Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
Sakit mental


__ADS_3

"nggak papa kok, saya sudah sering di bentak, di pukul, di Jambak, di seret, di tampar, bahkan di berikan pukulan layaknya seorang pria, bentakan seperti itu tidak ada apa-apanya untuk saya, cacian, teriakan, hinaan, bukan hal baru di hidup saya" Aliza menatap Raga dengan mata berkaca-kaca, semenjak hamil perasaannya menjadi lebih sensitif, mungkin bawaan hormon juga, Raga cukup tersentak dengan ucapan Aliza.


"tubuh saya sudah terbiasa dengan berbagai macam siksaan, hati saya juga perasaan saya pun sudah terbiasa dengan bentakan dan segala macam rasa sakit apapun... anda tidak perlu meminta maaf, saya pun sudah siap jika sudah di rumah nanti... anda ingin kembali memukuli saya" Raga menghela nafas berat, diraihnya salah satu tangan Aliza untuk di genggam, Raga terus menatap Aliza yang duduk diam di sampingnya, tatapan mata wanita itu kosong, benar-benar kosong, sepertinya sudah tidak ada lagi semangatnya untuk hidup. perubahan sikap Raga padanya pun tidak sama sekali berpengaruh di hidupnya, wanita hamil itu seakan terganggu psikologisnya, kekerasan yang selama ini ia dapatkan sudah merubah kehidupannya, Aliza jadi sering melamun, menangis, Bahkan tertawa sendiri, raga sendiri yang sering melihat perilaku aneh Aliza, Raga bisa rasakan ada yang berubah dari istrinya, jika dulu tatapan Aliza terus memberikan sorot mata takut dan sayu, tapi sekarang, sorot dan tatapan nya kosong. seperti beberapa hari yang lalu, Aliza tertawa di tengah malam.


flashback on


"hahahaha" Raga terlonjak kaget karena tiba-tiba mendengar gelak tawa seorang wanita, raga memicingkan Matanya memastikan jika wanita berambut panjang yang duduk di pinggiran ranjang adalah istrinya.


"Aliza" Panggil Raga, Aliza menoleh dengan raut wajah datar


"tuan, maaf, anda pasti terganggu dengan suara saya, maaf" Raga menautkan alisnya, sungguh raga di buat kebingungan, Raga lirik jam di dinding, jarum. pendeknya baru menunjukkan pukul satu dini hari.


"kenapa Lo bangun, za, ini masih tengah malam" Aliza kembali menidurkan dirinya di samping raga, matanya menatap langit-langit kamar, wanita itu hanya diam, dengan mata terbuka, tidak lama raga melihat air mata wanita itu mulai mengalir melalui sudut matanya.


"Lo mimpi buruk?" Aliza menoleh lagi menatap Raga, wanita itu Menyunggingkan senyum. Aliza merubah posisinya menghadap Raga, telapak tangannya di jadikan bantal.


"saya mimpi indah, ketemu ibu, ibu cantiiiiik banget" Aliza terlihat begitu antusias.


"saya bilang ke ibu, kalau saya lagi hamil, sebentar lagi ibu jadi nenek, terus saya ledekin ibu, tua... tua, gitu, makanya saya ketawa " Aliza begitu antusias menceritakan mimpinya pada Raga


"terus .... kenapa Lo jadi nangis"


"saya nangis... karena semuanya hanya mimpi, saya pengen ketemu ibu" Aliza menutup Matanya membiarkan air matanya tumpah.


"ibu..., Liza kangen ibu, Liza mau di peluk ibu, liza capek banget bu, Liza mau sama ibu" lirih Aliza begitu pilu, Raga mendekat dan mendekap tubuh Aliza yang mulai bergetar.


"huust, udah... besok kita ke kubur ibu, pasti ibu senang juga di jenguk Lo" Aliza mengangguk.


beberapa hari kemudian setelah kejadian itu


"alizaa "


"alizaaa" Raga berdecak kesal, sudah ada sepuluh menit Raga mencari keberadaan Aliza di ruang nya, tapi wanita itu seakan menghilang, biasanya Aliza akan langsung datang saat namanya di panggil

__ADS_1


"kamu liat Aliza, nggak" Clara mengangkat bahunya acuh


"emang aku orang tuanya"


"siapa tau kan kamu lihat "


"Aliza, Lo di dalam " Aliza benar-benar ada di dalam kamar kosongnya, wanita itu duduk bersila tepat di bawah lampu, tatapan wanita itu kosong, wajahnya datar.


"Aliza" panggil Raga pelan, wanita itu sama sekali tidak merespon, raga mendekat, dan duduk di hadapan Aliza, raga rapikan rambut Aliza yang keluar dari rambutnya, wanita itu benar-benar terlihat berantakan, matanya sembab.


"kenapa hm?" mendengar suara raga yang begitu lembut membuat Aliza tidak dapat menahan air matanya, Aliza memeluk Raga Menangis terisak, raga membalas pelukan raga, ai usap lembut punggung Aliza yang bergetar.


"Clara jahatin kamu" Aliza Mengangguk


"semua orang jahat sama saya, tuan, hanya ibu yang baik... tapi ibu juga pergi ninggalin saya, tuan..."


"ada gue, gue nggak Kan jahatin Lo lagi" Aliza menggeleng, ia eratkan cengkramanya di kedua sisi baju.


"ii--iya" ucap Aliza sesenggukan.


"saya nggak yakin... tuan akan terus baik sama saya, tuan sangat membenci saya, saya nggak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar" Raga diam, hatinya terenyuh mendengar apa Aliza katakan.


"maafin gue"


flashback on


keadaan Aliza benar-benar memburuk, mental wanita itu sepertinya terganggu, Aliza butuh pengobatan mental.


tangan Aliza di atas meja terus mengetuk-ngetuk, Matanya sesekali berotasi ke kanan juga ke kiri, wanita itu terlihat begitu was was dan ketakutan


"Aliza tenanglah, gue mohon tenanglah Aliza..." raga sampai prustasi Melihat tingkah Aliza.


"tuan... saya mau makan di rumah aja boleh?" Aliza memohon

__ADS_1


"iya... kita makan di rumah aja"


....


"gimana kabar aliza, ga?" Zidan letakkan kembal gelas kopi di atas meja


"kayanya ada yang salah sama Aliza, dan" zidan menautkan kedua Alisnya, ia benarkan posisi duduknya


"salah gimana?"


"Aliza seperti kehilangan jiwanya, tatapannya selalu kosong, di ajak ngobrol sering nggak nyambung, gue tanya ini dia jawab itu, terkadang Aliza tertawa terbahak-bahak sendiri, terkadang menangis sampai kesulitan bernafas, Aliza kaya orang linglung, dan"


Raga sadarkan punggungnya di kursi ia tarik nafas panjang. dasi yang mencekat dileher Raga longgarkan.


"itu semua gara-gara Lo, Lo yang sudah buat Aliza sampai kaya gitu, Lo hancurin hidup Aliza, Lo buat jiwanya tertekan, dan sekarang..." Zidan menatap tidak percaya pada Raga.


"Lo kebingungan dengan perubahan sikap Aliza, Lo waras, ga" zidan benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya, Raga yang sudah merubah Aliza menjadi seperti sekarang.


"gue nggak bisa bayangin... apa yang sudah wanita malang itu lewati sampai mentalnya terganggu"


"ahh iya, gue baru ingat, Lo sebejat apa, gue belum pernah menemui orang yang lebih bejat dari Lo, raga, cuman Lo yang tega istrinya sendiri di tiduri pria lain, lo dengan teganya meminta Rendy meniduri istri Lo" zidan menutup Matanya, sungguh zidan tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"Lo suami gila yang sudah menyiksa fisik dan batin istri Lo sendiri, dan sekarang Lo justru mempertanyakan perubahan kejiwaan Aliza tanpa mau berkaca"


"kayanya Lo yang butuh psikiater, bukan Aliza"zidan rapikan jasnya dan berlalu dari sana. raga meraup wajahnya prustasi.


...


pyar!!!


gelas di tangan Aliza terlepas begitu saja dari genggamannya.


"Lo apa-apaan sih" bentak Clara

__ADS_1


__ADS_2