
Duan Luan yang kesal langsung menyerang Shiren dengan elemen anginnya,puluhan panah transparan terbentuk di sekitar tubuhnya.
Shiren tersenyum miring sambil menatap Duan Luan,Duan Luan membalas senyuman Shiren dengan senyum sinis nya tanpa tahu apa arti senyuman Shiren.
Panah-panah itu melesat dengan cepat menuju arah Shiren,Shiren membuat perisai transparan untuk menghalangi panah-panah itu mengenai tubuhnya.
Di dalam tanah sana,duri-duri es bergerak dengan cepat menuju arah Duan Luan tanpa ia sadari.
Para penonton yang sedari tadi masih mengagumi wajah Shiren belum tersadar bahwa tak jauh dari mereka tengah terjadi pertarungan elemen, alhasil pertarungan itu terjadi tanpa dilindungi oleh mantra formasi agar tidak merusak sekitar.
Untung saja Zhi Shu yang sudah menebak ini akan terjadi, langsung membuat mantra formasi berbentuk kubah berukuran besar.
Panah-panah Duan Luan tak ada satu pun yang mengenai tubuh Shiren barang sesenti pun yang membuat Duan luan makin kesal,kekesalan Duan Luan hilang seketika saat dari dalam tanah duri-duri es berukuran sedang nan tajam keluar tak jauh dari nya.
Duan Luan tak sempat menghindar sehingga puluhan duri es itu langsung mengenai tubuhnya, yang membuatnya terlempar menghantam dinding perisai formasi yang di buat Zhi shu dengan keras hingga meninggal kan retakan besar disana.
Beberapa teguk darah keluar dari mulutnya ,tubuhnya terasa remuk tak tersisa, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya ,sendi-sendi nya seperti lari dari tempat nya ,darah mengalir dengan deras dari luka yang menganga di sekujur tubuhnya.
Seumur-umur tak pernah ia merasakan rasa yang amat menyakitkan ini,Duan Luan yang terlahir di keluarga berada membuat dirinya sangat dimanja keluarganya, belum lagi dia adalah anak perempuan satu-satunya,semua kemewahan selalu ia rasakan sejak kecil.
tak ada seorang pun yang boleh melukai dirinya ,jika tidak maka jangan harap akan melihat matahari terbit di keesokan harinya.
Semua itu membuatnya menjadi anak manja,arogan,sombong,dan keras kepala,apapun yang ia
ingin kan harus ia dapatkan bagaimana pun cara nya.
Duan Luan kembali memuntahkan seteguk darah berwarna merah pekat,entah sejak kapan Shiren sudah berdiri dengan santai di hadapannya.
Duan Luan ingin sekali berdiri dan membalas Shiren, tapi apa boleh buat tubuhnya tak bisa berkompromi dengan otaknya.
"udah puas main nya?"tanya Shiren,duri-duri es itu sudah ia campur dengan tenaga dalam nya hingga luka yang di hasilkan lumayan parah.
__ADS_1
Duan Luan menatap Shiren penuh kebencian,
"biasa aja dong matanya… mau ku congkel"Shiren mengerakkan jari nya seperti mencongkel di dekat wajah Duan Luan,Duan luan langsung menutup matanya erat-erat sungguh hanya matanya yang bisa ia gunakan saat ini tubuh nya sudah mati rasa.
"bercanda…"Shiren terkekeh pelan
"bisa -bisa nya dia bilang itu bercanda"gerutu Duan Luan dalam hati.
Shiren mengulurkan tangannya ke depan wajah Duan Luan,Duan Luan yang baru membuka matanya sangat terkejut,
"deg…"
"apa maksudnya ini?"Duan Luan menatap Shiren heran,tak ada lagi tatapan benci disana yang ada hanya tatapan sendu milik sorang gadis berumur 16 tahun itu.
Shiren yang tau arti tatapan Duan Luan hanya tersenyum
"ayo,sini kubantu…"Shiren maih mengulurkan tangannya.
Hidupnya yang bagaikan seorang putri sebenarnya hanyalah sangkar emas bagi dirinya,orang tua nya selalu mencegahnya bermain dengan anak seumuran dirinya.Sikapnya yang arogan merupakan topeng untuk rasa sepi yang menyelimuti dirinya di setiap waktu.
Ayah dan ibunya yang merupakan salah satu pengikut setia kaisar iblis membuat mereka lebih mementingkan hubungannya dengan para penjabat kekaisaran,Duan Luan selalu dipaksa belajar menjadi seorang putri yang anggun namun angkuh.
Shiren,orang yang sangat ia benci entah apa sebab nya ia sendiri pun tak tau ,mungkin karna orang itu dengan mudahnya punya banyak pengemar.
ia bilang ke semua orang dia membenci Shiren karna dia dekat dengan orang yang ia kagumi, tapi sebenarnya ia hanya iri bagaimana orang sesederhana Shiren banyak yang menyayanginya tidak seperti dirinya.
Hari ini untuk pertama kalinya, orang yang sudah ia disakiti mengulurkan tangan padanya untuk membantunya,apa memang ia sedang beruntung atau memang hati Shiren yang sangat baik ia pun tak tau.
"kenapa?…kenapa kau ingin membantuku?…"entah kekuatan dari mana lidah Duan Luan yang tadinya kelu, bisa mengeluarkan beberapa potong kata itu.
"entahlah…aku hanya merasa kau tak pantas untuk dibenci…"ujar Shiren mengangkat ke dua bahunya.
__ADS_1
Duan Luan kembali menangis,terbuat dari apa hati gadis ini setelah semua yang ia lakukan Shiren tak marah sedikit pun bahkan ia berkata bahwa diri nya tak pantas untuk di benci.
"aku…aku…"
"ah…kelamaan ayo…"Shiren menarik paksa tangan Duan Lian dan membopong tubuhnya turun dari panggung, yang sudah hancur lebur karna ulah Shiren yang membuat ada beberapa retakan di tanah itu.
Shiren berjalan perlahan sambil membopong tubuh Duan Luan ,Zhi Shu mengikuti langkah mereka dari belakang sambil mengunyah makanan yang entah sudah ke berapa kalinya ia beli(ini anak bisa-bisa nya dia masih makan 😑😑).
Setelah mereka pergi barulah para warga tersadar,
"apa yang terjadi?"
"panggung nya hancur…"seorang warga menunjuk panggung pertandingan itu.
"apa?!!panggung ku…"si panitia menghampiri panggung yang sudah pecah dimana mana itu ingin menangis.
Tapi tak sengaja sorot matanya menangkap sebuah kantong berwarna hitam di atas panggung dekat dirinya.
sang panitia membuka kantong itu yang berisi beberapa puluh koin perak untuk membangun kembali panggung tersebut yang entah kapan Shiren tinggalkan.
"ngak papa deh,yang penting diganti!! dua kali lipat lagi!!…"panitia itu melompat-lompat kegirangan sambil berlalu dari arena pertandingan.
"gila dia,bukannya marah gitu atau sedih, eh dia malah seneng banget panggung nya hancur…"
"rusak paling otaknya…"
"kayak nya sih iya…"bisik-bisik para warga yang ada disana, mereka perlahan mulai membubarkan diri pulang kerumah masing-masing.
______
bersambung🍁🍁🍁
__ADS_1