Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
mengalah


__ADS_3

"iya mah, Raga akan menikah dengan Clara demi mamah"


"makasih nak, makasih" Raga peluk dengan sayang Dewi yang terbaring lemah di ranjang pesakitan.


flashback off.


tangan kurus dan panjang milik Aliza mengusap wajah Raga yang sudah terlelap di sampingnya, air matanya tumpah begitu saja jika menatap wajah Raga sedekat ini, wajah pria yang dulu sangat ia idam-idamkan, Kaka kelas yang sudah berhasil mencuri perhatiannya, tapi dengan ikhlas Aliza merelakan Raga dengan sahabatnya, mana aliza tau jika pada akhirnya bisa memandangi wajah Raga sedekat ini, bahkan tidur bersama pria yang ia cintai, tapi yang paling tidak pernah terpikirkan di benak Aliza adalah alasan ia bisa bersama Raga, pria itu menikahinya untuk membalas dendam atas kematian sang kekasih, sahabatnya sendiri.


"Raga, aku sayang Karina, aku nggak pernah berniat untuk membunuhnya, percayalah... aku nggak pernah ada niat untuk menghabisi nyawanya, Kenapa kamu begitu membenci ku Raga, kenapa?" lirih Aliza pilu di dalam hatinya, Aliza di buat kaget saat tangannya yang berada di wajah Raga tiba-tiba di genggam dengan erat, perlahan mata pria di depannya terbuka dan menatapnya.


"kenapa belum tidur?" suara Raga terdengar serak.


"ng--nggak papa, maaf sudah mengganggu tidur tuan"


"ada yang mau Lo sampaikan?" Aliza menggeleng ketakutan, tangannya ingin ia turun kan dari wajah Raga tapi pria itu menahannya.


Raga tidak berkedip sama sekali menatap wajah Aliza, Raga kikis jarak di Antara mereka dan menempelkan bibirnya di bibir ranum Aliza, hanya menempel tidak lebih tidak ada tuntutan dari Raga, cukup lama Raga menempelkan bibirnya di sana.


Aliza mendorong kuat dada bidang Raga saat merasakan sesuatu dari dalam perutnya memberontak ingin keluar, Aliza turun dengan tergesa-gesa dari atas tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi di dalam kamar Raga, Raga mengikuti di belakangnya


uekkk


uekkk


uekkk


tangan Raga terulur untuk mengusap punggung wanita itu dengan lembut, membantu Aliza mengeluarkan apa yang ingin keluar dari dalam perutnya.


uekkk


tubuh Aliza melemas, ia luluh duduk bersandar, Raga mengangkat tubuh Aliza ala bridal style keluar dari kamar mandi, ia dudukan Aliza di pinggir tempat tidur.


"minum" Raga berikan air yang selalu ia siapkan untuk Aliza, dengan tangan gemetar Aliza sambut air tersebut. Aliza usap peluh di wajahnya dengan Lengan, tenaganya habis terkuras setelah mengeluarkan sisa-sisa makanan.


"Lo hamil?" pertanyaan Spontan dari Raga membuat Aliza kembali meneteskan air mata, Aliza berharap semua dugaannya salah, Aliza tidak ingin mengandung anak Raga, Aliza tidak ingin terikat lebih jauh dengan Raga karena hadirnya anak di dalam kandungannya, Aliza bukannya menolak rezeki berupa anak , tapi ia tidak bisa mengandung di kondisi rumah tangganya yang terombang-ambing ini, ia tidak ingin anaknya ikut merasakan sakit yang ia rasakan


Aliza menggeleng dengan air mata berderai.


sejak kapan lo kaya gini?" Raga menatap Aliza dengan intens


"satu Minggu " jawab Aliza jujur, ia mulai merasakan mual dan sakit kepala berlebih sekitar satu mingguan ini.

__ADS_1


Raga letakkan telapak tangannya di perut Aliza yang masih rata, ia ingat-ingat lagi kapan Pertama kali ia menggauli istrinya, sekitar satu bulan yang lalu di saat Aliza kedapatan mengunjungi langit di atap rumahnya, dengan wajah datarnya Raga berucap,


"gue ingin jadi ayah" Raga palingkan wajahnya menghadap Aliza, ia peluk lagi Aliza begitu erat, Aliza tidak tau harus bereaksi seperti apa, sepertinya Raga mengharapkan sebaliknya dari apa yang ia harapkan, tangan Aliza terangkat membalas pelukan Raga, kedua tangannya meremas kuat baju yang pria itu kenakan.


"aku tidak ingin menjadi ibu dari anak kamu, ga. aku nggak mau" ucap Aliza di dalam hatinya.


"gue berharap Lo beneran hamil, za" ucap Raga penuh harap.


....


"Lo mau ketemu Aliza nggak?" Inayah yang tadi sebenarnya lagi malas berubah sumringah


"mau mau, mana Aliza mana" Inayah mencari-cari keberadaan Aliza di sekitar mereka, reaksinya itu membuat zidan mengelus dada


"mana Aliza Zidan ?"


"hey, gue bilang Lo mau ketemu Aliza Nggak, gue nggak bilang Aliza ada di sini, hedeeh " barulah Inayah mengerti ucapan zidan, tapi ia tetap semangat.


"mau lah! mau Banget gue"


"Kalau Lo mau ketemu Aliza, Lo harus jadi pacar gue"


PLAKK!!


"Lo kenapa sih! sakit tau" jelas sakit lah pukulan yang di lakukan wanita itu


"lagian Lo yang mulai sih" kesal Inayah.


"heh, pepes ikan gabus, dengerin dulu gue ngomong Napa, jangan main asal pukul aja Lo" Inayah semakin acuh.


"ya udah kalau Lo nggak mau, gue mau balik, bay" Inayah tarik lagi pergelangan tangan zidan untuk duduk kembali ketempat nya"


"apa an sih ambekan banget, apa! gue mau denger dulu Lo mau ngomong apa"


"malas" kembali Inayah menarik tangan zidan untuk kembali duduk ketempat nya, karena pria itu kembali berniat pergi.


"ISS, Lo apa-apaan sih, lepas... gue mau pergi "


"nggak? Gue mau ketemu Aliza"


"tadi gue udah tawarin, Lo nggak mau kan!"

__ADS_1


"Lo nggak ngajak gue ketemu Aliza, Lo mau gue jadi pacar Lo" zidan memutar matanya jengah


"apa zi, apa, gue harus apa biar bisa ketemu Aliza?" Inayah mengguncang - guncang lengan zidan. matanya mulai berkaca-kaca, rindu pada sang sahabat sudah tidak bisa ia bendung lagi. melihat hal itu membuat zidan tidak tega.


"Ok ok gue bakal ngajak Lo ketemu Aliza, tapi gue mohon Lo ikutin aja rencana gue?" Inayah mengangguk yakin, tepat di belakang mereka Raga berjalan mulai mendekat.


"Zidan " panggil Raga.


"Lo jadi kan"


"jadi dong, gue bawa cewek gue nggak papa kan ga?"


"sejak kapan lo punya cewek? tanya Raga santai pada sahabatnya meremehkan


"Lo nggak percaya ga?" Raga menepuk pundak sahabat nya.


"gue percaya, bawa aja kalau memang ada" setelahnya Raga melanjutkan langkahnya.


"Lo ikut gue ke rumah Raga" tanpa menunggu Jawaban dari Inayah, zidan sudah menarik pergelangan tangan wanita itu untuk masuk kedalam mobilnya.


"Zidan tunggu, mobil gue"


"mobil Lo nggak bakal hilang ko, tenang " Inayah pasrah dan ikut saja apa yang pria itu rencanakan, yang penting ia bisa bertemu dengan Aliza.


....


"Liza "


"iyaa " sembari menggelap tangannya dengan baju yang ia gunakan, Aliza keluar menemui Raga, seperti biasa, Aliza ambil alih tas yang ada di tangan pria itu.


"lagi ngapain Lo?" tanya Raga karena wajah wanita itu penuh keringat.


"bersihin dapur, tuan " ucap Aliza Jujur, Raga tatap wajah sayu wanita itu, dengan tangan besarnya sendiri... Raga mengelap keringat di kening Aliza.


"Lo abis muntah lagi?" Aliza mengangguk dengan kepala menunduk.


"Lo istirahat aja gih, muka Lo pucat Banget" Aliza kembali mengangguk, Raga Ambil kembali tas kerjanya dari tangan Aliza. tapi pria itu menahan pergelangan tangan Aliza saat wanita itu berniat pergi.


"mau kemana Lo?" Aliza teguk salivanya susah payah, apa mungkin ia tadi salah dengar, apa karena kepalanya yang pusing jadi tidak fokus


"ke kamar saya tuan" takut-takut Aliza berucap.

__ADS_1


"tidur di kamar gue, bakalan bersisik banget di bawah, Lo nggak akan bisa istirahat"


__ADS_2