Dewi Bulan Merah

Dewi Bulan Merah
chapter 32


__ADS_3

Duan Luan menunjuk seorang laki-laki berbadan kurus yang berdiri di antara para penonton,pria itu adalah pemenang di ronde ke lima setelah mengalahkan lima orang dengan mudah.


laki-laki itu dengan tenang naik ke atas panggung pertandingan ,Duan Luan langsung menyerang nya tanpa memberi aba- aba.


Pria itu awal nya terkejut tapi dengan cepat bisa menyesuaikan diri,karna keahlian mereka yang lumayan seimbang pertandingan itu berlangsung lumayan lama dengan kemenangan yang diraih oleh Duan Luan.


Panitia pertandingan kembali mengumumkan siapa yang ingin menantang Duan Luan ,tapi tak ada satu pun yang berani naik ke atas panggung setelah melihat pria tadi dapat dikalahkan.


"apakah tidak ada yang ingin menantang nona ini lagi?"


susana hening tak ada yang menjawab.


"baiklah… karna tidak ada,selamat nona anda memenangkan ronde ke empat belas,anda berhak mendapat kan 500 koin perak,5 herbal tingkat tinggi,dan sebuah kitab elemen es."ujar sang panitia.


"terima kasih …"


Duan Luan kemudian membisik kan sesuatu ke telinga panitia itu.


"kau baik sekali nona…" ujar panitia itu pelan.


"hmm…nona,nona yang memakai cadar itu tolong naik ke sini sebentar!!!…" teriak panitia sambil menunjuk Shiren.


semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Shiren,Shiren dengan ragu maju ke depan untuk naik ke atas panggung.


"iya ada apa?…"


"begini semua nya… nona baik ini ingin memberikan hadiah yang telah di dapatkan nya pada temannya ini,dia bilang dia ingin membantu temannya ."jelas sang panitia.


"wah…dia baik sekali"


"tak kusangka dia sangat baik hati…"


"ah…nona kau akan jadi panutan ku!!!…"


begitulah kira-kira pujian yang dilontar kan para penonton pada Duan Luan.


"tunggu sebentar, apa maksudnya ini?"tanya Shiren masih tak mengerti.

__ADS_1


"teman …aku tahu dengan wajah mu yang sangat buruk rupa itu kau akan membutuhkan banyak selendang dan jubah untuk menutupinya.


jadi aku menyerahkan hadiah ku ini agar kau bisa membeli itu semua,bukankah kita adalah teman?jadi kau tak perlu sungkan…."ujar Duan Luan sambil tersenyum mengejek yang hanya bisa di lihat oleh Shiren.


"benarkah yang dikatakan nona itu?…"


"bisa jadi itu memang benar,lihat lah dia tidak membuka cadarnya dari tadi."


"huh…ternyata di balik cadar nya itu, dia menyembunyikan keburukannya."


bisik-bisik para penonton.


Duan Luan tersenyum manis, rencananya untuk mempermalukan Shiren di depan banyak orang, sepertinya akan berjalan lancar.


"tidak terima kasih,… aku masih punya banyak persediaan"ujar Shiren hendak beranjak pergi.


"apa-apaan dia!!, jelas-jelas nona itu sudah berbaik hati ,tapi dia malah menolaknya…"


"dasar tak tau terima kasih!!" ujar penonton di barisan paling depan.


Shiren hanya menghembuskan nafas nya kasar, kaki nya perlahan mulai melangkah, tapi baru selangkah ia berjalan Duan Luan langsung menghentikannya.


"cih!…membantu katanya…" gumam Shiren dalam hati


Shiren membalikkan badannya menghadap Duan Luan,Duan Luan tersenyum penuh arti.


"baiklah,dengan senang hati…"Shiren mengambil pedang yang tersedia di sana dan kembali naik ke atas panggung.


"kakak…"suara Zhi Shu mengema di pikiran Shiren.


"tenanglah, aku hanya ingin meregangkan otot-otot ku,bukankah sudah lama aku tidak berpedang lagi?" jawab Shiren


"aku tidak akan melarang mu…aku hanya ingin bilang semangat!!" suara Zhi Shu kembali mengema.


Shiren tersenyum di balik cadar nya sambil menatap Duan Luan tajam.


"baiklah …ini bukan pertandingan hidup dan mati jadi tidak diperbolehkan untuk membunuh lawan mu,yang tidak bisa lagi bangkit atau berdiri dengan tegak dinyatakan kalah begitu juga dengan yang bilang menyerah."

__ADS_1


"selebih nya semuanya bebas…apa kalian mengerti?"ujar sang panitia menjelaskan peraturan pertandingan.


Shiren mengangguk paham,Duan luan yang tadi berdiri tegap tanpa aba-aba langsung menyerang Shiren bahkan sang panitia belum beranjak dari tempat nya.


Untung Shiren dengan cepat bisa membaca gerakan Duan Luan jadi dia bisa menghalau serang an dari nya,sedangkan si panitia dengan segera turun dari panggung setelah mendapat serangan tiba-tiba itu.


"huh…untung aku selamat…"masih jelas di ingatannya saat ujung pedang yang tajam itu hanya berjarak 3 senti dari depan wajah nya, tapi dengan cepat pedang itu di hempasan ke samping oleh pedang Shiren.


"tring!!…"pedang Duan Luan beradu dengan pedang Shiren.


Shiren dengan cepat mendorong pedang Duan Luan yang mengarah ke tubuh nya dan memutar tubuh nya sambil mengarahkan ujung pedang nya pada perut Duan Luan.


Duan Luan dengan sigap menghindar, dan kembali menyerang Shiren dari arah samping.


Penonton menatap panggung pertandingan dengan kagum melihat gerakan Shiren yang sangat indah selama pertandingan.


Duan Luan semakin merasa kesal karna sedari tadi tak satupun serangannya yang berhasil mengenai tubuh Shiren,ia dengan lincah nya terus menghindari serangan itu.


Tiba-tiba muncul sebuah ide di pikirannya,ia membuat panah-panah kecil transparan yang terbuat dari elemen angin dengan jumlah banyak mengambang di sekitar tubuh nya.


panah-panah itu dengan kecepatan tinggi melesat ke arah Shiren,Shiren dengan mudah nya menebas panah-panah itu menjadi dua bagian.


Tapi tanpa Shiren sadari, ada sebuah panah yang lebih kecil dari panah- panah itu melesat ke belakang kepalanya,panah itu dengan cepat memotong tali cadar Shiren hingga terputus.


Duan Luan tersenyum senang ,saat ia membuat panah-panah itu tadi nya, salah satu dari mereka di beri tenaga dalam jadi bisa menyerang dengan sendirinya.


cadar Shiren jatuh ke tanah,seketika semua orang diam tak bergerak bahkan ada yang tak sempat mengambil napas saat melihat wajah Shiren tanpa tertutupi cadar.


"ngak adek nya, ngak kakak nya sama aja kelakuannya…"gerutu Shiren kesal sambil menatap Duan Laun yang mematung.


"sial,kenapa wajahnya malah lebih cantik dari pada aku sih?!!…arghhh!!…"kesal Duan Luan dalam hati karna rencananya gagal.


mau tak mau, ia harus mengunakan rencana terakhirnya untuk mempermalukan Shiren…


_______


__ADS_1


ini wajah Shiren pas cadar nya terbuka


__ADS_2