
"Sudahlah, kamu santai saja disitu"kata Britsh.
"Baik pak"jawab Denia singkat.
Karena lelah menunggu Britsh yang sedang bekerja, Denia akhirnya mengantuk. Akhirnya dia tanpa sadar ketiduran di kursi sofa tempat dia duduk. Britsh baru selesai dengan pekerjaannya setelah kurang lebih 2 jam dia harus dihadapkan pada dokumen-dokumen penting di meja kerjanya. dia menyusun dokumen-dokumen itu sembari melihat ke kursi tempat Denia duduk.
Britsh tersenyum tipis melihat Denia yang tertidur pulas di kursi. Bagaimana bisa seorang pegawai berani tidur di depan bosnya. Namun, Britsh tidak marah karena kejadian itu, dia malah memakluminya karena Denia juga pasti lelah menunggunya selesai mengerjakan dokumen-dokumen penting itu. Selain itu Denia juga harus bekerja part time di malam hari.
Britsh membiarkan Denia tidur. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian Denia terbangun dari tidurnya, dia mengucek kedua matanya dan baru tersadar kalau dia sedang berada di ruang bosnya.
"Apa tidurmu nyenyak?" ledek Britsh yang berada berdiri di pinggir kaca jendela ruang kerjanya sembari menatap ke luar.
"maaf pak, saya tidak sengaja tidur di sini"jawab Denia dengan lirih.
Tentu saja Britsh mengetahui kalau Denia tidak sengaja tidur di sofa, namun dia masih menggoda Denia. Tidak tahu mengapa tetapi semenjak kejadian Arya terjatuh di gudang tempat penyimpanan barang-barang kebersihan waktu itu, dia lebih suka meledek atau menggoda Denia, seperti yang di lakukannya mengenai jam tangan waktu itu.
"Berani sekali kamu tidur di depan bosmu hari pertama sebagai asisten pribadi"kata Britsh sembari menyembunyikan senyumannya.
"Ma..maaf pak"kata Denia dengan ketakutan. dia tidak menyadari kalau Britsh hanya menggodanya saja, dia menganggapnya serius.
"Kamu tahu kan, saya tidak suka pegawai yang kerjanya malas-malasan?"kata Britsh sedikit meninggikan nada suaranya.
"maaf pak"kata Denia sembari menundukkan kepalanya.
"Baiklah maaf kamu di terima"kata Britsh
"Hah?"kata Denia terkejut.
"Sebagai hukumannya, kamu bawa dokumen ini dan serahkan pada pak Ridwan"kata Britsh sembari menunjuk tumpukan dokumen di atas meja kerjanya.
Pandangan Denia terpelongo melihat dokumen yang di atas meja kerja Britsh begitu banyak. Untuk ukuran badan semungil dia membawa semua dokumen itu mungkin sangat keberatan, namun dia tidak dapat menolaknya karena itu adalah perintah bos sekaligus hukuman untuknya.
__ADS_1
"mengapa?, apa kamu menolaknya?"tanya Britsh sembari menyembunyikan senyumannya.
"Tidak pak, saya akan membawanya" jawab Denia sembari melangkah dengan berat ke meja kerja Britsh. Denia mulai mengangkat dokumen tersebut dengan kedua tangannya. Meski dia mengangkat dengan kedua tangannya, tentu saja dia masih merasa berat. Dokumen tersebut lebih berat di banding alat kebersihan yang selama ini di pegangnya.
Denia berusaha untuk mengangkatnya meski dengan langkah yang tertatih. Melihat kejadian yang didepannya tersebut tentu membuat Britsh tersenyum puas. dia merasa berhasil telah mengerjai Denia.
Denia membawa dokumen tersebut melalui lift. dia menekan tombol lift dengan kesusahan karena dokumen tersebut.
"Seharusnya aku tidak tertidur di dalam ruang kerja pak Britsh" kata Denia menyesali perbuatannya.
Tiinnggg...
Pintu lift terbuka setelah tiba di lantai dasar. Denia keluar dengan sangat hati-hati, karena pergerakan lambatnya di dalam lift, pintu lift hampir tertutup namun Denia berhasil keluar meski badannya terjepit pintu lift.
"Auuuu"teriaknya kesakitan. dia kembali mengatur langkahnya untuk membawa beban berat itu keluar di mana pak Ridwan berada. Sesekali dia memungut dokumen itu di lantai karena terjatuh dari tangannya.
Denia pun akhirnya tiba di parkiran, di mana mobil Britsh di parkirkan. Britsh melihat Denia dari atas ruang kerjanya sembari tersenyum puas.
"Permisi pak"teriak Denia.
"Ini pak, pak Britsh menyuruh saya untuk menyerahkan ini pada bapak"kata Denia.
"Hah?"tanya pak Ridwan. dia baru tahu kalau dokumen kantor harus di bawa pulang, karena biasanya dokumen itu di tinggal di ruang kerja Britsh.
"Kok pak Britsh tumben, menyerahkan dokumen ini kembali pada saya?. Bukannya biasanya ini di letakkan di ruang kerja tuan muda Britsh ya?"tanya Pak Ridwan.
"Hah?"tanya Denia dengan ekspresi bingungnya..
"Ini dokumen penting semua non, jadi biasanya tuan muda Britsh menyimpannya di kantor"kata pak Ridwan.
"Apa pak Britsh sengaja mengerjaiku ya?" batin Denia sedikit kesal. Jadi ini bagaimana pak?"tanya Denia.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya non, saya tanya tuan muda Britsh dahulu" kata pak Ridwan sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya. dia pun membuat panggilan pada Britsh.
"Ini bagaimana tuan muda?, mengapa dokumennya malah di serahkan kembali pada saya?"tanya pak Ridwan.
"Suruh dia bawa kembali dokumen itu keruangan saya"perintah Britsh sembari menatap Denia dan pak Ridwan dari jendela kerjanya.
"Non, kata tuan muda. Bawa kembali dokumen ini ke ruangannya"kata pak Ridwan.
"Hah?" gerutu Denia.
Bagaimana bisa dia harus bolak balik mengangkat beban seberat itu seorang diri. Yang ada bisa bisa badannya remuk. Pak Ridwan mencoba untuk memberikan bantuan, namun Denia menolaknya, karena dia takut kalau Britsh akan menghukumnya lebih parah lagi. Jadilah dia membawa kembali semua dokumen yang berat itu sendirian.
Langkahnya mulai berat, dia merasa tidak mampu lagi untuk membawa benda itu. dia pun menjadi menyesal karena tidak pernah mengikuti olahraga angkat besi atau taekwondo agar bisa mengangkat beban berat.
Saat Denia menuju ruang kerja Britsh, dia di perhatikan oleh Jenita yang tidak sengaja ingin melakukan tugasnya membersihkan kamar hotel yang lumayan jauh jaraknya karena meski satu gedung, namun beda arah antara kamar hotel dan kantor perusahaan.
Jenita mengikuti Denia sampai keruang kerja Britsh dengan diam-diam. dia penasaran pekerjaan apa yang dilakukan Denia untuk Britsh.
Denia mengetuk pintu dan langsung membuka pintu ruang kerja Britsh, setelah Britsh mengizinkannya untuk masuk.
Denia meletskkan kembali dokumen berharga itu di atas meja kerja Britsh yang membuat Britsh tertawa terbahak melihat penampilan Denia saat ini. Jenita semakin geram dan iri melihat Britsh tertawa di depan Denia. Karena dia sangat mengagumi dan menyukai Britsh sejak dia pertama bergabung di perusahaan Sentosa grup.
"Bapak pasti sengaja melakukannya?"tanya Denia sembari mengatur pernafasannya dan memegang pergelangan tangannya yang pegal karena mengangkat dokumen yang berat itu mondar mandir dari lantai 20 ke lantai dasar.
"Apa kamu sudah tidak mengantuk?"tanya Britsh.
Mendengar perkataan Britsh tersebut, Denia pun menyadari kalau Britsh hanya mengerjainya dan membuat Denia tertawa....
Ternyata tawa Denia mengandung arti tersendiri bagi Britsh, dia melirik Denia dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Di ruang pintu dan dinding kaca, membuat Jenita bisa melihat semua kejadian itu dengan jelas. Tatapannya berubah menjadi tajam.
__ADS_1
*****
Bersambung....