
Sudah seminggu berlalu, Delia masih belum juga pulang ke rumah. Denia sangat khawarir memikirkan keadaan adiknya yang hanya satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Denia pun tak bisa menghubungi Delia, karena ponsel Delia telah rusak.
"Dimana kamu sekarang, Delia"lirih Denia.
Denia menjadi tak begitu semangat bekerja, terlihat dari raut wajahnya yang tampak murung. Ternyata Britsh sudah memperhatikan sikap Denia seharian ini yang tampak berbeda dari biasanya. Britsh pun mendekati meja Denia, ketika jam istirahat, dimana semua pegawai sudah tak ada lagi di ruangan.
tok...tok...tok...
Suara ketukan meja membuat Denia kaget, dan langsung melihat sumber suara itu berasal. Melihat Britsh yang ada di hadapan Denia, ia pun kaget dan langsung berdiri sembari memberi blow.
"Maaf, pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada. Hanya saja sepertinya kamu sedang tidak sehat hari ini"
Denia hanya diam dan menundukkan kepalanya, sehingga Britsh pun menatap Denia dengan penasaran.
"Ada apa?"
Maaf, pak. Sebenarnya ada masalah keluarga. Maaf kalau saya menjadi tidak fokus kerja".
Denia menyadari akan sikapnya belakangan ini dan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Oh, ya kalau begitu kita ke ruangan saya saja. Kamu bisa ceritakan masalah kamu, kalau kamu tidak keberatan".
Britsh memberikan saran pada Denia, agar Denia bisa menceritakan masalahnya dengan santai, Denia pun menuruti ajakan Britsh. Bagaimana pun ia merasa bersalah karena ketidakfokusannya di perusahaan.
***
Steven menghubungi seseorang.
"Kamu cari orang yang baru saja saya kirim fotonya. Kalau sudah ketemu, kamu kabari saya".
Steven mengakhiri pembicaraannya lewat telepon, ia tampak gelisah. Ternyata orang yang baru saja diteleoponnya adalah seorang bodyguard kepercayaan keluarganya, untuk meminta bantuan mencari keberadaan Delia. Ia bernama Brian, dimana Brian merupakan pria seusia Steven. Brian tak mempermasalahkan bayaran, jika itu perintah dari Steven.
Brian memaklumi keadaan Steven yang saat ini sedang tidak memegang kartu kreditnya. Beberapa hari ini, Brian sedang berada di kampungnya, karena harus merawat ibunya yang lagi sakit. Baru kemarin ia kembali lagi bekerja untuk keluarganya.
***
"Sekarang kamu bisa cerita sepuasnya pada saya"kata Britsh".
Awalnya Denia ragu, untuk menceritakan masalah keluarganya pada Britsh, namun karena Britsh terus memintanya, Denia pun akhirnya menceritakannya.
"Begini pak. Adik saya sudah seminggu ini sudah tidak pulang ke rumah".
"Adik kamu?. Bukankah kamu bilang, kamu hanya tinggal berdua dengan adik kamu, kan?"
Denia mengangguk pelan.
"Kenapa dia pergi dari rumah?, apa kamu sudah menghubungi polisi?"
__ADS_1
Denia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu belum melaporkan ke polisi?, agar polisi bisa membantu untuk mencari keberadaan adik kamu".
"Saya takut pak, kalau adik saya tahu, ia akan semakin lari semakin jauh"
"Kalau kamu tidak lapor ke polisi, kamu tidak akan pernah menemukan adik kamu"
Denia hanya diam saja, ia merasa jika perkataan Britsh ada benarnya juga.
"Ya sudah, kamu sekarang saya antar ke kantor polisi untuk membuat pengaduan".
Denia pun menuruti perintah Britsh. Mereka meninggalkan ruangan kerja Brritsh dan menuju pintu keluar kantor. Tidak ada yang mencurigai mereka, jika keluar bersama, karena karyawan akan menganggap mereka sedang melakukan tugas perusahaan. Namun berbeda dengan Jenita, yang tak sengaja melihat Britsh dan Denia saat berjalan bersama keluar dari pintu loby.
Jenita tampak kesal melihat Britsh dan Denia yang makin hari, makin dekat saja. Ia menghentakkan kaki kanannya ke lantai karena kesal.
"Kenapa dia yang lebih beruntung?, seharusnya itu aku. Aku yang paling lama bekerja disini"
Jenita tak terima dengan keneruntungan yang di dapat oleh Denia di perusahaan. Padahal Denia sendiri juga tidak mengharapkan lebih saat bekerja di Sentosa Group, hanya saja kesempatan baik lagi berpihak padanya.
Jenita melangkah dengan kesal, dan menghentakkan kakinya kembali ke lantai sembari merapatkan mulutnya.
***
Tak beberapa lama, mobil fortuner terparkir di depan kantor polisi. Britsh dan Denia pun turun dari mobil. Tampak Denia masih ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya masuk. Denia berdiam sejenak memandang bangunan yang ada di hadapannya. Britsh menyadari Denia tak ikut jalan bersamanya, ia pun kembali untuk menghampiri Denia.
"Nia, apa yang kamu lakukan?"
"Apa kamu masih ragu?"
Denia menggelengkan kepalanya, awalnya ia merasa ragu, namun sekarangia yakin untuk melaporkan kejadian tersebut pada polisi.
Denia mengikuti langkah Britsh dari belakang. Meski merasa tak nyaman, Britsh membiarkanhal tersebut. Ia tak ingin membuat Denia semakin bingung.
***
Steven mengendarai sepeda motornya, mengelilingi segala sudut kota untuk mencari Delia. Ia tak bisa hanya tinggal diam saja menunggu kabar dari bodyguardnya.
"Kemana anak itu pergi?". Merepotkan saja"kata Steven.
Sudah lebih satu jam ia mengendarai sepeda motornya, namun tak juga menemukan Delia.
Steven memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia membeli sebotol minuman, dan menepi ke pinggiran jalan. Sembari meneguk air minuman yang ia beli, kepalanya masih terus mencari keberadaan Delia. Ia menerka-nerka, daerah mana yang belum ia datangi.
Karena Steven kehabisan ide, ia pun kembali meneguk air minumannya.
****
Kayla berjalan di koridor Sentosa Group dengan sangat anggun, bak model yang sedang berjalan di catwalk. Kayla ingin menemui Britsh langsung ke tempat kerjanya, karena ingin memberikan surprise pada Britsh.
__ADS_1
Kayla menggunakan lift vip untuk sampai ke ruangan Britsh.
Seluruh karyawan yang berada di meja kerja mereka, terpelongo melihat kemunculan Kayla, yang tak pernah dilihat mereka sebelumnya.
Sebagian karyawati saling berbisik, siapakah gerangan yang datang.
Setibanya Kayla di depan ruangan Britsh, para karyawan/karyawati pun semakin terpelongo, seolah bertanya-tanya apakah hubungan Britsh dengan wanita yang dilihat mereka.
Kayla langsung membuka pintu ruangan Britsh yang sedang terkunci itu, Kayla mencoba mengulangi untuk membuka pintu tersebut, namun tetap gagal juga. Hingga seorang karyawan menghampirinya.
"Maaf, nona. Ada perlu apa ya?"
"Saya ingin bertemu Britsh. Apa dia ada di dalam?"
"Maaf, nona. Pak Britsh sedang keluar"
"Kemana dia pergi?"
"Maaf, nona saya tidak tahu. Nona siapa ya?"
"Saya..., saya pacarnya"
Seluruh karyawan di dalam ruangan itu pun semakin terpelongo mendengar Kayla mengatakan jika ia pacarnya Britsh, bahkan ada yang tak percaya jika Britsh sudah punya pacar. Karena, para karyawan di kantor tidak tahu jika Britsh sudah punya pacar lagi. Para karyawati saling berbisik, dan ada juga yang tak rela jika Britsh sudah punya pacar
"Ternyata pak Britsh sudah punya pacar"
"Pacarnya cantik sekali, pantesan pak Britsh kepincut".
Bisikan karyawati tersebut terdengar di telinga Kayla, dan membuatnya tersipu malu.
"Aku masih tak rela pak Britsh punya pacar. Aku sudah lama mengaguminya"
Kayla tak peduli dengan tatapan para karyawan/karyawati yang menatapnya dengan berbagai pandangan padanya, ia berbalik dan kembali pulang.
"Apa kau melihat bodynya?. Dia tampak seperti model".
Para karyawati masih menggosipi Kayla, meskipun dia sudah pergi dari ruangan mereka.
***
Britsh dan Denia keluar dari gedung kantor polisi.
"Semoga polisi cepat memprosesnya, agar Delia dapat segera ditemukan".
"Kamu tenang saja, serahkan semua pada polisi"
Britsh dan Denia pun meninggalkan area kantor polisi dan menuju ke Sentosa Group untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
***
__ADS_1
Bersambung...