Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Rumah sakit jiwa


__ADS_3

Ketiga makam orang tercinta Sadewa berada di tempat yang sama, Rania, Aliza dan cucu laki-lakinya


setelah pulang dari makam, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit jiwa tempat Raga di rawat, setelah Aliza dan putranya di kuburkan, Raga berubah, raga mengamuk menghancurkan barang di sekitarnya, raga terus berteriak histeris bahkan mencoba menggali kuburan Aliza, kondisinya semakin parah sampai akhirnya keluarganya membawa Raga ke rumah sakit jiwa.


Sudah enam tahun lamanya Raga berada di tempat yang jauh dari keramaian, perusahaannya terpaksa di ambil alih olehnya zidan untuk sementara, tidak ada satupun orang dari keluarga Raga yang bisa mengurus perusahaan itu.


Zidan sendiri sudah menikah dengan Inayah dan juga sudah memiliki dua orang putri yang usianya berdekatan, setelah satu tahun kepergian Aliza, mereka menggelar pesta pernikahan.


Untuk anak Clara, sudah di buktikan Jika anak itu bukan lah anak kandung Raga, melainkan anak Rendy, Sekarang anak Clara itu di rawat orang tuanya, setelah vonis hukuman seumur hidup di bacakan, Clara depresi dan jatuh sakit, Clara akhirnya meninggal di dalam penjara, sedangkan Rendy masih menjalankan hukumannya, di dalam penjara Rendy benar-benar berubah, penyesalan akan perbuatan jahatnya membuat Rendy sadar dan bertobat, hari-harinya hanya di isi dengan sholat, mengaji, memperbaiki ibadah dan terus merubah diri.


"papah" Kalista berlari riang menghampiri seorang pria yang duduk di kursi roda. pria itu adalah Raga, raga menoleh dan tersenyum pada putri nya, Kalista benar-benar Copi vaste raga di versi Wanita.


"Kalista" ucap Raga pelan, dengan tubuh yang sudah tidak sekuat dulu, Raga mengangkat tubuh putrinya ke atas pangkuannya, fisik raga benar-benar berubah, tubuh raga kurus kerempeng, wajahnya di penuhi bulu Kumis dan janggut yang berantakan, raga menolak di bantu perawat untuk membersihkan wajahnya. Raga rapikan rambut putrinya yang agak berantakan, sadewa memilih duduk jauh dari mereka, masih ada dendam di hati Sadewa pada Raga, tapi sadewa tidak bisa memungkiri jika pria itu adalah orang tua tunggal cucu semata wayangnya.


"papah sudah makan?" raga Mengangguk.


"anak papah cantik Banget, gimana sekolah nya nak?"


"baik, Kalista dapat peringkat satu di kelas"


"putri ayah pintar seperti mamah" Kondisi Raga memang sudah membaik, sudah tidak seburuk 4 tahu belakangan, Raga sudah bisa berinteraksi dengan putrinya, tapi tidak dengan orang lain meskipun itu orang tuanya sendiri.


"papah kapan pulang, Kalista mau di bacakan dongeng Sama ayah" air mata Raga kembali turun membasahi pipi tirusnya, tiba-tiba ia teringat Aliza dan putranya. tangan mungil Kalista mengusap air mata raga.


"jangan nangis pah, Kalista sayang papah" Kalista merangkul leher Raga


"kamu akan membenci papah setelah kamu paham dan mengerti Semuanya nak"ucap Raga membatin.

__ADS_1


hari ini memang jadwal jenguk, jadi orang tua, serta adik raga juga datang, begitu juga dengan zidan Inayah.


"Kalista" panggil Dewi lembut. Kalista menoleh, tapi ia tidak beranjak dari pangkuan Raga.


"Sini nak, sama nenek, nenek kangen Kalista" Inayah yang mendengar ucapan Dewi tersenyum sinis.


"anaknya aja di akui sebagai cucu, kenapa ibunya di anggap pembantu" celetuk Inayah, zidan menarik lengan istrinya untuk berpindah dari sana.


"kamu apa-apaan sih" omel Inayah tidak terima


"jangan buat masalah, sayang. kita mau jenguk raga" ucap zidan pelan dan selembut mungkin.


"bukan kita! tapi kamu" Inayah melenggang pergi, ia lebih memilih duduk bersama Sadewa.


"sayang... Aya"Panggil zidan tapi di abaikan Inayah, zidan pun tidak bisa memaksa istrinya itu bisa melupakan Semuanya, Inayah kehilangan dua sahabat yang sangat ia sayangi hanya karena Raga juga obsesi Clara.


"sini nak, nenek Mau gendong"


"Kalista nggak mau sama nenek" tolak Kalista


"sebentar aja ya sayang" bujuk Dewi


"JANGAN MEMAKSANYA" bentak Raga menciutkan nyali Dewi. Kalista mengeratkan pelukannya di leher Raga.


"sama kakek yang sayang" kali ini Anton, untuk Anton Kalista mau, Kalista berpindah ke Gendongan Anton, gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya di celuk leher Anton, Dewi hanya bisa menaruh iri pada suaminya, suaminya itu memang dekat dengan Kalista, padahal mereka jarang bertemu sapa, mereka pun tidak tau kenapa, padahal tidak ada dari mereka yang menceritakan betapa jahatnya dulu perlakuan Dewi pada Aliza yang membuat Kalista menaruh dendam, gadis kecil itu otomatis saja bertingkah demikian. anggap saja itu karma dari tuhan untuk Dewi. wajah Raga yang tadi memiliki warna berubah datar, sudah di katakan hanya Kalista yang bisa merubahnya, selain itu tidak ada, Raga kembali di pengaturan awal, ia Diam duduk merenung mengingat mendiang istri tercinta.


...

__ADS_1


"kakek, Kalista pamit sama ayah dulu" Sadewa mengangguk, Kalista Temui ayahnya yang sekarang sudah berbaring di atas ranjang.


"papah" panggil Kalista, Raga membalik tubuhnya, ia merubah duduk bersila di atas ranjang


"sini nak"


"pah, Kalista pulang dulu ya sama kakek, nanti Kalista kesini lagi jenguk ayah, main boneka sama ayah" Raga mengangguk, sebenarnya ia masih rindu dan ingin terus bersama putrinya, tapi apa boleh buat, keadaan tidak mengijinkan mereka.


"papah cepat sembuh ya, biar bisa pulang sama Kalista sama kakek juga"


"iya nak, papah janji akan cepat sembuh, terus kita bisa tinggal sama-sama, main sama-sama, papah juga bisa antar jemput Kalista ke sekolah" Kalista mengangguk antusias, ia peluk lagi Raga sebelum turun dari ranjang, karena di ambang pintu kamar sudah ada Sadewa yang menunggu


"Kalista... cepat " panggil Sadewa sedikit meninggikan suaranya.


"iya kek" teriak Kalista, Kalista mengusap mata Raga yang mulai membengkak karena menangis.


"jangan nangis lagi ya Pah, Kalista sayang papah"


"iya nak"


"dah papah, assalamualaikum "


"waalaikumsallam " Raga lihat kepergian anaknya bersama Sadewa.


"za, kamu pasti lihat anak kita Dari atas sana, dia cantik banget za, tingkahnya persis seperti kamu, anaknya periang, semangat, Manja, pokonya kamu banget, wajahnya baru aku" Raga berbicara dengan terus memandang foto besar Aliza di dalam kamarnya.


"aku kangen kamu za, aku kangen masakan kamu, aku kangen peluk kamu" Air mata memang tidak pernah berhenti mengalir di pipi Raga, kerinduan juga rasa bersalahnya pada Aliza begitu beser

__ADS_1


__ADS_2