
Selesai makan malam, Aliza pergi mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat Maghrib, dan isya, disinilah ia sekarang, menunggu waktu isya sembari tadarusan.
mana Aliza tau jika sekarang Raga sedang mencarinya.
"Lo nggak liat Aliza dan"
"tadi gue sama dia makan bareng, terus dia pergi, nggak tau juga mau kemana"
"kurang ajar tuh cewek bikin susah aja" kesal Raga dengan tangan mengacak pinggang.
"Lo mau kemana, ga?' zidan mengejar Raga yang sudah berlalu
"mau cari tu cewek lah, sudah malam gini belum balik juga"
"Lo khawatir sama dia ga?" Zidan menyunggingkan senyum. mendengar pertanyaan zidan membuat Raga menghentikan langkahnya.
"kawatir? gue?" Raga menunjuk dirinya sendiri, zidan mengangguk.
"nggak ada gunanya, gue cuman Nggak mau dia Kabur, hutannya itu masih numpuk banyak, asal Lo tau aja dan" zidan menepuk pundak Raga.
"udah lah ga, nggak usah gengsian, ketahuan ko dari muka Lo itu, Lo takut tu cewek pergi, siapa coba yang nggak tertarik sana tuh cewek, di pakai in baju rapi, terus di bedakin dikit, wahhhhh cantik full tu cewek"Raga menatap tajam zidan, ia tidak suka zidan memuji Aliza, entahlah ketidak sukaan apa itu, Raga hanya merasa tidak boleh ada yang memuji istirnya.
"kenapa Lo liatin gue kaya gitu, ga. ada yang salah sama muka gue?"
"kalau Lo cuman mau ngoceh, mending Lo balik hotel sana" kesal Raga.
...
sudah hampir jam 10 malam, mereka belum juga mendapatkan Aliza.
"awas aja sampai tu cewek berani kabur" monolog Raga
"sialan Lo Aliza"
"ga, apa jangan-jangan Liza---"
"namanya Aliza, bukan Liza" potong Raga cepat, kembali ia rasakan kesal saat zidan memanggil istrinya menggunakan nama panggilan kesayangan yang biasa orang tua wanita itu gunakan.
"kenapa sih Lo sensi banget, gue panggil Liza aja nggak boleh"
"gue nggak suka dengarnya... Lo mau bilang apa tadi" zidan menyibak rambutnya
"kita belum coba cari dia di masjid atau musholla kan, kita dari tadi cuman keliling-keliling aja" Raga berpikir, benar juga, yang ia tau wanita itu sangat taat beribadah bisa jadi Aliza ada di masjid karena dia tidak bisa sholat di kamar hotel, Raga sudah berlari lebih dulu menuju masjid terdekat tempat penginap mereka.
"CK, ketahuan banget lagi kawatir, takut di tinggal, dasar gengsian " ejek zidan dan mengejar Raga.
__ADS_1
...
keadaan masjid sudah sunyi, mereka berpencar mencari keberadaan Aliza, cukup luas masjid itu, sampai suara teriakan zidan mengejutkan Raga.
"RAGAAA "
"sialan Lo Zidan "
"apa"
"tuh orang yang lo cari" mereka mengintip di jendela kaca, benar saja, ada Aliza yang tertidur meringkuk di dalam.
"pintunya dikunci" ucap zidan.
"Aliza, ALIZAA woy Aliza" Raga mengetuk kuat jendela tepat di samping wanita itu, tapi Aliza tidak merasakan apapun.
"kita cari pengurus masjid nya ga, pasti kuncinya ada sama dia" Raga setuju, mereka bertanya dulu dengan salah satu warga di sekitar untuk menanyai di mana rumah si pengurus masjid.
...
"makasih ya pak, nanti kita langsung kembalikan kuncinya"
mereka akhirnya berhasil membuka pintu masjid, kedua pria itu duduk di samping Aliza tidur, tangan zidan yang ingin menggoyangkan lengan Aliza ditepis kasar Raga
"sensi banget Lo... kemarin aja nyuruh Rendy buat tiduran tu cewek se---"
"Zidan!" bentak raga, tidak terima, mendengar suara keributan Aliza kaget, dan lebih kaget lagi saat dua pria itu sudah ada di depannya.
"tu--tuan, zidan " ke-dua pria itu menoleh. tanpa mengatakan apapun, Raga sudah menarik kasar pergelangan tangan Aliza, Aliza hampir kehilangan keseimbangan karena ulah Raga, Aliza juga kesulitan mengikuti langkah besar pria itu
"Raga, itu cewek Raga, parah Lo ga" zidan tidak bisa mengejar, karena ia sudah berjanji akan mengembalikan kunci.
"Tuan lepas tuan, sakit" Raga tidak peduli ia tarik terus pergelangan tangan Aliza. dari kejauhan ada seorang pria yang terus memperhatikan mereka, pria itu tidak bisa diam saja saat melihat gadis muda yang mungkin seusia putrinya di perlakukan sekasar itu. ia Hampiri Raga untuk menghentikan tindakannya.
"Nak, kau lihat wanita itu kesakitan, lepaskan lah tangannya, kesian nak, dia perempuan" ucap pria itu pelan takut Raga tersinggung. Raga menatap tajam, pria di depannya itu adalah pria yang sudah mengalahkannya tadi pagi.
"anda tidak berhak ikut campur urusan rumah tangga orang lain, mau saya seret, mau saya tampar, dia ini istri saya" tegas Raga tidak terima.
"baiklah jika memang kalian suami istri, bukannya saya mencampuri urusan kalian, tapi lihatlah nak istrimu kesakitan, lepaskan lah tangannya"
Raga tidak ingin emosinya terus terpancing jika meladeni pria tersebut, ia pergi dengan terus menarik pergelangan tangan Aliza.
pria tersebut hanya menggelengkan kepala. Raga dan Aliza sudah tidak lagi terlihat dipandangnya.
"Ali"
__ADS_1
"eh"
"kamu ngapain, ayo kita kembali ke hotel "
"iyaa dew"
"Sadewa, tadi saya lihat pesaing bisnis kita sama istrinya"
"terus"
"sepertinya dia itu tempramental, kelihatan banget kasar nya ke istrinya, istrinya sudah minta di lepas karena pergelangan tangannya sakit, tapi masih aja di tarik kasar"
"kesian aku sama istrinya kelihatan tertekan banget, istrinya itu seumuran anak ku, kayaknya seumuran juga sama anak mu Dew" Sadewa hanya mengangguk angguk, Sadewa mana tau jika pria yang kasar pada istrinya itu adalah menantunya, dan istri dari pria itu adalah anak semata wayangnya. anak yang mungkin sudah ia lupakan karena rasa benci kehilangan istri tercinta.
...
tubuh Aliza terhempas saat Raga mendorong nya masuk.
"SIAPA YANG NGIJININ LO PERGI, ALIZAAA "
"maaf tuan, saya hanya ingin sholat, saya nggak tau tempat sholat di sini, saya sudah tanya ke orang-orang yang kerja di sini, tapi mereka mengabaikan saya, mereka tidak percaya jika saya menginap di sini, saya terpaksa mencari masjid terdekat sampai akhirnya saya ketiduran " jelas Aliza jujur.
"kenapa Lo bisa makan berdua dengan zidan, wanita hina!"
"saya sudah menolak tuan, tapi zidan memaksa "
"alah banyak alasan Lo" Raga menendang betis Aliza, rasanya sakit Sekali, Aliza meringis menahan sakit.
"ingat ini cewek murah, sekali lagi gue lihat Lo atau gue denger Lo makan atau apapun itu dengan zidan, habis Lo di tangan gue " ancam Raga.
"sekarang Lo mandi, Lo pakai baju yang ada di lemari, gue tunggu Lo kasur " Aliza mengangguk samar.
"Ya Allah" lirih Aliza.
....
Raga terlentang menunggu Aliza selesai mandi, tidak lama wanita itu keluar.
takut takut aliza mendekat, ia duduk di pinggir ranjang seperti malam sebelumnya.
"Lo mau Tidur dengan duduk kaya gitu, cepat tidur, atau Lo mau gue yang buat Lo tidur" Wanita itu akhir nya menidurkan diri di samping Raga, ia juga masuk ke dalam selimut yang sama dengan Raga, dengan posisi terlentang, dapat Aliza rasakan decitan kasur dan perlahan tangan Raga sudah ada di pinggang nya, kakinya di kunci Raga.
Aliza bisa rasakan hembusan nafas pria itu di leher jenjangnya.
"tidurlah, besok kita pulang ke Jakarta, gue malas lama-lama di sini" ucap Raga sebelum terlelap. suaranya pelan bahkan lembut
__ADS_1