Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
langit datang


__ADS_3

"Lo cantik, dan akan selalu cantik"


"tuan"


"hm"


"kenapa tuan tega meminta Rendy menyentuh saya, kenapa tuan tidak minta mereka untuk membunuh saya..."


Pertanyaan tidak terduga membuat Raga tersentak dengan kenyataan, ia lihat mata wanita di depannya sudah berkaca-kaca.


"Tuan tau, betapa sakitnya perasaan saya saat itu, saya di sentuh, di lecehkan, di depan mata kepala suami saya sendiri, sampai detik ini, saya tidak bisa melupakan semua kejadian itu, mau berapa kali pun tuan membawa saya ke psikiater... semuanya tidak akan berpengaruh, jiwa saya sudah hancur, yang tuan liat sekarang... bukan lagi Aliza si ceria, Aliza periang yang di senangi banyak orang, Aliza di depan anda bukan lagi Aliza cantik dengan senyum manisnya, Aliza itu sudah mati"


"ALIZA " bentak Raga, ia tidak terima saat wanita itu menyebutkan kematiannya, Aliza hanya menyunggingkan senyum, ia hapus air matanya dengan kasar.


"Aliza yang sekarang hanyalah Aliza yang penuh dengan luka, Aliza hina si anak pembawa sial"


"Berhenti mengucapkan hal yang tidak berguna" Raga berucap tegas, tapi tidak di indahkan oleh Aliza.


"Tuan tau, saya sempat memikirkan hidup bahagia setelah menikah dengan tuan, hidup dengan pria yang saya cinta adalah impian saya, memiliki anak lucu yang menggemaskan, saya tidak pernah berpikir jika tuan bisa Setega itu pada saya, mengingat semua derita yang saya alami, membuat saya malu dengan diri saya sendiri karena sempat mengharapkan hal mustahil itu" pandangan yang tadi sayu berubah kosong.


"Za, gue janji sama Lo, Kita akan hidup bahagia, gue akan buat Lo dan anak-anak kita bahagia, tidak akan ada lagi rasa sakit juga tangisan, gue janji za, Gue janji" Raga mendekap Aliza dalam pelukannya.

__ADS_1


....


"Iyaa, sebentar" Aliza bukakan pintu pada tamu yang tidak tau siapa itu, tangan aliza berada di bagian bawah perutnya. mata Aliza melebar sempurna, tidak ia harapkan kehadiran pria yang selalu menjadi penghiburnya dulu


"Apa kabar" Aliza teguk salivanya kasar


"La--langit" Aliza ingin menutup pintu rumah, tapi Langit lebih dulu menahannya.


"Langit Please, pulanglah, suami gue nggak ada di rumah, takut timbul fitnah "


"za, gue nggak mau macam-macam, gue cuman mau ketemu Lo, gue datang za, gue bakal bebasin Lo dari pria brengsek itu, kita pergi jauh dari sini dan hidup bahagia " Aliza menggeleng dengan mata berkaca-kaca, saat Langit ingin menyentuhnya, pandangan langit mengarah pada perut Aliza yang membesar. langit menggeleng samar, ia berharap semua yang ada di kepalanya sekarang salah.


"lo--lo di sentuh pria brengsek itu za..." Aliza tidak bergeming dari tempatnya, ia tidak tau harus berkata apa, ia tau pria itu kecewa.


"jawab za, jangan diam aja, perut Lo besar bukan karena hamil kan?" langit masih berharap sebuah keajaiban.


"gue hamil dengan suami gue dan itu bukanlah hal yang salah, Langit" Aliza beranikan menatap wajah langit


"gue mohon, pulanglah, gue nggak mau suami gue terluka lagi perasaannya karena melihat kita berdua" Aliza berucap begitu tulus.


"gue Mohon, zhian, pulanglah" interaksi keduanya tak luput dari sepasang mata licik milik Clara, Clara Menyunggingkan senyum puasanya, tombol merah di layar ponsel mengentikan rekamannya.

__ADS_1


"sepertinya... sedikit percikan api akan lebih bagus untuk memulai semuanya" Clara kembali naik ke atas setelah Aliza menutup pintunya.


di luar, langit meruang sejadi-jadinya, wajahnya kembali pucat pasih, pria itu baru saja kembali setelah melakukan pengobatan untuk kesembuhannya.


langit tidak sanggup lagi membendung air matanya, perasaannya benar-benar terluka, ia mengakui Jika ia tidak memiliki hak apapun atas Aliza, tapi perasaan sesak sebagai manusia wajar kan, melihat wanita yang begitu ia kasihi telah menjadi milik orang lain seutuhnya.


ke-dua orang tuanya yang memang menunggu di luar, memapah tubuh Langit yang belum sembuh total, sebenarnya langit belum sembuh dari sakitnya, tapi pria itu sangat merindukan Aliza dan meminta orang tuanya untuk mengijinkannya pulang bertemu Aliza, ia berharap bisa bersama Aliza walaupun sesaat, tapi apa, justru hal menyakitkan lah yang ia temui.


"kita pulang ya, nak" langit sempat menoleh lagi, berharap Wanita yang ada di Balik pintu itu memanggil namanya, tapi sayang, semuanya hanyalah hayalan semata.


wajah sayu dengan perut besar selalu terngiang di kepalanya, tubuh kurus Aliza tidak berubah sama sekali, hanya perutnya saja yang membesar, tapi penampilan Aliza berubah, pakaian wanita itu lebih rapi dan bersih, pakaiannya tidak selusuh saat mereka masih sering bertemu di atas atap dulu


"apa Lo bahagia, za? Jika Lo bahagia Dengannya gue ikhlas, tapi gue nggak akan rela sampai Lo di sakiti lagi dengan Pria brengsek itu, za" monolog langit.


di dalam kamarnya, langit terus memandangi boneka beruang kecil dengan hiasan pita di lehernya , boneka kecil itu ingin langit berikan untuk Aliza, tapi semuanya langit lupakan karena langit lebih dulu di kejutkan dengan keadaan aliza yang sedang hamil besar.


"Gue harap Lo bahagia, za, bahagia Lo juga Bahagia gue" Langit peluk boneka beruang kecil itu, pria itu benar-benar rapuh dengan kenyataan pahit yang ia hadapi, wanitanya impiannya sekarang hanyalah kenangan saja.


Langit mungkin akan segera kembali untuk melakukan pengobatan, mungkin itu pilihan terbaik sekarang, berlama-lama di sana hanya akan menyakiti perasaannya saja.


....

__ADS_1


__ADS_2