
"kenapa bisa Lo di sini, ya?"
"ceritanya panjang, gue nggak akan bisa jelasin sekarang" Inayah telisik wajah sahabatnya
"Lo Sakit, za?" Aliza menggeleng.
"muka Lo pucat banget ... dan ini kamar Raga, Kenapa Lo bisa ada di sini?
"ceritanya panjang juga ya, gue nggak akan bisa cerita sekarang"
"gue nggak bisa lama-lama di sini za, tadi gue bohong ijin ke toilet bentar" Inayah terus menatap iba pada sahabatnya, garis wajah wanita itu terlihat begitu jelas, matanya sayu tidak ada terpancar kebahagiaan sedikitpun di sana.
"Lo kenapa, za. Lo pucat banget?" Aliza mengembang kan senyum.
"gue nggak papa, gue sehat" ucap Aliza memaksakan senyum.
di bawah, Raga mulai curiga karena zidan dan Inayah Belum kembali juga, sudah sejak tadi mereka pergi dan sampai sekarang belum kembali, Raga mulai berpikir yang tidak-tidak, dengan langkah besar Raga menyusul mereka, tapi tidak ia temukan mereka di dapur ataupun kamar mandi, Raga curiga Inayah sengaja ikut dengan zidan agar bisa bertemu dengan Aliza. sedangkan zidan semakin di buat cemas, pasalnya Inayah belum juga keluar dari kamar Raga, Inayah membantu Aliza yang sedang mual di kamar mandi, zidan kaget bukan main saat ia melihat Raga yang sudah ada di depannya, ingin menarik Inayah keluar dari kamar Raga pun sudah tidak mungkin lagi, Raga menghunuskan tatapan mata tajam pada Zidan, tanpa mengatakan apapun ia masuk ke dalam kamarnya, Raga ikut panik saat menemukan Aliza yang muntah-muntah tanpa henti di depan closed, Raga ikut berjongkok di samping Aliza dan menggantikan tangan Inayah untuk memijat tengkuk Aliza, Inayah heran dengan perlakuan Raga, pria itu terlihat begitu khawatir dengan sahabatnya.
"sudah lega?" Aliza mengangguk, Raga membantu Aliza untuk berdiri dan memapah tubuhnya keluar dari dalam kamar mandi di susul Inayah, zidan yang juga kawatir dengan Inayah karena kedapatan berada di dalam kamar Raga pun ikut masuk untuk memastikan keadaan
"minum dulu" Aliza tegak air putih Hingga tandas. merasa mulai tenang, Raga kembali berfokus pada Zidan dan Inayah.
__ADS_1
"kenapa kalian ada di ruangan pribadi saya?" Inayah menunduk, tidak berani menatap wajah atasannya.
"gini ga---" Raga tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari zidan, ia memberikan isyarat melalui tangannya.
"apapun itu saya tidak peduli, sekarang keluar dari kamar saya sekarang juga" tegas Raga pada dua pekerjanya, tidak ada juga yang bisa kedua orang itu lakukan untuk membela diri, Aliza yang masih ingin bertemu Inayah menarik ujung baju Raga.
"tu--tuan sa--saya mohon ijinkan saya lebih lama lagi bertemu dengan Inayah"
"nggak akan pernah"
"tuan, saya mohon tuan" mata aliza mulai berkaca-kaca, entah sejak kapan Raga mulai merasakan iba saat wanita itu menampakan ketidak berdayanya dan akhirnya ia mengangguk.
"baiklah, saya beri waktu tiga puluh menit untuk kalian bertemu, setelah tiga puluh menit kamu belum keluar juga, maka segera persiapkan surat pengunduran diri dari perusahaan saya" kesusahan Inayah meneguk salivanya, ancaman Raga tidak pernah main-main, Inayah mengangguk samar, sebelum keluar dari kamarnya, Raga duduk dulu di pinggiran tempat tidur menghadap Aliza, tangannya terulur merapikan anakan rambut Aliza yang keluar dari kerudungnya, Inayah dan zidan sungguh terheran heran dengan kedekatan mereka, bahkan Raga tanpa ragu mengelap keringat di wajah Aliza dengan tangannya sendiri setelahnya ia keluar dengan Zidan sekalian. Inayah bisa bernafas lega dan duduk lagi di hadapan Aliza.
"sekarang jawab gue dengan jujur Aliza, gue mohon jangan bohong" Inayah pandangi lekat-lekat wajah wanita pucat di depannya.
"Lo nggak hamil kan za?" wajah pucat, tubuh lemas, di tambah dengan mual, semua sudah cukup membuat Inayah curiga dengan kondisi fisik sahabatnya, mendengar pertanyaan dari Inayah Aliza hanya bisa menunduk dalam, air matanya mulai mengalir lagi, Inayah mendongak menatap langit-langit kamar, tidak mendapatkan jawaban apapun selain diam dan air mata membuat Inayah yakin Jika sahabatnya Benar-benar hamil, Aliza ingin menyentuh tangan sahabatnya tapi dengan cepat Inayah menghindar
"liat gue Aliza!" Aliza tidak menurut dan tetap menunduk
"LIAT GUE!" akhirnya bentakan itu keluar juga, tidak! Inayah tidak marah dengan Aliza, ia hanya merasa gagal menjadi sahabatnya, Inayah gagal menempati janji mereka untuk saling menjaga, dan sekarang sahabatnya itu hamil entah anak siapa, sungguh miris kehidupan yang harus sahabatnya jalani, sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa
__ADS_1
"za..." panggil Inayah Begitu lirih, air matanya tidak bisa lagi ia tahan.
"siapa za ? siapa yang sudah menghamili Lo za? siapa?"Aliza pun sama bingung nya,harus dari mana ia jelaskan semuanya pada Inayah, apa reaksi Inayah Jika tau anak yang ada di dalam perutnya adalah anak Raga, anak yang hadir karena pemerkosaan yang di lakukan Suaminya sendiri, Aliza tidak pernah menginginkan itu, Aliza tidak pernah mau Raga menyentuhnya karena Pria itu tidak pernah mencintainya, Aliza anggap apa yang Raga lakukan padanya adalah sebuah pemerkosaan terhadap nya, walaupun Raga suaminya sendiri.
"jujur za, gue mohon, jangan diam aja" Inayah mengguncang pundak Aliza. Inayah semakin di buat prustasi dengan kebisuan Aliza.
"JANGAN DIAM AJA ALIZA, JAWAB! SIAPA AYAH DARI ANAK LO ITU? ...." Aliza hanya diam dengan bahu yang terguncang.
"Raga? ... Raga ayah dari anak lo? ... Aliza please" Aliza Mengangguk.
"astaga .... Alizaaa" Inayah menutup matanya, ia sungguh tidak menyangka, jadi benar Aliza mengandung anak dari atasnya.
"brengsek"umpat Inayah tidak tahan lagi, Aliza tahan pergelangan tangan Inayah saat wanita itu berniat pergi.
"jangan pergi dulu , gue masih butuh Lo" lirih Aliza memohon.
"gue harus mempersiapkan surat pengunduran diri setelah ini za, gue harus beri cowok brengsek itu pelajaran" Aliza menggeleng ketakutan, dengan kepala yang masih berdenyut aliza ikut berdiri di depan Inayah.
"jangan, gue mohon jangan"
"apanya yang Jangan, dia sudah menghamili Lo Aliza, dia sudah buat Lo kaya gini, pria brengsek itu perlu balasan yang setimpal dan Lo masih minta gue untuk jangan lakuin apapun padanya, Lo gila!"
__ADS_1
"karena dia suami gue Inayah, Raga Argantara suami gue, suami sah di mata hukum dan agama, anak yang ada di kandungan gue anak yang hadir dari hubungan sah pernikahan gue dengan Raga, gue istirnya, gue istri sahnya " jerit Aliza dengan tersedu-sedu. Inayah mematung mendengar ucapan Aliza.
"iya Inayah, iya... gue di perkosa suami gue sendiri, gue di hamili suami gue sendiri, ini anak Raga, anak gue dengan Raga, dia bukan anak haram, Gue dan Raga sudah menikah secara sah di mata hukum dan agama, dan ayah yang menjadi saksi pernikahan gue dengannya " Inayah bahkan kesulitan berdiri karena seluruh otot-ototnya melemah, Aliza genggam terus tangan sahabatnya.