
"Kamu tidak ingat aku?" Tanya Steven sambil menunjuk dirinya dengan tangannya. Denia menggelengkan kepalanya karena tidak mengingat Steven.
"Beberapa hari lalu kita bertemu, kamu hampir ditabrak" jelas Steven mencoba memberi petunjuk pada Denia, Ia pun mencoba mengingat-ingatnya kembali sampai akhirnya dia ingat dengan Steven.
"Oh orang yang waktu itu menyelamatkan saya, terima kasih sekali lagi" ucap Denia sambil membungkukkan badannya.
"Wah ternyata benar kita bertemu lagi, sepertinya janji kamu waktu itu berlaku juga ya" ucap Steven yang membuat Denia tak mengerti apa yang telah dia ucapkan saat itu.
"Maksudnya?"
"Kamu bilang akan membalasnya". Kata Steven sambil tersenyum.
"Oh itu, i..iyaa. Kalau kamu tidak keberatan kapan-kapan aku ingin traktir kamu untuk membalas kebaikan kamu kemarin" kata Denia yang memikirkan ide sepintas aja dikepalanya." Tapi apa yang membuat kamu kemari?" Tanya Denia lagi yang tak tahu apa yang dilakukan Steven di daerah lingkungannya tinggal, karena menurutnya tidak mungkin Steven mengikutinya sampai kerumahnya.
"Oh aku tinggal didaerah sini, baru hari ini pindah"jelas Steven, kepalanya menunjuk kesalah satu gang dilingkungan itu. "Kamu tinggal daerah sini juga?"
"Iya, aku tinggal digang sana" jelas Denia yang menunjuk arah gang rumahnya.
"Wah kebetulan sekali kita tinggal dilingkungan yang sama" kata steven dengan senyuman.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" ucap Denia yang merasa kikuk dengan senyum nakal Steven. Saat melangkah kepalanya sesekali melirik kebelakang seolah Steven akan mengikutinya. Tentu saja Steven berjalan dibelakang Denia karena gang rumah mereka ternyata sama. Denia merasa ketakutan dan mempercepat langkahnya.
"Kamu kenapa sampai mengikutiku kemari," ucap denia dengan nada keras saat tiba dirumahnya. Steven terkejut mendengar perkataan Denia tersebut kemudian tertawa. Menurutnya Denia sangat lucu karena mencurigainya.
"Aku tinggal disini" kata Steven yang menunjuk rumah tepat disamping rumah Denia. Wajah Denia berubah merah karena malu akan perbuatannya".
"Maa..maaf" kata Denia sambil melangkah masuk kedalam rumahnya. Steven yang melihat tingkah Denia hanya tersenyum karena lucu, kemudian menggelengkan kepalanya dan masuk kerumahnya.
Didalam rumah wajah denia masih merasa malu akan kelakuannya tadi, matanya ditutup karena menahan rasa malu.
"Ada apa denganmu?, kenapa kayak orang ketakutan gitu?" Tanya delia yang ternyata melihat tingkah Denia saat Denia masuk kerumah.
"Ah tidak apa-apa" kata Delia. "Kamu mau kemana lagi?" Tanya Denia yang melihat penampilan adiknya tersebut sudah rapi dengan stelan dress dan sepatu heelsnya.
"Bukan urusanmu, bagi uang donk" .kata Delia sambil membalikkan tangannya meminta.
__ADS_1
"Tidak ada" kata Denia dengan datarnya.
"Jangan bohong, aku buru-buru, cepat berikan" paksa Delia. Karena Denia tak kunjung memberikannya uang Delia dengan paksa menarik tas Denia kemudian mengambil sebuah amplop gaji yang diterimanya dari perusahaan x yang sudah memecatnya.
"Kembalikan uang itu Delia, uang itu untuk biaya sekolah kamu. Kata Delia memohon adiknya untuk mengembalikannya.
"Sekolah tidak penting" kata Delia
"Itu gaji terakhir kakak karena kakak sudah diPHK hari ini." Kata Denia yang mencoba merebut kembali uang tersebut dari tangan Delia. Delia dengan cepat menarik uang tersebut sehingga kesulitan bagi Denia untuk mengambilnya. Delia mendorong Kakaknya itu agar menjauh dari depan pintu. Denia mengejar adiknya yang sudah keluar dari rumah. Ternyata jerita Denia didengar oleh Steven, dirinya hanya melihat dari balik jendela rumahnya yang tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Denia pun kembali masuk kedalam rumahnya sambil menahan tangisnya.
*****
Denia dan Nindi seperti biasa bekerja di cafe dimalam hari. Denia masih tampak murung memikirkan uang yang diambil adiknya tadi. Namun tidak bisa mengatakan pada Nindi, karena Nindi pasti akan membenci adiknya.
"Kamu kenapa?, apa lamaranmu belum diterima?" Tanya Drnia yang menyadari wajah Denia murung.
Oh?, aah i..ya" jawab Denia dengan terbata-bata menyembunyikan yang sebenarnya.
"Sabar aja ya, tunggu aja, siapa tau nanti dipanggil" jawab Nindi menghibur sahabatnya itu. Denia hanya tersenyum.
Denia dan Nindi pulang kerumah, mereka pisah digang karena gang rumah mereka berbeda.
"Dari mana kamu?, tanya Steven memulai pembicaraan.
"Bukan urusan kamu" kata Denia yang merasa ketakutan. ia pun melangkah untuk menghindari Steven.
" Apa yang tadi siang itu adik kamu?" tanya Steven. Denia langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Steven.
"Bukan begitu, aku tak bermaksud menguping pertengkaran kalian. apa hubungan kalian tidak baik?" tanya Steven dengan gugup dan mencoba mencari tahu. Denia hanya diam saja, dan melangkah pergi meninggalkan Steven yang masih berdiri dijalan depan gang rumah mereka.
"Padahal aku ingin menawarkannya minum" gumam Steven dengan nada pelan sambil melihat plastik bawaannya.
Setelah tiba dirumah, Denia berjalan menuju kamarnya dan langsung meletakkan tasnya diatas tempat tidur. Sebelum tidur ia mencuci muka dan menyikat gigi terlebih dahulu kekamar mandi.
Ting..
__ADS_1
Ada pesan masuk diponselnya. Denia tidak menyadarinya karena sedang dikamar mandi. Beberapa saat kemudian dia tiba dikamar dan berganti piyama. Denia mengambil ponsel dari tasnya untuk melihat panggilan atau pesan masuk. Denia membuka pesan yang baru saja masuk keponselnya
" Selamat Anda diterima bekerja di Hotel Sentosa, datanglah besok pagi jam 08.00 wib".
Denia sangat senang dan mengekspresikan kebahagiannnya dikamar.
****
Keesokan harinya Denia bersiap-siap untuk berangkat keHotel Sentosa. Pagi ini ia bangun kesiangan karena tadi malam tidak bisa tidur karena terlalu bahagia.
"Siapkan aku sarapan" kata Delia sambil memakai seragam sekolahnya.
"Kakak buru-buru"
"Mau kemana kamu?" tanya Delia yang melihat kakaknya sudah rapi.
"kakak mau berangkat kerja"
"bukannya kamu sudah dipecat?"
"kakak baru saja diterima bekerja hari ini".
"Terus makanan ku bagaimana?" tanya Delia dengan nada emosi.
"Hari ini kamu masak sendiri dulu ya, kakak harus berangkat sekarang".kata Denia. Ia berlari melangkah keluar rumah. Delia sangat kecewa dengan sikap kakaknya tersebut.
"Paling juga dia bekerja sebagai beraih-bersih, gayanya sudah kayak pegawai kantoran aja" sindir Delia.
Steven sedang bersiap-siap pergi, ia melihat Denia berjalan dengan buru-buru. Ia pun mengejar Denia.
"Ayo naik" kata Steven menawarkan diri untuk memgantar Denia yang belum tahu tujuan Denia.
"Tidak usah" kata Denia sambil meneruskan jalannya.
"Sepertinya kamu sedang buru-buru, naiklah nanti kamu terlambat" kata Steven. Denia tak bisa menolak ajakan Steven tersebut, karena sudah hampir terlambat, Bis pun pasti lama. Sehingga ia pun menuruti perintah Steven. Denia memberitahu tujuannya setelah mereka jalan. Tak membutuhkan waktu lama bagi Steven untuk tiba ditempat tujuan Denia karena dia memang selalu mengendarai motornya dengan kencang. "Steven menghentikan motornya diluar gerbang sambil melihat-lihat sekitar.
__ADS_1
***
Bersambung