Di Nikahi Untuk Balas Dendam

Di Nikahi Untuk Balas Dendam
apa yang terjadi


__ADS_3

Raga tidak memberitahu berapa lama mereka akan ke Lombok untuk urusan bisnis pria itu, Raga hanya meminta Aliza mengemas pakaiannya saja, untuk jaga jaga Aliza membawa lima pasang baju.


semua nya sudah siap, barang milik Aliza juga Raga j sudah berada di mobil Raga.


butuh waktu berjam-jam akhirnya mereka mendarat dengan selamat, Raga hanya mengajak zidan sebagai sekertaris kepercayaannya, sedangkan Aliza ia bawa untuk melayani kebutuhannya seperti biasa.


"Kita makan dulu dan, Lo sudah pesan meja kan?"


"sudah ga" Raga mengangguk, ia pasang kacamata hitam, koper besarnya di bawa Aliza, Aliza sampai kesusahan mengikuti kedua langkah besar pria itu.


sampailah mereka di private room, segala macam hidangan mewah tersaji di atas meja, zidan dan Raga sudah duduk sedangkan Aliza hanya mematung di belakang Raga, Aliza teguk salivanya memandangi segala macam makanan yang menggugah selera makannya.


"za, Ayo duduk kita makan dulu sebelum ke hotel" Aliza menggeleng.


"Kenapa, sini kita makan bareng, za"


"nggak usah di paksa dan, dia nggak mau, nggak lapar mungkin"ucap Raga, zidan tidak bisa membiarkan Aliza hanya diam saja sedangkan mereka menikmati makanan mewah itu, zidan tarik pergelangan tangan Aliza untuk ia tuntun duduk di samping nya, sikap zidan itu tak luput dari pandangan Raga, Aliza ingin berdiri tapi zidan menahan pundaknya.


"duduk, kita makan bareng"


"nggak usah Zi, gue nggak lapar"


"nggak lapar apanya, sudah ayo duduk aja"


brak!!!


Raga menggebrak meja, tanpa mengalihkan pandangannya Raga memperingati mereka


"bisa diam, nggak liat gue makan, kalau nggak mau makan jangan di paksa, ngerti nggak" ucap Raga penuh penekanan. Zidan bisa lihat betapa takutnya pandangan Wanita itu pada Raga, Aliza kembali berdiri menjauh dari sana.


Aliza hanya bisa melihat kedua pria itu makan dengan lahap di depannya, ia pegangi perutnya yang terasa begitu perih.

__ADS_1


selesai makan, Aliza biarkan zidan dan Raga jalan lebih dulu, ia pastikan mereka tidak melihat apa yang ia lakukan, Aliza menyelipkan buah pisang di dalam tasnya, Aliza juga mengambil sepotong roti sisa untuk ia makan nanti jika ada kesempatan, Aliza cepat-cepat menyusul mereka lagi.


sampailah mereka di hotel yang akan mereka tempati selama berada di Lombok.


"gue nggak tau Lo ngajak Aliza, gue cuman pesan dua kamar, itupun untuk penggunaan satu orang, kamar gue biar buat Aliza aja, gue bisa pesan lagi nanti" jelas zidan.


"nggak usah, Aliza tidur bareng gue" zidan terkejut mendengarnya, tapi saat ia melirik Aliza, wanita itu terlihat biasa saja.


"kamar Lo itu kamar dengan satu ranjang, Lo mau berbagai kasur dengannya? Lo gila ga? Raga menyunggingkan senyum, kemudian berucap lagi


" bukan urusan Lo" Raga masuk kedalam kamar, tanpa ragu Aliza mengekor di belakang.


Zidan yang belum mengerti menahan koper yang Aliza bawa.


"za, Lo tidur satu Kamar dengannya?"


"nggak papa, Lo juga pasti tau kan saat Raga meminta sahabatnya untuk meniduri gue? tidur di kamar yang sama dengan Raga tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan ditiduri sahabat kalian" Aliza berucap enteng, ia lanjutkan langkah masuk ke dalam kamar, hati zidan tertohok mendengar ucapan Aliza, kalimat yang wanita itu ucapkan benar-benar menggambarkan jika harga diri wanita itu telah rusak, jadi tidak masalah baginya untuk tidur di kamar yang sama dengan Raga.


di dalam kamar, Raga tengah duduk di kursi depan, ia menyalakan tv dan mencari siaran kesukaannya, Aliza yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa lapar di perutnya dengan tergesa-gesa meraih pisang yang tadi ia selundupkan ke dalam tasnya, dengan mata yang terus mengawasi juga mulutnya mengunyah dengan cepat, satu Pisang besar mampu mengisi penuh perut kosongnya.


"Alhamdulillah, rotinya bisa aku makan besok pagi" monolog Aliza menatap roti di dalam tas.


matahari kini berganti dengan rembulan, Raga sudah terlelap di atas ranjangnya, sedangkan Aliza ada di bawah, Aliza mengenadah kan kedua tangannya, doa yang selalu terdengar ditelinga kini sengaja ia pelankan.


"Aliza" Aliza menoleh, ia lihat Raga yang duduk bersila di atas ranjang.


"iya tuan ada apa?"


"di dalam lemari situ ada baju, Lo ganti baju Lo dan tidur di samping gue" Aliza Belo, apa ia tidak salah dengar, Aliza tidak bergeming sampah bantal melayang ke wajahnya


"astaghfirullah"

__ADS_1


"Lo ngerti Nggak" ucap Raga penuh penekanan


"i--iya tuan"


"cepat sana" Raga kembali tidur dengan posisi membelakangi Aliza, Aliza rapikan alat sholatnya dan menuju lemari yang Raga tunjukkan.


ada beberapa lembar baju di sana, Aliza ambil salah satunya, baju piyama berwarna biru malam dengan gambar bunga sebagai motifnya.


rambut Aliza biarkan tergerai seperti biasanya, ke-dua telapak tangannya sudah berkeringat, ia kepal kuat di samping tubuhnya.


Aliza melangkah pelan ke arah tempat tidur, ia pandangi punggung Raga yang tidur membelakanginya, Aliza duduk di pinggiran ranjang tidak berani ia naik ke atas tempat tidur.


"tidur" perintah Raga, Aliza tegak salivanya susah payah, suara perintah Raga terdengar tegas.


takut-takut Aliza tidurkan tubuhnya di samping Raga, ia posisikan tubuhnya membelakangi Raga, Aliza gunakan kedua telapak tangannya untuk di jadikan bantal.


"Allahuakbar" ucap Aliza saat tubuhnya sudah di tarik Raga kedalam dekapannya, Raga pakaikan juga selimut di tubuh Aliza, Raga memeluk Aliza begitu erat, satu tangannya ia sisipkan di bawah kepala Aliza agar lengannya dapat di jadikan bantal oleh Aliza.


Aliza gemetar , tubuhnya menolak setiap sentuhan seintens ini, walaupun sejak tadi ia telah meyakinkan dirinya jika pria yang ada di belakangnya itu adalah suaminya, tapi karena rasa trauma, rasa takut akan ingatan kejadian beberapa waktu yang lalu terjadi di hidupnya membuat tubuh Aliza secara spontan merasakan takut dan menolak jika di sentuh lawan jenisnya.


Raga bisa merasakan tubuh wanita itu bergetar.


"tenanglah Aliza" bisik Raga tepat di telinga Aliza.


merasa tidak ada perubahan dari wanita itu, Raga membalik tubuh Aliza untuk tidur menghadapnya, kini wajah Aliza tepat berada di Dada bidang pria itu, Aliza dapat mencium dengan jelas aroma parfum yang pria itu kenakan. Raga mengusap-usap punggung Aliza memberikan ketenangan.


tangan yang selalu terangkat memberi pukulan, untuk malam ini beralih pungsi, Aliza tidak tau apa yang terjadi besok hari sampai Raga berubah seperti ini.


"tidurlah, bayangkan gue ibu Lo, bayangin yang sekarang ada pelukan Lo ini adalah ibu Lo" Aliza iyakan ucapan Raga, ia membayangkan sedang memeluk Rania, usapan di punggungnya begitu nyaman sampai-sampai bayangan Rania sungguh terlintas di pikirannya.


sampai akhirnya Raga tidak merasakan getaran lagi dari Aliza, Raga sedikit mundur untuk memastikan kondisi Aliza, wanita itu sudah terlelap di dalam tidurnya. Raga menyunggingkan senyuman, ia kecup singkat kening Aliza dan kembali memeluknya.

__ADS_1


"maafin gue"


__ADS_2