
Denia tak memiliki nyali untuk menatap balik wajah Britsh. dia merasa sangat ketakutan seakan Britsh akan menerkam dan memakannya secara hidup hidup.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Britsh.
"Sa.. saya hanya mengantar Paket pak" kata Denia dengan terbata-bata.
"Lalu mengapa kau tidur di sini?!, kau bisa hanya meletakkan paket itu dimejaku dan keluar"kata Britsh dengan penuh amarah. Entah apa sekarang yang ada dalam fikiran Britsh, dia terlihat tak seperti manusia saat ini.
"Kau sama saja dengan wanita murahan diluar sana, apa kamu pikir dengan kamu memberikan arloji murahan itu akan membuatku tergoda olehmu?" kata Britsh dengan tatapan najisnya melihat Denia. Hancur hati Denia mendengar perkataan Britsh yang mengatakannya dengan sebutan wanita murahan. Seumur hidupnya belum pernah ada yang berani menyebutnya dengan sebutan wanita murahan. dia memberanikan diri menatap Britsh dengan menahan air matanya.
"Apa kamu juga suruhan mamaku?" teriak Britsh sekerasnya karena sangat emosi. Denia masih menatapnya dengan tatapan marah dan emosi yang terpendam. dia masih menahan air matanya, dia mendongakkan matanya ke atas karena menahan tangis.
"Saya bukan wanita murahan seperti yang bapak sebutkan. Saya kesini untuk mengantarkan paket karena saya pikir paket tersebut sangat penting. Bapak memang berhak marah pada saya, tetapi saya juga punya hak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi"Kata Denia. Air matanya tak bisa ditahannya karena kata wanita murahan terngiang-ngiang di kepalanya."Tadi bapak ngigau, saya mencoba untuk menenangkan bapak, Bapak memegang tangan saya sampai bapak tertidur lagi, saya juga tidak sadar kalau saya juga tertidur. Hanya itu tidak lebih. Saya juga bukan suruhan ibunya Bapak. Permisi!"
Denia melangkah pergi meninggalkan ruangan Britsh. Air matanya tak bisa dibendungnya lagi, dia membiarkan mereka jatuh begitu saja membasahi wajahnya. Britsh membiarkan Denia pergi begitu saja untuk sesaat, sampai dia merasa kalau dia sudah sangat keterlaluan pada Denia. Tak seharusnya dia memarahi Denia seperti tadi. Britsh memegang kepalanya dan menjambak sedikit rambutnya dengan kedua tangannya karena menyesali perbuatannya tadi.
"Apa yang sudah aku lakukan?" kata Britsh, Tangannya memukul meja.
Denia berjalan dengan perasaan takut menuju gerbang Perusahaan Sentosa. dia melihat lihat apakah masih ada kendaraan umum yang lewat. Denia tak memiliki uang untuk membayar taksi, sehingga dia berjalan menuju halte bus meski dia tahu kalu bus sudah tidak ada lagi dijam sekarang ini. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Denia mengedipkan matanya menatap kearah hujan dan menutup kepalanya dengan tasnya. Angin terlihat sangat kencang, sehingga pepohonan bergoyang.
Britsh merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya tersebut. dia pun mengejar Denia sampai di depan pintu gerbang, namun dia tak berhasil mengejar Denia. Badannya basah karena terkena hujan. Britsh memutuskan untuk kembali keparkiran mengambil mobilnya dan melanjutkan mencari Denia.
Denia memeras pakaiannya yang basah kuyup di halte bus.
"Seharusnya aku tidak membiarkan diriku tertidur di sana" kata Denia. dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya untuk memastikan apakah ponselnya masih berfungsi atau rusak terkena air hujan.
__ADS_1
"Untung saja tidak rusak" kata Denia sambil memeluk ponselnya. dia melihat panggilan tak terjawab dari Nindy sebanyak 6 kali. dia berencana menelpon balik Nindy, namun dia mengurungkan niatnya karena ini masih terlalu pagi untuk bangun.
Britsh mengendarai mobilnya dengan kecepatan lambat mengitari jalan raya untuk mencari Denia. Britsh melihat kearah halte bus yang tak jauh dari kantornya. dia memastikan kalau wanita yang dihalte tersebut adalah Denia. Setelah yakin kalau itu Denia, Britsh pun turun dari mobilnya untuk menghampiri Denia. Tubuh Britsh kedinginan karena banyaknya hujan membasahi tubuhnya.
Denia terkejut melihat sosok pria yang dikenalnya menghampirinya di halte bus.
"Bapak?" kata Denia tak percaya. Tak ada difikirannya kalau Britsh akan menemuinya dan menyesali perbuatannya.
"di sini dingin sekali, masuklah"kata Britsh.
Tak butuh waktu lama bagi Denia untuk menerima tawaran Britsh tersebut. dia juga merasa kedinginan.
Britsh membawanya kembali kekantor, dia ingin menjelaskan mengapa dia sangat marah pada Denia. Britsh memarkirkan mobilnya diparkiran.
Britsh mengunci mobilnya dengan kunci otomatis. Parkiran sangat sepi, membuat Denia semakin merasa canggung berada didekat Britsh. Apalagi hanya mereka berdua yang ada diparkiran tersebut. Karena parkiran tersebut memang khusus untuk staff yang sudah tinggi jabatannya di Perusahaan Sentosa.
Britsh dan Denia tiba dikantor Britsh di mana tempat mereka tadi ribut. Britsh mengambilkan handuk untuk Denia. Denia mengeringkan rambut dan badannya yang basah terkena hujan. Britsh membuatkan kopi panas untuk Denia.
"Nih, diminum dahulu biar tidak dingin"kata Britsh sambil memberikan segelas kopi panas. Denia menerimanya dengan sedikit ragu. dia meniup kopi yang masih panas agar bisa diminumnya.
"Kalau kurang manis, kamu bisa menambahkannya gula, karena saya tidak tahu selera kamu bagaimana"kata Britsh
"Tidak pak, ini sudah cukup"kata Denia.
Suasana masih terasa canggung di antara mereka berdua. Terutama bagi Denia yang hanya seorang Cleaning servis dapat berbicara langsung pada bossnya yang sangat disegani orang. Denia memutuskan untuk melihat-lihat isi ruangan milik Britsh untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Matanya tertuju pada foto seorang gadis cantik yang terletak di meja kerja Britsh.
__ADS_1
"Ini siapa pak?, pacar bapak ya?" kata Denia.
Britsh hanya mengangguk membenarkan perkataan Denia, dia mendekatkan dirinya pada Denia untuk menjelaskan tentang foto tersebut.
"Dia beruntung sekali punya pacar setampan bapak "kata Denia.
"Banyak yang berkata seperti itu, tetapi bagiku akulah yang beruntung memiliki pacar secantik dia"kata Britsh.
"di mana pacar Bapak?" tanya Denia
Hari Patah Hati Nasional, begitulah pepatah yang cocok untuk para wanita yang mengagumi Britsh saat ini, terutama bagi Jenita. Para wanita harus terpaksa mengubur dalam dalam perasaan mereka untuk memiliki Britsh karena mereka memiliki saingan yang berat.
"Dia sudah meninggal" kata Britsh. Mendengar perkataan Britsh tersebut membuat Denia terkejut karena merasa tak percaya. Apa wanita ini yang membuat Britsh menangis dalam tidurnya, itulah yang ada dalam benak Denia saat ini.
"Alasanku tadi marah padamu, itu karena dia"kata Britsh.
"Setelah dia meninggal mamaku selalu menyodorkanku wanita agar aku segera menemukan penggantinya"
"Saya tak sepantasnya melampiaskan emosi saya padamu" tambah Britsh merasa menyesal.
"Bapak tidak perlu meminta maaf, saya tidak mengerti masalah bapak yang sebenarnya tetapi saya malah balik marah pada bapak"
Sangat menyedihkan mencintai orang yang sudah meninggal apalagi penyebab kematiannya karena kekasihnya sendiri. Itulah yang dirasakan Britsh saat ini, seumur hidupnya dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri dengan apa yang sudah terjadi 6 tahun silam.
******
__ADS_1