
Delia berlari sekuat tenaga, ia melihat ke belakang, karena takut jika kakaknya akan menangkapnya. Hingga ia tak sadar ada mobil yang lewat dari sampingnya. Delia pun tertabrak oleh sebuah mobil pick up yang melaju sangat kencang. Delia terpental sampai 100 meter dari tempat kejadian, dan mengalami banyak darah.
"Deliiiiaaaaaa!!" teriak Denia histeris.
Denia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya barusan. Adik satu-satunya yang sangat disayanginya, kini terbaring menggelepar di jalan Araya. Denia menghampiri Delia yang bersimbah banyak darah di seluruh tubuhnya dan berserakan di lantai.
"Delia, kamu harus kuat".
Delia bergetar, tubuhnya seolah menahan rasa sakit yang telah mengeluarkan banyak darah. Delia tampak lemah, dan pandangannya terasa kabur. Delia mencoba berbicara, namun ia terasa sudah tak kuat.
"Delia, bertahanlah. Kita harus cepat ke rumah sakit"
Delia menggelengkan kepalanya. Ia merasa sudah tak dapat lagi menahankan rasa sakitnya. Delia memegang tangan Denia sangat kuat, sehingga Denia merasa sedih saat melihat keadaan adiknya tersebut.
"Ma...maaa...
Delia tak dapat berbicara.
"Kamu tidak usah banyak bicara dulu, dek. Ayo kita harus ke rumah sakit". ucap Denia berusaha ingin membantu Delia bangun, dan Britsh mencoba membantu. Namun Delia lagi lagi menolak.
"Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku sudah tidak kuat lagi".
"Jangan bicara begitu, dek".
"Aku, min...ta ma..af sama ka..kak"ķta Delia terengah-engah.
Denia terkejut sekaligus terharu, karena baru pertama kalinya Delia menyebutnya dengan kata kakak.
"Aku min..ta ma..af, karena sudah menyusahkan kakak selama ini".
"Tidak, kamu sama sekali tidak menyusahkan kakak".
Delia menggelengkan kepalanya, karena ia sadar betul, jika Denia sangat menderita dibuatnya.
"Aku sudah jahat sama kakak. Aku minta maaf, kak. Sebenarnya aku kesini mau mencari calon ayah dari anakku"
"Anak?". Denia sama sekali tak mengerti maksud Delia. Hingga akhirnya Denia melihat ke bagian perut Delia dan daerah bawah yang sudah mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
"Kamu hamil?"
Delia kembali mengangguk. "Aku kebablasan, karena terbawa pengaruh minuman keras. Aku ingin memberitahukan kakak satu hal lagi. Sebenarnya uang sekolah selama ini, tidak aku gunakan untuk berpoyah-poyah, tapi aku simpan di dalam lemari kamarku.
Denia mendelik menatap Delia. Ia tak percaya dengan perkataan adiknya itu.
"Iya, kak. Aku menyimpannya disana. Aku melakukannya karena kecewa sama kakak. Kakak sudah banyak bekerja, hanya untuk membiayaiki. Sementara kakak sendiri tidak selesai kuliah".
Denia semakin merasa sedih, karena selama ini ternyata adiknya sangat menyayanginya. Namun cara yang ditunjukkan adiknya seolah sangat membencinya.
Delia teringat saat ia mendengar Denia menghubungi pihak sekolah, karena harus segera membayar uang sekolahnya. Denia berjanji akan segera membayarnya setelah ia mendapatkan uang. Delia kembali teringat saat ia masih kecil, kakaknya harus berhenti kuliah karena ia ingin membiayai uang sekolah Delia saat ia kasih duduk di bangku SMP. Delia keluar dari rumah karena merasa sedih dengan pengorbanan kakaknya itu.
Delia pun kembali teringat akan pengorbanan kakaknya yang sampai tidak makan, agar dirinya makan.
Delia kembali teringat ketika ia meminta uang secara paksa kepada kakaknya, karena kakaknya selalu menghemat untuk dirinya. Kemudian uangnya ia simpan kembali ke dalam lemarinya.
Semua pengorbanan yang dilakukan Denia, teringat kembali di kepala Delia saat ini. Ia merasa bersyukur telah memiliki kakak sebaik Denia.
"Terima kasih, kak. Kakak sudah banyak membantuku. Maaf aku tidak bisa menjadi seperti yang kakak harapkan. Aku harap kakak tidak perlu menghemat lagi untuk mengeluarkan uang. Kakak pakailah uang kakak sepuasnya".
Delia kemudian menghembuskan nafas terakhirnya, setelah mengucapkan semua perasaan yang ia pendam selama ini. Denia tak kuasa menahan kesedihannya, melihat adiknya sudah tidak bernyawa lagi. Denia pun berteriak sekeras-kerasnya.
****
Pemakaman Delia pun dilakukan, tak jauh dari tempat pemakaman kedua orang tuanya. Denia menangis di samping makam adiknya itu sembari menaburi bunga. Para tamu yang berziarah satu persatu meninggalkan tempat pemakaman. Kini Denia ditemani oleh Nindy dan Britsh. Steven hanya menatap dari kejauhan. Ia merasa sedang tak berguna untuk sekarang disaat Denia sedang bersedih.
Awalnya Steven menemani Denia saat berada di rumahnya, namun tak lama kemudian ia menghilang, setelah melihat kedatangan Britsh
Nindy berusaha menenangkan Denia yang menangis teraedu-sedu. Britsh juga ikut menenangkan Denia.
"Maafkan aku, Denia. Seharusnya aku menemani kamu disaat seperti ini".
***
Malam pun tiba, Denia duduk termenung di teras rumahnya. Kebetulan ia sudah ambil cuti beberapa hari dari cafe, begitupun dari Sentosa Group. Britsh sendiri yang memberi izin cuti pada Denia, sampai batas yang Denia inginkan.
Steven melihat dari dalam rumahnya, ia merasa tak bisa melakukan apapun untuk Denia.
__ADS_1
Denia masuk ke dalam rumahnya, ia teringat dengan perkataan Delia menyimpan semua uang yang ia minta dari Denia di dalam lemari kamarnya.
Steven melihat kepergian Denia dengan tatapan lirih.
Denia masuk ke dalam kamar Delia yang sudah tidak berpenghuni, hanya ada barang-barang Delia. Bahkan beberapa pakaian Delia masih berserakan di atas kasurnya. Denia tampak sedih, merasa kesunyian.
Denia pun membuka lemari pakaian yang ada di kamar adiknya tersebut, dan melihat amplop di bawah pakaiannya.
Denia memeluk amplop tersebut sembari menangis. Ia tak menyangka adiknya melakukan hal tersebut. Denia merasa sangat sedih, karena merasa ia selama ini terlalu sibuk memikirkan pekerjaan. Tidak ada waktu untuk adiknya itu semasa hidupnya.
***
Beberapa hari belakangan, semenjak ditinggal Delia. Denia merasa hilang semangat melakukan apapun. Ia tampak termenung di dalam rumahnya dan beberapa hari sudah cuti kerja. Karena sudah berhari-hari tidak masuk kerja, Nindy pun mendatangi rumah Denia, dan mendapati sahabatnya itu sedang termenung
"Nia..." ucapnya lirih sembari memeluk Denia dari belakang.
Nindy ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya itu. Denia meneteskan air matanya karena tak kuasa menahan kesedihan setelah ditinggalkan oleh adiknya untuk selama-lamanya.
"Jangan sedih lagi dong, Nia" kata Nindy menghibur sahabatnya.
"Aku masih tak menyangka, Nin. Delia pergi begitu cepat. Aku bahkan belum sempat membuatnya bahagia".
"Kamu yang sabar ya, Nia".
"Aku tak menyangka kalau Delia menyimpan semua uang yang ku kasih padanya. Aku jadi merasa bersalah padanya, karena tak punya waktu untuk menemaninya".
Nindy memeluk Denia semakin erat, ia merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Denia.
****
Keesokan harinya, Steven melihat rumah Denia masih dalam keadaan terkunci. Ia bertanya-tanya di
dalam hatinya, apakah Denia sudah masuk kerja atau masih berada di rumahnya. Karena merasa penasaran, akhirnya Steven memeriksa dari luar.
Steven mengintip dari lubang kunci pintu rumah Denia untuk mengecek apakah Denia ada di dalam atau tidak. Tanpa disadari oleh Steven, Denia membuka pintu rumahnya dan membuat Steven terdorong ke dalam...
***
__ADS_1
Bersambung...