Denia Aku Sangat Mencintaimu

Denia Aku Sangat Mencintaimu
Episode 3 - President Direktur Hotel


__ADS_3

Kaki Denia terasa lemas, karena tidak sanggup menanggung beban hidup, yang dihadapinya selama 4 tahun terakhir ini.


"Kamu istirahat saja dulu, biar aku yang gantikan" saran nindi yang memprihatinkan keadaan Denia.


"Tidak usah, aku masih bisa kerja kok" ucap Denia meyakinkan dirinya sendiri, kalau kondisinya baik-baik saja. Nindi tidak bisa berbuat apa-apa karena tawarannya ditolak oleh Denia.


Denia mencoba melangkahkan kakinya ke meja kerjanya yang kebetulan kedatangan pembeli. Langkahnya terasa lemah namun harus berusaha untuk kuat.


"Pesan apa kk" tanya Denia kepada pelanggan tersebut. Tidak beberapa lama Denia memberikan minuman sesuai pesanan pelanggan tersebut.


***


Angelica dan Nindi berjalan kaki pulang menuju rumah mereka. Jarak cafe ke rumah mereka tidak begitu jauh, hanya menghabiskan waktu 15 menit dengan berjalan kaki.


" Apa kamu masih memikirkan soal PHK dipekerjaanmu itu?" tanya Nindi, setelah melihat Denia jalan sambil menunduk.


"Ini semua karena adik kamu itu, dia benar-benar keterlaluan sekali. Kamu terlalu memanjakannya, sehingga dia jadi melunjak sama kamu." tambah Nindi merasa kesal pada Delia.


"Kamu masih aja baik padanya setelah semua yang dilakukan padamu"


"Aku tidak bisa membencinya, meski bagaimanapun dia keluarga ku satu-satunya" jawab Delia dengan nada pelan.


"Iya, tapi dia sudah keterlaluan sekali, sudah dibiayai sekolah, malah uang sekolahnya dipakai buat bersenang-senang" kata Nindi.


"Aku sudah berjanji pada orang tuaku untuk membiayainya sekolah sampai Perguruan Tinggi apapun yang terjadi. Aku tidak ingin dia putus sekolah sepertiku"ucap Denia lirih.


Sebenarnya hati Denia merasa sakit sekali, melihat kelakuan adiknya tersebut, namun dirinya tidak bisa lama-lama membencinya.


"Maaf ya Denia". ucap Nindi yang tidak bermaksud membuat Denia tambah sedih.

__ADS_1


Denia mengerti tak ada niat buat Nindi untuk menyakiti hatinya, sehingga Denia tersenyum mendengar kata maaf dari sahabatnya itu sambil menganggukkan kepalanya.


Saat Denia tiba di rumah, ia mendapati rumahnya berantakan. Sampah makanan, dan minuman berserakan di atas meja. Denia menghampiri adiknya yang sedang tidur pulas dikursi dan masih memakai pakaian sekolahnya.


"Kenapa kamu tidur disini?" gumam Denia dalam hati. Denia berjalan ke kamar, mengambil sebuah selimut dan menyelimuti Delia agar tidak kedinginan. Setelah itu dia membereskan sampah-sampah yang berserakan di atas meja.


****


Denia berjalan terburu-buru, berjalan dari rumahnya menuju halte bis. Denia lupa menghidupkan alarmnya tadi, sehingga dia telat bangun pagi ini. Sesekali dia melihat jam tangannya. Denia berhenti di halte bis dengan nafas yang ngos-ngosan. Bersyukur, bis menuju tempat kerjanya langsung datang, tanpa harus menunggu lama.


Denia berebut masuk dengan penumpang lain untuk menaiki bis tersebut, agar tidak ketinggalan. Karena bis yang menuju tempat kerjanya selalu padat, dan harus menunggu 30 menit lagi untuk bis selanjutnya.


Denia harus rela berdiri didalam bis, karena sudah tidak ada bangku yang kosong. Denia merasa lega, karena masih bisa masuk ke bis, meski harus berdesakan dengan penumpang lain.


Setelah sampai dihalte bis dekat kantornya, Denia langsung berlari menuju kantornya, agar tidak terlambat. Waktu yang diperhitungkannya tepat, sehingga tidak terlambat.


"Untung aja tidak telat" ucap Denia yang masih mengatur nafasnya karena lelah berlari, dan langsung mengganti seragam kerjanya.


"Denia kamu tidak makan?" tanya Mira yang merupakan salah satu pegawai Cleaning service disana. Denia tersadar kalau dirinya melewatkan jam makan siang. Ia pun buru-buru menyelesaikan tugasnya sebelum makan isi bekal makanan yang telah dibawanya.


"Selamat makan" ucap Denia pada dirinya sendiri setelah membuka bekal makanan yang dibawanya. Isi bekal Denia hanya omelet dan nasi . Karena hanya itu persediaan yang ada dirumah, demi menghemat pengeluaran.


***


Delia merasa kesal saat pulang dari sekolah, dia membuka tudung saji hanya ada omelet untuk lauk makan siangnya.


"Apa-apaan ini"Gerutu Delia, tidk percaya dengan apa yang dilihatnya. Delia kembali menutup tudung saji,dan menelpon kakaknya.


"Dimana makan siangku?"tanya Delia setelah memastikan Denia mengangkat telponnya.

__ADS_1


" Di tudung saji sudah kakak masak omelet, kamu makan saja" ucap Denia menjelaskan.


"Apa kau fikir aku bisa makan, makanan seperti itu?" tanya Delia dengan nada kerasnya. Speaker ponselmya di dekatkan ke mulutnya, agar Denia mendengar keluhannya.


" Cuma itu yang bisa kakak masak, kamu makan itu aja ya, karena......" ucap Denia.


Belum selesai Denia menjelaskan kata selanjutnya, Delia langsung mematikan ponselnya, karena tidak ingin mendengarkan penjelasan kakaknya tersebut.


"Halo...haloo" Kata Denia dari tempat kerjanya, tidak mengetahui alasan Delia mematikan ponselnya secara mendadak. Denia melihat ponselnya yang sudah tidak terhubung lagi dengan Delia.


*****


Di Sebuah hotel Elit yang terletak dipusat kota, tampak seorang Pria tampan bernama Britsh sedang bersiap-siap dikamarnya. Badan setengah telanjangnya menampakkan bagian atas tubuhnya. Otot dada dan perutnya terlihat sempurna, sebelum akhirnya di tutup oleh kemeja putih, dan jas hitam. Britsh memperhatikan penampilannya di depan cermin. Setelah memastikan, kalau dirinya benar-benar selesai.


Britsh pun melangkah keluar dari kamarnya, menuju mobil yang sudah menunggunya, untuk mengantarkannya ke lokasi Hotel, salah satu perusahaan Sentosa Group. Hari ini adalah perayaan penyambutan Direktur baru, sekaligus cucu dari Pak Roy, di hotel Sentosa. Begitulah keluarganya memberi nama pada hotelnya. Tidak ada alasan khusus untuk memberikan nama perusahaan yang di bangunnya tersebut.


Hotel tersebut merupakan hotel bintang lima yang sangat mewah. Dilengkapi dengan berbagai jenis kamar. Mulai dari yang standart room, sampai yang suit/presidential room. Terdapat kolam renang, dan mall juga didalamnya. Sehingga, memudahkan bagi pengunjung untuk berbelanja. Selain itu, hotel juga menyediakan restaurant yang menyediakan berbagai macam jenis makanan dari berbagai negara dan di lengkapi oleh para koki handal.


Terlihat banyak yang sudah berkumpul diacara tersebut. Mobil Britsh dan keluarganya sudah tiba didepan gedung hotel, yang di kawal oleh beberapa penjaga dibelakangnya. Britsh dan keluarganya turun dari mobil yang sudah di buka oleh pengawal.


"Dimana anak ini berada" ucap ibu Sofia dengan kesal sambil mencoba menelpon seseorang dengan ponselnya. Ibu Sofia merupakan tante Britsh, adik dari papanya. Karena ayahnya hanya mempunyai 1 saudara. Ibu Sofia memiliki anak laki-laki, bernama Steven.


Sepertinya ia sedang menunggu anaknya yang belum hadir dan berusaha menghubunginya. Seorang Pengawal menuntun Britsh dan keluarganya menuju kursi paling depan.


Ibu sofia duduk disamping ibu Yeni. Wajah ibu Sofia terlihat cemas dan panik, karena anaknya tidak kunjung hadir, padahal acara akan dimulai. Ibu Yeni menanyakan, dimana putra Ibu Sofia berada, namun Ibu sofia mengatakan kalau dirinya tidak tahu. Ibu Yeni adalah mama dari Britsh, yang merupakan Ipar dari Ibu Sofia. Pak Satria Sanjaya, yang merupakan papa dari Britsh Sanjaya tidak ikut hadir di acara tersebut, karena sakit. Sudah 2 tahun, dirinya terbaring di rumah sakit karena koma. Hanya keajaiban yang membuatnya bertahan selama itu.


Acara pun dimulai, yang diawali dengan acara hiburan, sebelum acara perkenalan Direktur baru dan cucu dari Pak Roy Sanjaya. Tampak berbagai makanan dan minuman tersedia di meja para tamu. Tibalah acara berikutnya, untuk Pak Roy memperkenalkan cucu kesayangannya itu sebagai Presiden Direktur diperusahaan tersebut. Britsh langsung membungkukkan badannya kepada para tamu dan memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya Britsh Sanjaya, saya adalah Direktur yang baru, di perusahaan ini. Saya berharap, kalian menikmati pesta penyambutan hari ini. " Ucap Britsh, yang di sambut dengan tepuk tangan meriah oleh para tamu undangan. Tampak kelegaan dan penuh kemenangan terpancar di wajah ibu Yeni, melihat putranya menjadi Direktur di perusahaan Sentosa. Sementara, ibu Sofia merasa gelisah, karena anaknya masih tidak tahu dimana.

__ADS_1


*****


Bersambung..


__ADS_2