orang tuanya saat ia masih kecil, dan tidak terasa waktu cepat berlalu. Andai saja saat itu kedua orang tuanya tidak membawa mereka lagi ke taman bermain, pasti insiden kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Tidak terasa,Denia tiba di halte "S", ia pun segera turun setelah sadar tujuannya.
__ADS_1
***
Bersambung...