Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
serpihan gelas


__ADS_3

"Kenapa, Sadewa?"


"oh, eng--engak papa, kita lanjutkan aja"


"ada apa dengan Liza, ada apa dengan wajahnya, anak itu seperti habis di pukuli, badannya kurus sekali, apa yang terjadi padanya di rumah suaminya, apa Liza hidup dengan susah di sana" monolog Sadewa, Sadewa tidak lagi memfokuskan perhatiannya pada pria yang sedang menjelaskan mengenai bisnis baru yang mereka kelola bersama.


bayang-bayang wajah sang putri selalu melintas di benaknya.


"kamu mikirin apa toh dew" pria berjas rapi itu memilih duduk, penjelasannya sepertinya sia-sia, tidak ada satupun ucapannya di tangkap oleh sang sahabat.


"hah, lanjutkan saja Li"


"bagaimana mau di lanjutkan, orang kamu dari tadi nggak fokus saya lihat" Ali menutup berkas di depannya.


"mikirin apa?" lanjut Ali " mikirin anak kamu?" Sadewa mengangguk samar.


"kamu merindukan nya?" Sadewa bergeming, tidak memberi respon apapun.


"ingin bertemu dengannya, kita bisa pergi bersama"


"tak usah lah Li, anak itu juga sudah bahagia dengan keluarga barunya, aku mau fokus saja dengan apa yang sekarang aku usahakan"


"ya udah kalau gitu, terserah kamu aja"


....


"Raga sayang" merasa di abaikan Clara tidak gencar, wanita itu duduk dengan entengnya di pangkuan Raga yang sedang sibuk membolak-balik berkas.


bertubi-tubi Clara benturkan bibirnya dengan bibir Raga, Clara juga mengirup Aroma parfum vanilla di leher Raga.


"harum banget sih cowok aku"


"Raga"


"em"


"kamu kapan nikahin aku ga, aku nggak mau gini terus, kita juga sudah sangat dewasa untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, sayang"


Clara usap sensual sisi wajah Raga.


"Nanti ya, aku belum siap"


Clara berdecak kesal" belum siap dari segi mananya sih ga, ekonomi? jangan ngawur deh ga,apa yang buat kamu belum siap? hm"


"Aku masih harus ngembangin perusahaan Ra"


"setelah menikah aku nggak akan ngelarang kamu buat ngembangin perusahaan, bukan kah lebih bagus lagi jika perusahaan ku dan perusahaan milik mu disatukan" Raga menghela nafas panjang, ia pandangi clara di pangkuannya, tangan nya yang berada di atas meja... Clara tarik dan wanita itu letakkan tangan Raga tepat di atas pahanya yang terbuka, rok semampai yang wanita itu gunakan membuat paha putihnya terlihat jelas, apalagi posisi duduknya yang membuat kain penutup itu semakin tertarik ke atas.


Raga menurunkan pandangannya ke arah tangannya yang berada di atas paha Clara, Clara tersenyum menggoda.


kembali wanita itu mencium bibir Raga dan akhirnya Raga terbuai juga.


....


Raga kancing lagi kemeja putihnya, ia lirik Clara yang tertidur di belakangnya.


"kamu selalu saja menolak jika kita sudah ingin melakukannya, ada apa denganmu Raga, kamu normal kan?" ucap Clara kesal, ia bangun dari posisi tidurnya, baju bagian atasnya pun sama seperti Raga, sudah berantakan Kemana-mana.


"kita nggak bisa ngelakuin ini Ra, kita belum menikah"

__ADS_1


"ya udah nikahi aku sekarang, apa susahnya, kita bebas melakukannya setelah menikah"


"aku belum siap"


"belum siap, belum siap, belum siap, ARGGGHHH" geram Clara. Clara mencekal pergelangan tangan Raga saat pria itu ingin meninggalkannya.


"kamu tidak lupa kan ga, perusahaan ini berdiri karena bantuan dari orang tuaku, aku harap kamu tidak melupakan hal itu" Clara cepat-cepat mengancing bajunya, ia rapikan lagi rambutnya yang berantakan, dengan hentakan kaki dan langkah yang lebar Clara keluar dari kamar yang ada di ruangan Raga dengan perasaan marah.


"argghhhh" Raga menarik rambutnya, pria itu kembali duduk di pinggiran ranjang.


.....


Tubuh Aliza terdorong kedepan karena Raga yang menabrak bahunya


"astagfirullah" Aliza mengekori Raga, ia tuangkan air putih untuknya.


"GUE NGGAK MAU MINUM" gelas berisi air itu Raga lempar membentur dinding, Aliza menutup mata saat benda itu pecah dan belingnya berhamburan Kemana-mana.


"maaf tuan" Aliza duduk berjongkok memunguti serpihan gelas, dari belakang Raga tidak alihkan pandangannya dari wanita itu.


"Karina" monolog Raga


"Karina, itu kamu, Karin" sekilas Raga melihat Karina lah yang ada di depannya, Karina wanita yang begitu ia rindukan kehadirannya.


"Karina" Raga melangkah mendekati Aliza, wanita itu kaget saat Raga memeluknya, mata besar Aliza membola sempurna.


"Karina, kamu kemana aja sayang, aku kangen kamu, aku kangen, Kenapa kamu pergi ninggalin aku" jantung Aliza seakan berhenti berdetak, pria itu memeluknya begitu erat.


"tu--tuan, ini saya... Aliza... bukan Karina tuan" mendengar ucapan itu Raga membeku sesaat, ia lepas pelukannya dan menatap Aliza, matanya memerah geram, pria itu dengan teganya mendorong tubuh kecil Aliza Hingga jatuh.


"aw" meringis Aliza menahan sakit karena benturan keras di tubuhnya, juga telapak tangannya yang terasa perih akibat tertancap serpihan yang belum bersih total.


Aliza pandangi telapak tangannya, Aliza bergidik ngeri banyak darah yang keluar dari telapak tangannya. banyak serpihan pecahan gelas menancap di tangannya.


"aw, sakit sekali"Aliza tidak bisa mengepal tangannya, terlalu banyak serpihan kecil yang menancap, Aliza mencari-cari benda yang bisa membantunya mencabuti serpihan kecil itu dari telapak tangannya.


"ya Allah, gimana nyabutinnya"


"ALIZAAAAAAA"


"iya tuan"


"CEPAT, BANGSAT"


"ii--iya tuan"


"Aliza abaikan dulu sakit di kedua telapak tangannya".


.....


"Nggak ada pinset atau alat cabut apa kek gitu" Aliza memeriksa semua laci yang ada di lantai bawah, tapi tak juga ia dapati alat yang bisa membantunya mengeluarkan serpihan yang menancap di telapak tangannya.


"Langit" Aliza cepat-cepat menuju lantai atas, satu-satunya harapannya sekarang adalah langit. benar saja dugaannya, pria itu ada di sana.


"langit" langit menoleh mendengar panggilan Aliza.


"lama banget za, Kenapa baru ke atas"


"gue banyak kerjaan, ini pun gue mau minjam sesuatu sama Lo"

__ADS_1


"minjam apa" langit terlihat antusias


"Lo punya pinset"


"pinset? ada. tapi untuk apa" Aliza memperlihatkan kedua telapak tangannya.


"astagaaa, alizaaa, tangan Lo kenapa, kenapa bisa sampai kaya gitu Aliza"


"gue nggak sengaja jatuh, terus tangan gue bertumpu di serpihan gelas yang pecah"


"Lo tunggu situ, gue ambilkan obat dulu"


tidak sampai lima menit, langit datang lagi , pria itu kesulitan bernafas karena berlarian di dalam rumah mencari pinset juga obat luka.


"cepat banget, Lo lari ya?" langit tidak menimpali, ia kembali harus melewati atap untuk sampai ke tempat Aliza


"hati-hati Langit" sesampainya di sana, langit langsung mencengkram pergelangan tangan Aliza, ia menuntun Aliza untuk duduk, Aliza tidak bisa menolak.


"gue aja, gue bisa sendiri langit"


"untuk kali ini aja deh zha, jangan keras kepala, kedua tangan Lo terluka, please jangan halangi gue" akhirnya Aliza pasrah, ia biarkan langit mencabuti serpihan-serpihan kecil di telapak tangannya.


"aw, sakit" keluh Aliza, karena serpihan-serpihannya masuk menusuk lebih dalam ke kulit tangannya.


"maaf za, gue akan pelan-pelan, Lo tahan sebentar ya" Aliza mengangguk.


Aliza pandangi wajah Langit yang begitu serius mengobatinya, Matanya mulai berkaca-kaca.


"ternyata masih ada orang baik di hidup gue" monolog Aliza seraya menghapus air matanya.


"kenapa bisa kaya gini si za, Lo ko ceroboh banget sih"


"Lo ko baik Banget si zhian" langit mengangkat kepalanya, mendengar Aliza menyebutkan nama aslinya membuat hati langit berdesir. pandangan mereka bertemu, cukup lama mereka beradu pandangan sampai akhirnya Aliza lebih dulu mengalihkan pandang, langit pun jadi salah tingkah, semua serpihan sudah tercabut.


"gimana, Lo masih ngerasain ada sesuatu yang menancap nggak "


"sudah nggak ada sih"


"gue harap juga gitu" langit lanjutkan mengolesi Obat agar luka-luka itu tidak terinfeksi.


"za, gue mau tanya sesuatu sama Lo" ucap langit dengan kepala masih menunduk memberi obat di telapak tangan Aliza.


"tanya apa, tanya aja kali "


"Lo di pukul sama majikan Lo?" Aliza bergeming, langit sudah selesai mengobati luka-lukanya.


"Lo di pukul za? katakan dengan jujur, jangan diam aja, gue mohon za"


"ng--nggak ko, gue nggak di pukul"Aliza beralih pandang, tidak ingin langit menatap kebohongan di wajahnya.


"gue mohon za, katakan kalau Lo di siksa di rumah itu, gue bisa bawa Lo pergi dari sana" Aliza tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Langit. wanita itu berdiri.


"makasih sudah bantu gue ngobatin telapak tangan gue, suatu hari nanti gue akan balas semua kebaikan Lo, dan untuk pertanyaan Lo tadi,maaf gue nggak bisa menjawab apapun, nggak semua yang ada di hidup gue Lo harus tau, Lo orang baik, dan gue amat bersyukur bisa kenal dengan Lo, tapi kayanya hal itu tidak membuat gue bisa menceritakan semua hal tentang gue"


"gue harus masuk, makasih sekali lagi, dan gue harap Lo berhenti untuk penasaran lebih jauh mengenai keadaan gue, dan terimakasih, Lo juga masuk udaranya dingin " Aliza sudah berbalik bersiap pergi.


"ok ok, gue nggak akan lagi menanyakan hal itu, tapi gue mohon tetaplah datang temui gue di sini, gue selalu menunggu Lo za, gue selalu menunggu teman gue datang dan kita bercanda seperti biasanya, gue mohon jangan menghilang lagi" Aliza kembali menghadap langit


"gue janji akan terus berusaha bisa menemui Lo, gue juga senang bisa ngobrol santai sama Lo, tanpa ada hal Serius yang kita bicarakan, gue masuk dulu" langit Mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2