
"Takut-takut Aliza mengangkat wajahnya menatap Raga.
"rasa apa?"
"coklat keju" ucap Aliza yang duduk di salah satu kursi
"coklat keju satu" ucap Raga pada pedagang martabak manis di sampingnya, ia hampiri Aliza dan duduk di sampingnya
di sinilah mereka, Aliza kira saat ia sampaikan keinginannya pada Raga, pria itu akan memukulnya atau menghinanya, tapi tidak, Raga justru terlihat senang, dengan sangat bahagianya terus bertanya pada Aliza ingin rasa apa, mau beli berapa, pakai susu atau tidak, itu terus di ulang-ulang saat di perjalanan.
"tuan maaf, setelah ini kita beli tas pack boleh?" Raga mengangguk, ia tarik tangan Aliza untuk di genggam. tatapan pria itu datar, satu tangannya sibuk memainkan ponsel. tidak lama menunggu karena kebetulan yang antri hanya dua orang, padahal penjual yang mereka datangi terkenal dengan pelanggannya yang banyak. mata Aliza berbinar saat satu piring martabak coklat sudah ada di depan mata. Raga tersenyum melihat reaksi wanita itu, ia buka kan botol air mineral untuk Aliza.
"minum dulu!" Aliza ambil alih botol air dari tangan Raga.
"makasih tuan" Raga tidak menjawab ia hanya terus memasang wajah datar. Aliza benar-benar menikmati makanan manis di depannya, bahkan sampai tidak sadar untuk menawarkan pada Raga
"Lo mau makan sendiri, Lo nggak mau nawarin gue" mata Aliza langsung membola saat sadar, bahkan ia sampai batuk karena panik.
"minum dulu minum"
"maaf tuan, saya lancang" ucap Aliza merasa bersalah.
"nggak usah Minta maaf, mending Lo suapin gue sekarang, gue juga dari tadi sudah ngeces ini liat Lo makan" Aliza arahkan satu potong martabak pada Raga, sekali gigit martabak itu habis setengah, Aliza arahkan lagi sisa potongannya ke mulut Raga, tertinggal coklat di sudut bibir pria itu, Aliza mengusap dengan ibu jarinya sendiri sudut bibir Raga, pandangan mereka beradu, Raga menatap Aliza begitu dalam, sedangkan Aliza terlihat masih takut, padahal Raga sudah bersikap biasa saja, sudah jarang membentak apalagi memukul, tapi Aliza masih sering ketakutan saat menatapnya, mungkin trauma wanita itu teramat besar.
satu porsi martabak manis, habis ludes dalam sekali makan, terhitung Raga hanya memakan tiga potong martabak, sedangkan Aliza sisanya, tidak terbayang seberapa begah sekarang perut kecil itu .
Raga tidak mengendarai mobil, ia memakai motor Scoopy yang sudah lama terparkir di halaman rumah nya, tangan Aliza di tarik Raga untuk melingkar di pinggangnya.
"kita jalan-jalan dulu, baru pulang"
"ii--iya" dengan kecepatan sedang, Raga mengendarai motornya di sepanjang taman, malam ini adalah malam Ahad, jadi wajar jika banyak pengunjung yang menghabiskan waktunya di pantai, banyak juga pedagang kaki lima yang berjualan di sana.
"mau beli sesuatu lagi?" Aliza menggeleng, mana Raga bisa tau jika wanita itu menggeleng.
"Lo nggak bisu kan, kalau di tanya itu jawab, jangan diam aja" Aliza mengatup bibirnya rapat-rapat.
__ADS_1
"maaf tuan"
"mau sesuatu lagi apa nggak"
"nggak tuan, saya sudah kenyang" Raga Genggam tangan Aliza yang ada di perutnya.
"ya iyalah kenyang, badan sekecil itu makan martabak satu porsi sendirian " ejek Raga dengan sudut bibir terangkat.
"tu--tuan juga makan tiga potong kan!" Aliza tidak mau kalah, ia tidak terima di sebut menghabiskan martabaknya sendiri, padahal Raga juga jelas-jelas makan dari tangannya.
"itu mah nggak sebanding sama yang Lo makan, gue cuman makan tiga, Lo makan hampir setengah" goda Raga lagi, ia ingin melihat karakter lain dari Aliza.
"iih, nggak, saya nggak makan banyak" rengek Aliza di belakang motor, benar kan, Raga berhasil memancing agar sifat itu keluar, sifat Manja istrinya.
"saya nggak makan sendiri, kita makan bertiga!"
"bertiga?" belo Raga, jelas-jelas mereka hanya berdua
"iya bertiga, saya sama tuan dan..." Aliza menatap perutnya yang masih rata
"iya iya, Lo nggak makan banyak, kita makan nya bagi tiga, gue Lo dan anak kita" ucap Raga lagi
"jangan di muntahin lagi!"
"bukan kemauan saya" jawab Aliza sedikit ketus.
"Iya deh" mereka lanjutkan perjalanan dengan diiringi obrolan kecil juga tawa keduanya, untuk pertama kalinya semenjak menikah Aliza tertawa selebar itu, ia baru tau jika Raga memiliki selera humor yang baik.
"puas banget Lo ketawa"
"habisnya tuan lucu banget" Aliza menjawab Jujur, kini mereka sudah sampai di salah satu apotik untuk membeli taspack sesuai permintaan Aliza.
Raga tidak melepaskan tangan Aliza sampai mereka Tiba di meja kasir.
"Mbak, ada tas pack?"
__ADS_1
"ada, berapa mas" Raga menoleh pada Aliza.
"lima" jawab Aliza mengerti kode dari Raga.
"banyak Banget"
"nggak papa, biar jelas aja hasilnya"
"iya, suka-suka Lo deh" Mbak penjaga kasir tersenyum melihat perdebatan kecil pasangan di depannya.
"buat mbak nya ya" Aliza mengangguk.
"dari mukanya aja sudah kelihatan aura bumil nya, mbak" ucap mbak Kasir, Raga menoleh lagi menatap Aliza, wanita itu malu dan terlihat pipi putih nya bersemu merah.
"aura ibu hamil itu beda, jadi dari mukanya aja bisa di tebak"
"doa in ya mbak, semoga saya dapat bayi kembar" ucap Raga begitu ramah, Berbeda sekali dengan Raga yang Aliza kenal selama ini.
"Aamiin, semoga keinginannya terkabul, kehamilannya lancar, proses persalinannya di permudah "
"aamiin ya Allah" ucap Raga dan aliza bersamaan.
"kalau gitu makasih mbak " mbak Kasir itu tersenyum dan mengangguk samar.
....
Aliza sembunyikan semua taspack yang sudah ia pakai di belakang tubuhnya, Aliza Belum berani melihat hasilnya, ia masih duduk di atas kloset dengan kaki bergerak gerak. sedangkan di luar, Raga sudah tidak sabar menunggu Aliza keluar dari kamarnya, pria itu berkali merubah posisinya dari Duduk terus berdiri dan duduk lagi.
"Aliza, lama banget, apapun hasilnya gue nggak akan marah, Lo sudah setengah jam di dalam, jangan buat gue terpaksa mendobrak pintunya, keluar sekarang"
ceklek
Aliza keluar dengan kepala menunduk, Aliza masih menyembunyikan benda itu
"saya belum liat, Tuan bisa lihat lebih dulu" ucap Aliza dan menyerahkan taspack nya pada Raga.
__ADS_1