
Keesokan harinya, Britsh berangkat bekerja seperti biasanya. Ia sudah berpakaian rapi dengan memakai stelan jas berwarna navy dan kemeja berwarna putih ditambah dasi yang berwarna hitam.
Tampilannya selalu menarik, karena ia memiliki postur tubuh yang proporsional, ditambah wajahnya yang tampan disertai dua lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
Britsh mengambil ponsel dan tas berwarna hitam yang ia letakkan di lemari kecil disamping kasurnya, kemudian melangkah menuju pintu kamar hotelnya. Bagi Britsh, tidur di kamar hotel merupakan hal yang nyaman, apalagi saat bertengkar dengan ibunya.
***
Sesampainya di perusahaan, ternyata sudah banyak karyawannya yang datang. Mereka memberi hormat pada Britsh dengan membungkukkan badan mereka. Britsh tidak membutuhkan sebuah mobil untuk menuju perusahaannya, karena jarak dari kamarnya ke tempat ia bekerja tidak membutuhkan waktu lama, hanya turun dari lift dan berjalan ke arah kanan menuju kantornya.
Saat tiba di lantai paling atas, dimana tempat ruangannya berada, ia melihat ke meja Denia, dimana Denia masih belum datang. Britsh berhenti sejenak, bertanya-tanya kemana Denia. Namun, Britsh melanjutkan langkahnya ke dalam ruangannya, karena ia merasa jika Denia mungkin datang telat.
Saat Britsh membuka pintu ruang kerjanya, ia dikejutkan dengan kemunculan ibunya, yang sudah duduk di sofa ruang kerjanya dengan tatapan penuh kemarahan.
Britsh mengetahui dengan sikap mamanya tersebut, ia pun melangkah masuk dengan santai tanpa merasa bersalah.
"Kenapa mama sampai datang ke kantor?"tanya Britsh.
"Kemana kamu semalam?, kenapa tidak jadi meminta maaf pada Kayla?"
"Apa itu sangat penting?"
"Jelas saja sangat penting. Itu menyangkut harga diri mama.
Britsh tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan mamanya, bagaimana bisa hal seperti itu lebih penting dari harga diri anaknya. Namun, ia hanya djam saja dan duduk di kursi kerjanya, dan mulai membuka laptop yang berada di meja kerjanya.
"Britsh, kamu dengar mama tidak, sih?"tanya ibu Yeni yang mulai menyadari putra semata wayangnya itu hanya fokus pada pekerjaannya.
"Dengar, ma"kata Britsh datar.
__ADS_1
"Jadi kapan kamu akan meminta maaf pada Kayla?"tanya ibu Yeni.
Britsh hanya diam saja, dan hanya mengetik sesuatu di laptopnya.
"Tadi pagi, ibu Melinda menelpon mama, mama sangat malu"kata ibu Yeni.
Britsh menghentikan ketikannya, namun matanya fokus pada layar laptopnya.
"Britsh!!"bentak ibu Yeni.
Britsh pun menatap ke arah ibunya, ia tahu jika ibunya itu sedang dalam keadaan marah. Meski ia mencoba mengabaikannya, namun ia tidak ingin membuat suasana menjadi lebih kacau. Ditambah lagi, ibunya yang selalu membawa nama mantan kekasihnya dalam permasalahan mereka.
"Nanti Britsh akan meminta maaf pada Kayla" jawab Britsh datar.
Mendengar jawaban putranya itu, ibu Yeni merasa bahagia. Ia sedikit tersenyum, meski ia menyembunyikan kebahagiaannya.
"Baiklah, kalau begitu ibu pulang dulu"kata ibu Yeni.
"Kali ini kamu harus menepati janji kamu"ancam ibu Yeni pada putranya dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Britsh.
Setelah mengetahui mamanya keluar dari ruangannya, Britsh menenangkan pikirannya, dengan menghirup nafas dalam dan membuangnya. Ia merasa terbebani dengan permintaan maaf ke Kayla.
Dalam perjalanannya menuju ke bassment, ibu Yeni mengambil ponselnya dari dalam tasnya, ia menghubungi Kayla, ia tampak sangat bersemangat memberitahukan Kayla jika Britsh akan segera meminta maaf padanya.
Saat sudah berada di depan pintu keluar perusahaan, ia berpapasan dengan Denia, hanya saja Denia tidak menyadari akan keberadaan ibu Yeni. Setelah ibu Yeni keluar, dan menjauh dari Denia, ia menyadari baru saja melewati seseorang yang menurutnya tidak asing.
Denia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya untuk melihat wanita yang baru saja melewatinya tadi. Sayangnya, wanita itu sudah masuk ke dalam mobil dan mobilnya perlahan meninggalkan perusahaan teraebut.
Denia kembali mengingat-ingat, dimana ia pernah bertemu orang itu, namun ia merasa semua hanya perasaan dia saja pernah bertemu dengan orang tersebut, sampai akhirnya ia di sadarkan oleh jam tangannya yang tak sengaja di lihatnya sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Denia pun berlari menuju lift yang hampir saja terkunci.
__ADS_1
Untungnya, Denia masih sempat mengejar lift itu sebelum tertutup. Di dalam lift ada beberapa karyawan yang menatapnya aneh, Denia merasa tidak enak hati dengan pandangan tajam mereka, yang seolah ingin memangsanya.
Menurut Denia, wajar saja satu perusahaan iri dengan jabatan yang di dapatnya saat ini, karena ia hanya berijazahkan SMA, meski sempat kuliah di bidang sekretaris, namun ia tidak sempat mendapatkan ijazahnya. Denia merasa tidak nyaman, tapi untungnya lift sudah terbuka, dan ia segera keluar dari dalam untuk menuju ruangannya. Denia berlari di lorong perusahaan untuk mendapati meja kerjanya.
***
Britsh keluar dari ruang kerjanya, dan melihat Denia sudah ada di meja kerjanya, dengan berkas-berkas yang harus diselesaikannya. Denia sadar akan kemunculan Britsh, dan langsung memberi hormat padanya. Britsh hanya tersenyum dan pergi melanjutkan langkahnya.
Denia hanya menatap punggung Britsh yang mulai menghilang, tanpa mengetahui kemana tujuan Britsh. Denia kembali duduk, dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Steven sedang berada di rumah kontrakannya yang kecil. Ia merasa sedikit bosan yang tidak punya aktivitas sebelum malam hari. Karena malam hari ia bekerja di cafe, paling tidak ia ada kesibukan. Steven beranjak dari sofanya dan menuju kulkasnya, mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Stock makanan dikulkasnya sudah habis, karena ia lupa untuk membelinya. Steven merasa sedikit kebingungan, karena keuangannya juga sudah mulai menipis dan gaji di cafe masih belum bisa diambil.
Steven mencoba mencari uang dalam dompetnya, dan menemukan sedikit uang. Ia pun berjalan ke luar menuju supermarket. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di supermarket karena jaraknya hanya 500 meter. Namun, Steven tetap menggunakan sepeda motornya kesana.
***
Setelah membeli beberapa yang ia butuhkan, Steven kembali dengan sepeda motornya dan melangkah masuk ke rumahnya. Namun, saat ia hendak membuka pintu rumahnya Steven melihat Delia yang baru saja kembali entah darimana
Kali ini, ia hanya membiarkannya saja, karena tidak ingin ditanyai yang aneh-aneh lagi oleh Delia. Delia melihat Steven yang hanya berdiri di teras rumahnya melihatnya. Delia tak menghiraukannya dan masuk saja ke rumahnya sembari memalingkan pandangannya dari Steven.
Steven pun masuk ke dalam rumahnya, dan mulai mengisi kulkasnya dengan makanan yang baru saja dibelinya dari supermarket.
***
Britsh kembali entah darimana menuju ke ruangannya. Denia hanya menatap Britsh dari meja kerjanya. Ia dapat merasakan jika Britsh dalam keadaan tidak baik-baik saja, dengan melihat raut wajahnya.
__ADS_1
***
Bersambung...