
"ga! pembantu Lo di mana?" Rendy yang sudah tidak tahan akhirnya menanyakan keberadaan Aliza, Inayah mengepal kedua tangannya, ia tidak terima sahabatnya di sebut pembantu di rumahnya sendiri.
"ngapain Lo nyari dia?" jawab Raga dengan wajah datar
"mau lanjutin yang belum selesai" ucap Rendy dengan tatapan begitu merendahkan Aliza. semua yang ada di sana tertawa, mereka sudah tau apa yang terjadi diantara Rendy dan Aliza waktu itu, Rendy sendiri yang menceritakan pada mereka
"Emang cantik banget ya ren, sampai Lo penasaran banget?" satu orang wanita menyenggol bahu Rendy.
"beh, cantik mulus, kecil sih tapi bikin mata berbinar-binar, gue sudah lihat bagian dadanya" zidan menahan tangan Inayah, wanita itu ingin sekali menjambak rambut Rendy.
"jangan gegabah " bisik zidan di telinga Inayah. Raga mengepal kedua tangannya, buku-buku jarinya sampai memutih, urat-urat di tangannya menonjol. ia sungguh tidak terima insri nya dijadikan bahan obrolan.
Aliza yang berada di dapur mendengar jelas saat Rendy melecehkannya secara verbal di hadapan banyak orang, tangannya gemetar memegang gelas.
"gue penasaran banget sama tu cewek, pengen denger jeritannya di bawah gue" kembali mereka tertawa begitu terbahak-bahak, Aliza bergegas naik kembali ke atas, ia tidak ingin lebih mendengar lagi apa yang mereka bicarakan, Rendy yang asik tertawa tanpa sengaja melihat sosok Aliza yang menaiki tangga.
"gue ke WC dulu" ucap Rendy tersenyum smirik bergegas ia pergi mengejar Aliza.
"akkhh" kepala Aliza mengenadah saat rambutnya yang tertutup hijab di tarik dengan kasar.
"kita ketemu lagi pembantu cantik" Aliza berusaha melepaskan tangan Rendy dari rambutnya.
"lepas, sakit... lepas saya mohon" lirih Aliza memohon, Rendy begitu kuat menarik rambutnya. satu tangannya memegangi perutnya.
"nggak akan sakit, sayang" Rendy menyeret tubuh Aliza masuk ke dalam kamar yang ia tempati sebelumnya untuk melecehkan wanita itu.
"lepas, atau saya teriak"
"teriak aja, sayang"
"TUAAAN, TO--" Rendy membekap mulut Aliza, ia tutup pintu depan rapat.
"hust, jangan teriak,gue nggak suka melakukan kekerasan sama cewek cantik, jadi diam ya" Aliza menggeleng ketakutan.
"Raga.... tolong Rafa" ucap Aliza berteriak di dalam hatinya, Rendy seret tubuh Aliza menuju kasur. Raga yang dibawah merasa ada yang tidak beres di rumahnya, perasannya gelisah, setelah ia sadar Rendy juga belum kembali dari kamar mandi, kini pikirannya tertuju pada Aliza.
__ADS_1
"Brengsek!!" Raga lempar kaleng minuman soda dan segera ia berlari ke lantai dua rumahnya, Inayah tidak tinggal diam,ia ikut naik juga untuk memastikan keadaan sahabatnya.
Raga buka secara kasar pintu kamarnya, nihil tidak ia temukan istrinya di sana, Raga juga mengecek kamar mandi tapi tidak juga ia temukan Aliza di sana. segera ia menuju dua kamar kosong lainnya
brak!!! pintu terbuka, ia lihat lagi Aliza yang terlentang di atas kasur dengan Rendy di atasnya dengan posisi satu tangan membekap mulut Aliza sedangkan yang satu lagi menahan kedua tangan wanita itu, baru saja ia ingin mendaratkan ciumannya, pintu kamar sudah lebih dulu di dobrak.
"Brengsek" umpat Raga dengan langkah besar tangan terkepal bersiap memberikan pukulan di wajah sahabatnya.
Inayah hanya bisa berdiri di depan pintu, ia bekap mulutnya rapat-rapat, ia lihat dengan kepala matanya sendiri bagaimana sahabatnya di lecehkan.
"Lo ko sela---" ucapan Rendy terpotong karena Raga lebih dulu menarik kerah bajunya dan melayangkan bogeman ke wajah Rendy.
bukh!!!!
bukh!!!!
brengsek, beraninya Lo menyentuh istri gue, BANGSAT"
BUKH!!!
BUKH
*BUKH!!!
"RAGA, STOP " zidan berlari dan menarik agar Raga menjauh dari atas tubuh Rendy yang sudah tidak berdaya.
"LEPAS, BANGSAT "
"LO MAU MASUK PENJARA GARA-GARA MEMBUNUH SAHABAT LO"
"BRENGSEK INI DENGAN BERANI MENYENTUH ISTRI GUE"
"JANGAN LUPA, LO SENDIRI YANG PERNAH MINTA DIA BUAT NYENTUH ALIZA, DAN SEKARANG LO BERSIKAP TIDAK TERIMA SAAT ADA ORANG YANG MENYENTUHNYA, KEMANA AJA LO BRENGSEK, HAH" dada ra,ga kembangnya kempis, ia tahan sesak atas ucapan zidan, zidaaaan benar, ia sendiri yang pernah Dengan suka rela meminta Rendy melecehkan istrinya, Raga menoleh ke arah Aliza berada, segera ia berdiri dan menghampiri Aliza.
"minggir " perintah Raga pada Inayah yang memeluk Aliza, Inayah menurut, ia biarkan Raga mendekati sahabatnya.
__ADS_1
"ra--raga" Aliza berhamburan ke pelukan Raga, Raga memeluk Aliza begitu erat, Aliza pun sama, ia remas baju yang pria itu kenakan.
"KELUAR DARI KAMAR GUE, KELUAR DARI RUMAH GUE, KELUAR SEKARANG" perintah Raga pada mereka semua yang berada di sana, zidan menarik lengan Inayah untuk segera pergi dari sana, Rendy dengan wajah babak belur sudah keluar di bantu yang lain
"gue mau di sini, gue nggak mau pergi" tolak Inayah
"jangan keras kepala Inayah" dengan sedikit paksaan zidan berhasil membawa Inayah keluar dari kamar Raga, tertinggal Aliza dengan Raga di dalam kamar. Aliza Masih menangis di pelukan Raga
"hust, tenanglah... ada gue, gue nggak akan biarin siapapun menyakiti Lo lagi" Aliza tidak menjawab hanya ada Isakan yang terdengar.
merasa Aliza mulai tenang, Raga melonggarkan pelukannya,ia tatap wajah Aliza, terdapat robekan di sudut bibirnya, robekan yang terjadi akibat tamparan yang Rendy lakukan padanya.
Raga mengusap lembut wajah Aliza yang kembali terdapat memar di sana, sudah hampir satu bulan lebih Raga tidak pernah lagi bermain tangan pada istrinya, tapi sekarang justru orang lain yang dengan teganya memperlakukan istrinya serendah itu di rumahnya sendiri, Raga kembali memeluk Aliza.
"maafin gue, maaf" ucap Raga begitu lirih.
"aa--aku takut, aku takut, aku takut"
"sekarang Lo aman, ada gue di sini"
...
"Raga menyebut Aliza sebagai istrinya? kegilaan macam apa ini" Zidan dan Inayah Masih di perjalanan pulang.
"mereka memanglah suami istri " keduanya saling pandang, Zidan menatap Inayah Penuh tanda tanya.
"ya, Aliza menikah tujuh bulan yang lalu, Raga menyembunyikan status pernikahan mereka dan menjadikan Aliza sebagai pembantu di rumah nya" jelas Inayah, mengalir lah cerita kehidupan Aliza dengan Raga begitu saja, zidan masih tidak menyangka dengan jalan pikiran Raga, pria itu menikahi anak gadis orang lain untuk di jadikan pembantu di rumahnya, bahkan Raga dengan teganya meminta Rendy menyentuh istrinya dan Raga sendiri yang menghamili Aliza, kurang jahat apa lagi sosok Raga di cerita ini.
"gue nggak menyangka Raga bisa senekat dan Setega itu sama perempuan, apalagi perempuan ini istrinya sendiri"
"sahabat Lo benar-benar Nggak punya hati, di menyiksa istrinya, meminta Pria biadab itu melecehkan istrinya, menghinanya" Inayah tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.
"tapi gue lihat tadi..."
"peduli dengan Aliza? " Zidan Mengangguk
__ADS_1
"ya, gue juga ngerasa hal yang sama, cowok brengsek itu kayanya mulai peduli bahkan Kawatir dengan Aliza, apa karna kehamilan Aliza?
"bisa jadi"