Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
taman


__ADS_3

Raga mengusap permukaan bibir Aliza yang basah karena ulahnya, nafas Aliza pun sampai tidak beraturan lagi " kita kekamar, nggak baik buat Lo begadang selarut ini" Aliza mengangguk, setelah tv mati Raga satukan jari-jarinya dengan jari-jari aliza.


Aliza ikut berbaring di samping raga setelah keluar dari kama mandi, raga mengikis jarak mereka dan merengkuh tubuh Aliza. Hembusan nafas raga menerpa perpotongan leher jenjang Aliza.


"tuan, saya engap, tuan memeluknya terlalu erat.


"sorry " raga longgarkan pelukannya


"setelah Clara tinggal di sini, gue yakin... kita akan atau sulit untuk tidur bareng lagi, za" monolog Raga.


...


"Liza "


"Alizaaa!" Aliza tergopoh-gopoh menemui raga, bajunya basah di bagian bawah


"iya tuan, ada apa? raga pandangi Aliza dari ujung kepala ke ujung kakinya.


"abis ngapain Lo?"


"jemur baju tuan"


"Sana bersih-bersih, gue mau ajak Lo jalan, pakai ini" Aliza ambil paperbag yang di arahkan raga padanya. Aliza mengintip isi paperbag nya


"saya tunggu setengah jam dan Lo sudah harus siap"


"iya tuan"


raga sudah menunggu Aliza di ruang tamu, ia lirik jam yang melingkar di tangannya.


"mana sih, lama banget, Ali---" ucapan raga terpotong saat mendengar suara lembut Aliza.


"iya tuan, saya sudah siap " raga menoleh, betapa terpana nya melihat penampilan Aliza, baju berwarna pastel dengan pasmina berwarna serupa, benar-benar terlihat cocok di badan Aliza, wanita itu terlihat begitu cantik, sampai raga tidak berkedip menatapnya


"tuan "


"hah" jawab raga tanpa sadar.


"saya sudah siap "


"saya sudah siap, ayo kita berhak " ucap Aliza lagi.


"hah... iya, ayo"


....


setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, sampailah mereka di sebuah taman, hari ini hari libur, jadi banyak yang datang untuk menghabiskan waktu liburan mereka ke taman, salah satunya Raga yang mengajak Aliza.

__ADS_1


"turun "


Raga pasang kacamata hitamnya sembari menunggu Aliza turun dari mobil.


"ayo" raga satukan jari-jari tangan mereka. sebenarnya Aliza masih tidak mengerti kenapa raga membawanya ke sana, ia ikuti saja kemana raga pergi.


"Lo tau nggak za, gue suka banget ke taman bareng Karina habis pulang sekolah " Aliza menoleh menatap wajah raga dari samping.


"gue bawa kabur Karina ke taman, sahabat Lo itu paling nggak suka keramaian ya, Karina kesal banget kalau di taman banyak orang, dia pasti ngajak gue balik"


"iya, Karina emang nggak terlalu Suka keramaian, di antara kami bertiga, saya lah yang paling heboh, saya yang paling suka keramaian" raga menoleh, ia sebenernya juga tau, karena Karina sering bercerita tentang sahabat-sahabatnya itu.


"tapi gue nggak pernah liat Lo ketawa, selama kita menjadi suami istri " benar saja, apa pria itu tidak sadar jadi bisa bertanya seperti itu , padahal jelas dialah penyebab senyuman Aliza menghilang, sifat periang Aliza pergi di gantikan kebisuan.


"saya nggak punya alasan untuk tertawa, semua di hidup saya penuh luka, baik fisik dan batin saya, tidak ada alasan untuk saya tetap Bahagia" raga berhenti melangkah, Aliza menjadi kawatir, pasalnya Raga hanya diam saja.


"kalau Sekarang gimana, Lo bahagia?" Aliza menatap dalam wajah raga.


"saya nggak tau tuan, saya Hanya mencoba menjalankan nya saja, bagaimanapun jalan nya dan akhirnya, saya percaya itulah yang terbaik untuk saya" Raga diam, ia tidak bisa menyangkal ucapan aliza, wanita itu benar-benar sudah pasrah dengan hidupnya, raga berusaha untuk berubah pun sepertinya tidak membuat wanita itu percaya lagi padanya, luka yang raga berikan pada Aliza terlalu dalam, sulit untuk disembuhkan.


....


Aliza tersenyum bahagia melihat segerombolan anak kecil yang bermain kejar-kejaran di depannya, tidak lama raga datang setelah membeli beberapa cemilan untuk mereka.


"kenapa" tanya Raga karena melihat istrinya tertawa


"ini minum"


"makasih tuan" mereka duduk berteduh di bawah pohon, cuacanya begitu mendukung, tidak panas tidak juga hujan, jadi mereka bisa menikmatinya.


raga menggeser benda-benda yang ada di di depan aliza.


"gue mau tidur di pangkuan Lo" ucap Raga mungkinkah meminta ijin Aliza, Aliza mengangguk.


Aliza suka Sekali mengusap-usap kepala raga, ia sandarkan punggungnya di pohon.


ada bola yang menggelinding ke arah mereka, bola itu milik anak-anak yang sedang bermain, tidak lama, anak-anak itu datang mengambil bolanya.


"Hay Hay!" panggil raga tiba-tiba pada anak anak itu.


"iya om, ada apa?"


"om mau tanya, istri om cantik nggak" Aliza melotot tidak percaya, apa-apaan raga, kenapa ia bertanya seperti itu, bikin malu saja, anak-anak yang di tanya tadi sontak menatap Aliza, Aliza yang di tatap menjadi salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"cantik om" jawab anak anak itu dan berlari dari sana, raga tersenyum puas dan menatap wajah Aliza yang salah tingkah karena di puji anak-anak.


"kenapa tuan minta anak-anak itu menilai saya" tanya Aliza dengan kesal, Sungguh ia sangat kesal.

__ADS_1


"kenapa? emang salah? Lo cantik, mereka berkata jujur"


"tapi saya malu tuan"


"nggak usah malu, Lo istri Raga Argantara" Aliza mendengung kesal.


mereka diam lagi sembari menikmati momen yang indah.


"za!" panggil Raga dengan mata tertutup.


"iyaa, kenapa tuan?'


"Lo kangen ayah Lo?" tangan Aliza berhenti mengusap kepala Raga, tiba-tiba dadanya Sesak, Aliza mengenadah untuk menahan air mata yang bersiap untuk keluar.


"Kenapa diam, Lo kangen nggak!"


"sangat, saya sangat merindukan ayah"


"Lo pernah ketemu di?"


"pernah, terakhir kali saat kita di Lombok"


"Lo senang bisa ketemu dia?"


"sangat, tapi ayah ng--nggak..." Aliza tarik dulu nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"ayah benar-benar sudah melupakan saya, ayah nggak mau melihat wajah saya lagi, ayah membenci anaknya yang membawa sial, ayah mengusir saya dari hidupnya "


tes!!!


air mata Aliza turun mengenai pipi raga, Aliza menghapus air matanya yang jatuh di wajah raga, raga membuka matanya saat merasakan sentuhan Aliza.


"ayah bilang... bahagianya ayah dengan tidak melihat wajah saya lagi" Aliza tersenyum


"walaupun dengan itu ayah melukai saya sebagai putrinya tapi saya pun bersyukur jika memang ayah bisa bahagia lagi jika saya pergi jauh dari hidupnya "


"Lo mau ketemu sama dia, mau gue antar pulang " Aliza menggeleng


"jangan, saya sudah berjanji untuk berhenti menemuinya, ayah sudah bahagia dengan kepergian saya, saya tidak ingin mengganggunya lagi"


tangan raga terangkat menghapus jejak air mata di wajah Aliza.


"udah jangan nangis lagi, Lo jelek kalau nangis kaya gini tau!"


"entar malem mau jalan-jalan kepasar malam nggak"


Aliza mengangguk antusias" mau, mau banget tuan"

__ADS_1


"ya udah jangan sedih lagi, Nanti malam kita jalan-jalan" Aliza mengangguk lagi.


__ADS_2