
"Sayang, perut ku mau di usap" Raga menutup kasar laptopnya, ia turunkan Clara dari pangkuannya.
"Ragaaa" Clara mengentak-hentakkan kakinya, raga mematikan lampu kamar, tanpa mau mengajak Clara tidur bersamanya. Bahkan pria itu tidur membelakanginya. Clara ikut bergabung di samping Raga, ia peluk Rafa dari belakang , tangannya mengusap-usap bagian dada dan perut Raga secara abstrak.
"kamu pilih kasih, kamu lebih sayang sama anak Aliza dari para anak aku, ga"
"aku ngantuk, aku mau tidur" ketus raga, Clara jelas tidak terima, dengan kasar Clara paksa Raga berbalik untuk menghadapnya.
"kamu apa-apaan sih, Ra!" bentak Raga, pria itu turun dari tempat tidur berniat menemui istri pertamanya,
"kamu mau kemana" Clara menahan pergelangan tangan Raga.
"tidur dengan Aliza, aku pusing terus sama kamu"
"RAGAAA" Clara menarik baju yang Raga kenakan Hingga robek bagian depannya.
"CLARAA" Raga tidak lah sesabar itu, sampai diam saja dengan perlakuan kasar Clara.
"aku cuman mau kamu ada di samping aku, tidur dengan tenang di dekat ku, apa sesusah itu, hah" Clara menjerit sekencang-kencangnya, mata Wanita itu merah. Raga benar-benar tidak peduli dengan emosi wanita yang juga berstatus istrinya
__ADS_1
"kamu tega ninggalin aku raga, RAGAAAA"
brak!!!
pintu kamar di hempas dengan kuat, mau sekeras apapun Clara, ia juga seorang wanita juga, perasaannya lemah, air matanya pun mengalir sama seperti Aliza, jika raga menyakitinya. Clara mencengkram kuat seprai kasur hingga bagian ujungnya lepas.
"Aliza, Lo akan merasakan apa yang gue rasain sekarang, tunggu aja"
di bawah, Raga butuh waktu beberapa menit menunggu Aliza membukanya pintu. wajah wanita itu sembab lagi, bahkan kerudung yang terpasang terbalik posisinya.
"Kenapa nangis, hm?" Aliza memeluk Raga, suara lembut pria itu semakin melukai perasaannya, entahlah, tapi memang seperti itu yang Aliza rasakan.
"masuk"
"tuan, baju anda kenapa?"
"biasa, habis di terkam harima betina di lantai atas" Raga terkekeh, begitu juga dengan Aliza, Clara yang berdiri tidak jauh dari mereka mengepalkan kedua tangannya, urat-urat di punggung tangan putihnya terlihat menonjol keluar
Pintu kamar Aliza tertutup, selain menahan amarah, Clara juga menahan Sesak di dada.
__ADS_1
kalian bisa tertawa di atas rasa sakit gue, kalian akan merasakan hal yang sama, terutama buat Lo, Aliza Khumaira, Lo akan rasakana sesuatu yang lebih sakit lagi dari gue"
di dalam kamar, Raga terpaksa membuka bajunya, Aliza dapat melihat jelas otot-otot perut Raga yang terbentuk sempurna, raga menyunggingkan senyum,ia tutup mata Aliza dengan telapak tangan besarnya, kemudian ia ikut berbaring dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Aliza.
"tuan Nggak dingin"
"ada Lo, gue bisa peluk Lo semalaman"
"Apa hubungannya sih?" Raga tidak menjawab ia justru menarik Aliza masuk kedalam dekapannya.
"hangat, pelukan Lo hangat" Aliza yang posisinya berada di area leher raga, membuat Aliza mudah melihat jakun pria itu bergerak naik turun, tangan panjang Aliza terulur memainkan jakun Raga.
"Lo ngapain..."
"lucu, naik turun" Aliza terkekeh singkat
"lebih lucu Lo, kalau ketawa gini" Aliza mendongak menatap Raga, raga berikan tanda cinta di bibir ranum Aliza.
"Lo cantik Banget, za"
__ADS_1
"Emang masih cantik?" Aliza naikkan satu alisnya.
"mata sayu, lelah, kurus kerempeng kaya gini, apa masih terlihat cantik?"