
Aliza dan Raga kompak menatap pintu saat Seseorang mengetuk dengan brutal.
"Lo naik dulu, entar gue susul" Raga menyerahkan lagi tasnya pada Aliza, Raga membukakan pintu untuk tamunya sedangkan Aliza naik kelantai dua untuk istirahat.
"masuk-masuk" ajak Raga pada beberapa temannya.
"kita duluan nih, yang lain belum ada?" tanya pria berbaju putih dengan seorang wanita di sampingnya.
"belum, masih otw ... gue ganti baju dulu " mereka Mengangguk dan terus melirik kesana kemari mencari Seseorang.
"mana ya cewek cantik yang Rendy maksud?"
"pembantunya Raga?" pria yang bertanya tadi mengangguk
"iya ya, ko nggak keliatan, gue penasaran mampus ... seberapa cantik sih"
"cantikan aku lah sayang, itu mah cuman pembantu" celetuk wanita berpakaian minim tersebut.
Aliza yang duduk di lantai dengan menyadarkan tubuhnya Kedinding berbalik menatap pintu saat Raga masuk.
"Lo ko duduk, sana istirahat " Raga letakkan tasnya dan mulai membuka satu-persatu kancing bajunya. Aliza menggeleng
"saya mau istirahat di bawah aja tuan, saya nggak bisa tidur di sini"
"jangan membantah, naik ... atau gue yang lempar Lo naik ke atas " ancam Raga dengan wajah dingin. dengan bertumpu pada pinggiran tempat tidur, Aliza berusaha berdiri, tapi rasa pusing di Kepalanya tidak main-main sakitnya, dengan sigap Raga membantu Aliza dan ia tuntun tubuh kecil itu itu berbaring di atas tempat tidurnya.
Raga duduk di pinggiran ranjang dengan terus mengusap ubun-ubun Aliza. Aliza tidak menginginkan ini, Aliza tidak suka di perlakukan seperti ini, setelah banyaknya siksaan tanpa henti yang pria itu berikan padanya, Aliza ingin menghilangkan nama Raga di hatinya, Aliza tidak ingin sakit hati jika sewaktu-waktu Raga berulah lagi.
"tidur lah, gue mau kebawah" saat Raga ingin beranjak, Aliza tarik ujung baju bagian belakang yang dikenakan pria itu, Raga menoleh lagi.
"sa--saya ingin tuan ada di sini ... sebentar"terkutuk lah hormon hamil jika memang Aliza sedang hamil sekarang, bisa-bisanya ia meminta Raga tetap ada di sampingnya, tingkahnya itu sangat bertolak belakang dari apa yang ia inginkan.
"sebentar, gue mau bersih-bersih dulu"
tidak lama Raga keluar lagi dari kamar mandi dengan pakaian dan penampilan yang lebih segar. langsung saja Raga mendekati Aliza yang tidur membelakanginya dan ikut bergabung di sampingnya. Raga peluk Aliza dan mengusap-usap perut ratanya. Aliza membuka matanya saat ia rasakan tangan Raga berada di atas pinggangnya.
"Tu--tuan!"
"hm"
__ADS_1
"gimana kalau saya tidak hamil, dan hanya mual biasa?" Raga diam tidak ada Aliza dengar sesuatu dari pria itu. Aliza Hanya khawatir pria itu kecewa.
"tu--tuan ...."
"mau Lo hamil atau nggak, Lo tetap istri gue, nggak akan ada yang berubah dengan status kita "
"tu--tuan ...."
"Tidur lah Aliza, jangan bertanya terus, gue harus kebawah nemuin mereka " Aliza mengangguk, usapan yang Raga lakukan di perutnya membuat Aliza merasa nyaman dan perlahan tertidur dengan pulas.
Brak!!! pintu kamarnya di buka secara kasar, Raga jelas kaget lah , ia berbalik badan dan menemukan Rendy di ambang pintu.
"ngapain Lo malah tidur woy, anak-anak sudah pada ngumpul "
"sialan " Raga pastikan lagi Aliza tidak bangun, Rendy menelisik siapa wanita yang tidur di samping Raga.
"gue kira lagi apa, ternyata lagi ...."
"alah banyak omong Lo, sana turun, entar gue susul " potong Raga cepat.
bukannya pergi, Rendy malah melangkah lebih dekat.
"gue penasaran ga, tu cewek siapa .... siapa yang sudah buat Lo sampai kayak gini" Raga melempar bantal tepat mengenai wajah Rendy, ia turun dari tempat tidur dan menyeret Rendy keluar dari kamarnya.
"Clara? ... perasaan Lo nggak Suka sama tu cewek"
di lantai satu rumahnya semua sudah berkumpul, begitu juga dengan makanan yang Raga pesan sudah tersaji di atas meja.
"ngapain aja Lo ga, dari tadi juga kita kumpulnya dan lo baru turun"
"biasa, habis tiduriin ceweknya dulu"Rendy yang menjawab. Raga baru sadar ada Inayah di samping zidan.
"Zidan, Lo ajak dia" tunjuk Raga, zidan mengangguk sambil menyunggingkan senyum.
"kenapa Lo liatin cewek gue kaya gitu" zidan menarik Inayah untuk bertukar tempat dengannya
"kalian pacaran?"
"menurut Lo"sarkas zidan
__ADS_1
Raga juga tidak berpikiran macam-macam, ia iyakan saja semua ucapan zidan.
tawa menggelegar terdengar di seluruh penjuru rumah, benar saja apa kata Raga, andai tadi aliza tidur di kamarnya sendiri, mana bisa wanita itu memejamkan matanya, Raga dan teman-temannya sangat berisik jika sudah berkumpul seperti ini.
Inayah menyenggol bahu zidan memberi isyarat.
"ga, cewek gue mau numpang ke toilet"
"masuk aja"
"ayo sayang aku antar" tanpa rasa curiga sama sekali Raga mengijinkan mereka berdua pergi.
"mana? Aliza mana?"
"ya gue nggak tau, dari tadi Aliza nggak kelihatan, biasanya dia di dapur" Inayah sudah gelisah karena sejak tadi tidak ia temukan sahabatnya berlalu Lalang di rumah Raga.
"kayaknya Aliza Nggak ada di sini, kita ke lantai dua" Inayah mengangguk, mereka mengendap-endap baik ke lantai dua, tidak ada juga mereka temukan Aliza di sana.
"kamar Raga yang mana"tanya Inayah
zidan menunjuk kamar yang berada tepat berada di depan mereka " ini, nggak mungkin Aliza di sana, Raga paling nggak suka ada orang asing di kamarnya"
"kita periksa Kamar lain" satu persatuan mereka periksa tapi tak juga menemukan Aliza di dalamnya.
"Zidan, Aliza mana" zidan juga sama bingung nya, satu-satunya tempat yang belum mereka periksa adalah kamar Raga.
"mau coba periksa?" Zidan mengangguk samar, perlahan Inayah membuka pintunya dan ia bisa melihat dari depan pintu, seorang wanita yang tidur membelakanginya, Inayah dan zidan saling pandang.
"Aliza" keduanya kompak menyebutkan nama Aliza, mereka kenal betul Aliza, apa lagi Inayah, mereka sudah bersahabat sejak kecil, jadi jangan heran jika Inayah bisa mengenali postur tubuh Aliza walaupun tidak melihat wajahnya secara langsung.
"Aliza Tidur di kamar Raga?" monolog zidan, ia sesekali juga mengintip keluar, takut ada Raga, atau orang lain yang melihat mereka
"udah sana samperin, kita harus cepat, Raga bisa tau kita masuk kedalam kamarnya"
Inayah berjalan cepat dan duduk di pinggiran tempat tidur, Inayah sentuh pundak Aliza dan memanggil namanya.
"za, Aliza" Aliza langsung membuka matanya dan berbalik perlahan.
"Inayah" keduanya sama-sama tidak menyangka, langsung saja Inayah memeluk sahabatnya, wajah Aliza pucat pasih, bahkan wanita itu tidak bertenaga untuk sekedar membalas pelukan sahabatnya.
__ADS_1
"gue kangen Lo za, gue kangen" air mata Inayah mulai tumpah, zidan memilih keluar dan menunggu di depan pintu kamar.
"gue juga aya, gue juga kangen Lo"