Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
bertemu ayah


__ADS_3

"akh tuan" wajah Aliza mengenadah akibat kuatnya tarikan yang Raga lakukan di rambutnya


"beraninya Lo bertemu dengan laki-laki Aliza"


"saya tidak sengaja bertemu dengannya tuan, saya tanpa sengaja berpapasan di jalan"


"bulshit, apapun alasan Lo nggak akan bisa gue terima, sedekah apa Lo sama dia, Sampai dia tau nama Lo, dimana kalian bertemu" Aliza bungkam, tidak akan ia jujur jika dirinya sering bertemu langit saat keluar malam di atas rumah Raga


"JAWAB BANGSAT" Raga yang geram semakin menarik kuat rambut wanita itu


"saya dan dia sudah lama berteman tuan, sebelum saya ada di sini, saya sering bertemu dengannya, dia orang yang baik tuan" dengan kasarnya Raga mendorong Aliza hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


"sekali lagi gue lihat Lo ngobrol sama dia, Lo tanggung sendiri akibatnya "


"Ya Allah " lirih Aliza.


....


Aliza menatap wajah nya dari cermin kecil yang ia miliki, lebam nya sudah memudar, matanya pun sudah membaik, hanya ada bercak merah di area putih bola matanya saja, Aliza oleskan salep pemberian rumah sakit di area bibinya.


"Alhamdulillah, sudah mendingan"


"Alizaaaaaaa "


"iya tuan" Aliza berlari cepat menemui Raga di ruang tamu


"ada apa tuan?"


"beliin gue nasi Padang di perempatan dekat tugu, ini uangnya" Aliza pandangi uang 30 ribu di tangan.


"kenapa, sana pergi!"


"taun maaf, tugu di sana kan lumayan jauh, dan uang ini pas-pasan, apa tidak ada uang untuk ongkos saya" Raga menyunggingkan senyum miringnya, pria itu berdiri melipat tangan di depan dada, ia dorong kecil bahu Aliza


"heh, gue nggak mau mengeluarkan sepeserpun uang gue untuk perempuan kaya Lo, yaa terserah Lo mau kesana naik apa dan pulangnya seperti apa, yang gue mau Lo harus sudah sampai rumah sebelum film yang gue tonton ini habis"


Aliza masih mematung, jarak ke sana saja jika menggunakan kendaraan bisa sampai 20 menit, sedangkan ia akan berjalan kaki sampai ke sana, dan raga memintanya datang sebelum filmnya habis, ia hanya memiliki waktu sekitar satu jam lagi, apa ia sanggup.

__ADS_1


"KENAPA BENGONG, SANA CEPAT" sekali lagi Raga mendorong bahu Alya sedikit kasar yang membuat wanita itu mundur beberapa langkah.


"saya pergi tuan, assalamualaikum"


"waalaikumsallam" jawab Raga dalam hati.


semenjak Alya pulang sendiri ke rumah sakit, Raga memang sering meminta Alya untuk pergi keluar rumah, Raga berpikir Aliza tidak akan berani kabur, jika ia ingin kabur bisa saja Aliza lakukan saat ia pulang dari rumah sakit, tapi nyatanya wanita itu memilih kembali pulang ke rumah nya, mungkin karena Raga sering mengancam keselamatan sang ayah yang membuat Aliza tidak sedikitpun berfikir untuk kabur, pintu rumah pun tak pernah lagi Raga kunci.


Aliza berlari kecil agar ia bisa sampai ke tujuannya lebih cepat, panas terik matahari rasanya ingin membuat Aliza pingsan kepanasan, Untung ia menggunakan pakaian berwarna hitam, jadi keringatnya tidak terlalu terlihat basah menempel di pakainya.


"Alhamdulillah" Aliza tidak tau pasti berapa lama waktu yang ia tempuh, yang penting sekarang ia sudah berada di depan warung nasi Padang.


"ibu saya pesan satu lengkap, ya"


"itu aja neng"


"iya Bu itu aja, emm..." Aliza ragu, tapi jika tidak ia utarakan bisa-bisanya ia pingsan di jalan.


"Bu boleh saya Minta air minumnya"


"oh iya , ambil aja Neng"


"iya Neng " Aliza habiskan satu gelas besar air , sungguh ia sangat haus, selesai minum Aliza bawa gelas itu untuk ia Cuci di kran depan.


untungnya Aliza tidak harus mengantri, nasi Padang pesannya juga sudah selesai di buat


"ini uang nya, makasih ya buk"


"iya Neng, sama-sama"


kembali Aliza berlari, Aliza berhenti sebentar dan duduk di salah satu kursi kayu, Aliza usap keningnya yang sudah basah kembali dengan keringat.


"ya Allah, sampai kan lah hamba dengan selamat, hindarkan lah Hamba dari amukan Raga" saat ingin melanjutkan perjalannya, Aliza melihat seseorang yang begitu ia rindukan, Aliza tidak begitu yakin, Aliza dekati orang tersebut dan benar saja.


"aa--ayah, ayaaah" Aliza berlari cepat menemui ayahnya, Sadewa tidak bergeming dari tempatnya, tidak melangkah maju tidak Juga pergi.


Aliza langsung memeluk Sadewa, wanita itu menangis sudah, Sadewa diam tidak ia balas pelukan putrinya.

__ADS_1


"aa--yah, Liza kangen ayah, Liza rindu ayah"


"ayah apa kabar, ayah sehat kan" sadar dengan apa yang terjadi, Sadewa mendorong putri semata wayangnya menjauh darinya, Aliza tersungkur ke jalan.


"aa--ayah " lirih Aliza, Sadewa pandangi wajah sayu putrinya.


"lebam?" monolog Sadewa


"ayah, ini Liza anak ayah, Liza kangen ayah" Liza kembali berdiri berniat ingin memeluk Sadewa lagi, tapi nihil pria itu memilih membalik badan Tanpa mengatakan sepatah katapun.


"ayaaah " panggil Aliza


"jangan berani-berani kamu mendekat apalagi memeluk saya, Jika berani kamu lakukan hal itu, saya tidak akan segan memberi tamparan di wajah mu itu karena telah lancang memeluk saya " ancam Sadewa dengan posisi membelakangi putrinya.


"ayah, Aliza remas ke-dua sisi gamisnya, tangisannya semakin pecah saat ayahnya memberi peringatan, ayah yang dulu selalu memberi kasih sayang kini dengan tega berniat memberi pukulan, ayah yang tidak pernah sekalipun membentak kini dengan tega memberi dorongan. Aliza benar-benar sudah kehilangan sosok Sadewa, sosok ayah yang begitu menyayangi.


"Ayaah, Aliza kangen ayah, Aliza mohon ayah, maafkanlah Aliza, maafkan salahnya Aliza, Aliza mau di peluk ayah, Aliza mau di tenangkan ayah, ayaaah" lirih Aliza begitu pilu, Sadewa terus pergi dan hilang dari pandangan Aliza saat pria itu menaiki angkutan umum.


Aliza terduduk kembali di jalan, baju hitamnya sudah sangat kotor karena terkena debu jalan.


"ayaaah"


di dalam angkutan umum, Sadewa masih terngiang wajah putrinya, wajah putih mulus itu terlihat lebam, bola mata kirinya terdapat bercak merah yang mulai memudar, sudut bibir anaknya sobek, pakaiannya pun begitu lusuh, baju besar yang Aliza gunakan tidak mampu menutupi tubuh kurusnya, tulang rahangnya terlihat begitu jelas.


"ada apa dengannya, ada apa dengan wajahnya" Sadewa menggeleng, ia berusaha menyingkirkan wajah putrinya dari kepala, ia tidak ingin fokusnya terbagi lagi , sekarang Sadewa sedang merintis usahanya kembali, usaha yang sempat bangkrut karena keterpurukannya.


....


tatapan Aliza kosong, ia tidak peduli lagi jika ia terlambat sampai rumah dan mendapatkan siksaan dari Raga, Aliza siap , mungkin dengan mendapatkan pukulan dari Raga, Aliza bisa melupakan sejenak rasa sakit saat ia bertemu ayahnya tadi.


Aliza buka pintu rumah Raga, ia menghampiri Raga yang masih duduk di kursi.


"LO TELAT SETENGAH JAM, BANGSAT, GUE NUNGGUIN LO DARI TADI, DASAR NGGAK GUNA" Raga menarik pergelangan tangan Aliza Hingga wanita itu tersungkur ke lantai, tatapannya masih kosong, Aliza hanya meringis saat Raga menginjak punggung tangannya, Raga injak injak plastik nasi Padang dengan tangan Aliza sekalian.


Aliza hanya diam, ia pasrah, air matanya turun mengenai punggung kaki Raga, dengan tangan satunya lagi Aliza usap air mata yang berada di punggung kaki Raga, merasakan tangan Aliza berada di punggung kakinya, membuat Raga semakin Murka, kaki yang tadi menginjak tangan Aliza ia gunakan untuk menendang wajah Wanita itu, Aliza mendongak akibat kerasnya tendangan yang Raga berikan.


"JANGAN PERNAH BERANI MENYENTUH GUE WANITA HINA" Aliza tatap Raga dan mengangguk, bibirnya membentuk senyuman begitu tulus, Aliza mengusap darah yang mengalir dari rongga hidungnya.

__ADS_1


"Apa hamba sehina itu ya Allah, Sampai ayah dan suami Hamba sendiri enggan Hamba sentuh"


Dari kejauhan, Raga menatap Aliza yang hanya diam dengan tatapan kosong, sejak wanita itu masuk rumah, tatapan wanita itu sudah berbeda, Raga liat juga carian kental merah keluar dari rongga hidung Aliza.


__ADS_2