Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
pulang bersama ayah


__ADS_3

"iya sebentar!" Aliza bergegas menuju pintu, wanita itu tertegun saat melihat siapa yang datang bertamu.


"Aliza..." Aliza mundur saat Sadewa ingin merangkul putrinya, hati Sadewa teriris dengan penolakan putrinya, mungkin ini juga yang sang putri rasakan saat ia menolak mentah-mentah kehadirannya. Inayah dan zidan yang juga datang bersama mereka hanya bisa saling pandang.


"Siapa, za?" ucap Raga sedikit mengencangkan suaranya, di belakang raga ada Clara, mereka yang di depan pintu menatap mereka berdua.


"A--yah" ucap Aliza lirih.


"kenapa berdiri di situ, masuklah " ucap raga yang sudah duduk di sofa, Clara duduk di sampingnya.


"silahkan " Aliza mempersilahkan mereka untuk duduk, Aliza menuju dapur untuk membuatkan minuman, air matanya tumpah saat kembali bertemu dengan orang tercinta.


"aa--ayah, kenapa ayah datang, ayah akan terluka lagi jika menemui Liza..." lirih Liza seorang diri.


"ada keperluan apa kalian repot-repot bertamu ke rumah saya?" Raga menyenderkan punggungnya di bahu sofa, Clara tidak sekalipun melepaskan Lengan Raga, Sadewa mati-matian menahan emosi saat melihat putri semata wayangnya di perlakukan layaknya pembantu.


"Saya ingin melunasi hutang-hutang saya, ini..." Sadewa meletakkan tas bersihkan uang cas dua ratus juta di atas meja, Rafa berganti melirik tas Dengan wajah Sadewa, raga kembali duduk dengan tegak, ia sedikit menunduk.


"kembalikan putri saya" tegas Sadewa.

__ADS_1


"Putri?"


"putri yang sudah anda buang?" lanjut raga, raga menaikan satu alisnya menatap wajah Sadewa merendahkan.


"SAYA INGIN PUTRI SAYA, KEMBALIKAN PUTRI SAYA DAN AMBIL INI" Sadewa melempar uang itu di hadapan raga, Aliza sengaja memperlambat langkahnya, ia tidak ingin bertemu mereka.


"Pembantuuu, cepat" teriak Clara berhasil mendapatkan tatapan marah dari Raga.


"kenapa kamu liatin aku kaya gitu? benarkan wanita itu pembantu? raga tidak menjawab.


"Alizaaaaaaa, cepatlah"


BRAK!!!


Sadewa menggebrak meja begitu kuat, tangan Aliza sampai gemetar mendengar suara keras ayahnya.


"PUTRI KU BUKAN PEMBANTU!"


"Aa--ayah" lirih aliza, mendengar suara putrinya, Sadewa sedikit meredam emosinya, ia pandangi wajah sayu Aliza dengan tubuh kurus tidak terurus nya.

__ADS_1


"putri ku..." Aliza kembali melanjutkan langkah dengan pandangan menunduk. Raga menahan pergelangan tangan Aliza dan memintanya duduk di sampingnya.


" kamu gila ga, dia pembantu" jerit Clara tidak terima saat Raga meminta aliza duduk di sampingnya.


"DIAM KAMU " Clara tersentak saat raga membentak, Clara dengan kesal pergi, karena mendapatkan bentakan memilih pergi dari sana, raga tarik nafas dalam untuk mengatur emosi


"duduklah" perintah bara, raga bergeser ke arah Aliza, satu tangannya memeluk Aliza dari belakang, semakin geram lah Sadewa saat raga menunjukan wajah angkuhnya pada mereka.


"Sudah makan?" Aliza Mengangguk, raga sepertinya memang sengaja memperlihatkan kemesraan di hadapan Sadewa. raga mengusap perut Aliza.


"LEPASKAN TANGAN MU LAKI-LAKI BAJINGAN, JANGAN SENTUH PUTRI KU" Sadewa yang sudah tidak tahan menepis tangan raga dari perut Aliza. raga mendongak dengan wajah sengaja di buat-buat kaget, berbeda dengan Aliza, wanita itu sungguh terkejut dengan respon ayahnya.


"Ayah mertua, putri ayah ini... istri sah saya, jadi saya berhak menyentuh Bahkan melakukan hal lebih padanya" ucap raga dengan santainya


"nak, kemarilah, kita pulang, ayah sudah berhasil membeli kembali rumah kita nak,ayo nak pulang lah bersama ayah" Aliza menoleh menatap Raga, raga pun menatap Aliza begitu dalam.


"ayo nak, kita pulang nak...." Aliza menggeleng.


"nak... maafkan ayah nak, maaf, ayah salah karena sudah membuatmu menderita karena keterpurukan ayah, maaf nak, Kita pulang ya nak,kita mulai lagi hidup lebih baik, kamu bisa kuliah nak, kamu bisa kuliah kedokteran seperti ibu..." lirih Sadewa, dengan ke-dua tangan mengambang meminta Aliza memeluknya

__ADS_1


"ma--maaf, ayah, Liza nggak bisa"


__ADS_2