
Aliza tidak yakin bisa menemui langit dengan penampilannya sekarang, Aliza sudah ingin membuka pintu kamarnya tapi ia urungkan untuk keluar dari sana, Aliza lihat lagi penampilannya dari cermin pecah di genggaman.
dress hitam di padukan dengan pasmina hitam kini melekat di tubuhnya, tidak ada polesan apapun di wajah Aliza, tanpa lipstik bedak atau apapun itu, wajah Aliza sudah sangat sempurna.
"apa nggak dosa gue nemuin pria lain dengan penampilan kaya gini, nggak ada yang salah dari baju gue,baju ini sopan, gue juga pakai kerudung, tapi gue biasanya Makai baju lusuh di depan Raga, dan sekarang gue mau menemui seorang pria dengan penampilan yang berbeda" monolog Aliza, ia dilema sekarang, menemui langit dengan menggunakan baju pemberian pria itu sebagai hadiah, atau tidak usah pergi aja menemui langit di malam ulang tahunnya.
"hahh" Aliza menghembuskan nafas berat, dengan meyakinkan diri kini Aliza putuskan untuk menemui langit.
Pelan-pelan Aliza melangkah melewati kamar Raga, bisa tamat riwayatnya sampai Raga melihatnya menggunakan baju berbeda apalagi sampai tau jika baju itu pemberian langit.
"langit" panggil Aliza, pria yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya menoleh, ia terpana dengan apa yang ia lihat, Aliza nampak berbeda dari Aliza yang biasa ia lihat, bagaimana bisa tanpa Make-up sedikitpun Aliza bisa secantik itu, Aliza jadi salah tingkah karena langit terus menatapnya.
"cantiknya" monolog Langit.
segera ia menemui Aliza di atap rumah Raga. Langit benar-benar terpana melihat perubahan Aliza, wajahnya begitu sempurna, padahal hanya bajunya saja yang di ganti, tapi mampu membuat kecantikan Aliza terpancar jelas.
"ja--jangan liat gue kaya gitu, gue risih" langit palingkan wajahnya, ia garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"sorry, gue hanya kagum dengan Lo, ya udah ayo" ajak langit membuat Aliza bingung
"ayok kemana?"
"ke atap rumah gue"
"hah" Belo Aliza, apa ia tidak salah dengar, langit mengajaknya menyebrang ke atap rumahnya.
"jangan bercanda, gue ke atap rumah Lo?"
"iya, Aliza... Lo liat ke sana" Langit menunjuk meja yang sudah ia siapkan.
"gue sudah siapin itu buat kita makan malam, ayo please"
"nggak, gue nggak mau, gue takut langit"
"ada gue, apa yang Lo takutkan, tenanglah Aliza, percaya sama gue, gue nggak akan biarin Lo kenapa-kenapa" ucap langit menyakinkan Aliza.
"Lo percaya kan sama gue" ragu-ragu Aliza mengangguk. langit menyinggung kan senyum, ia yang pertama kali melewati tembok, Aliza menolak saat langit ingin menyentuh tangan nya
__ADS_1
"nggak papa, gue bisa sendiri"
"ok" kaki Aliza gemetar, sungguh ia takut dengan ketinggian, Aliza tarik kuat ujung baju bagian belakang yang di kenakan langit.
"tenanglah Aliza, Lo nggak akan jatuh, jangan liat kebawah" bukannya menurut, Aliza justru melihat kebawah, bulu kuduknya berdiri
"aaaaaaa" teriak Aliza tiba-tiba, langit jadi kawatir mendengar teriakan Aliza, tanpa ragu langit berbalik badan dan menggendong Aliza ala bridal style, Aliza menutup matanya saat tubuhnya sudah terangkat. jantung Langit berdetak dengan kencang, tidak mampu ia menunduk menatap wajah aliza yang berada di gendongan nya, begitu juga dengan Aliza, tapi bukan karena perasaan pada langit, tapi karena ia takut, takut jatuh dari ketinggian. langit mendudukkan Aliza ke kursi yang sudah ia siapkan.
"lo--lo sudah sampai, buka mata Lo Aliza" perlahan Aliza buka matanya, ia kaget karena sudah berada di atap rumah langit. pria itu duduk di seberangnya.
"gimana, Lo nggak papa kan"
"jantung gue yang Kenapa-kenapa, langit"
"jantung gue juga kenapa-kenapa nih gara-gara Lo Aliza, Untung gue masih bisa kontrol"
"Lo takut juga?" tanya Aliza dengan polosnya. langit menatap Aliza.
"iya" jawab langit kesal, sepertinya ia harus iyakan saja ucapan Aliza, dari pada jujur jika ia tidak bisa mengontrol perasaannya saat di dekat Aliza, bisa Canggung makan malam mereka.
"Lo siapin ini semua sendiri?"
"di bantu mbok gue" Aliza mengangguk.
"Aliza"panggil Langit
"hm"
"Lo cantik" Aliza rotasi kan matanya kesembarang arah, pujian langit membuatnya merasa tidak nyaman.
"makasih ya sudah datang" Aliza mengangguk.
"gue senang banget, Lo mau nurutin kemauan gue dan datang menemui gue, gue nggak tau apa kita bisa bertemu lagi" Aliza mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan langit.
"Lo ngomong apa sih, nggak jelas banget" langit menggeleng dan tersenyum, ia sendok nasi untuk Aliza, langit juga memberikan lauk di piring Aliza.
"gue bisa sendiri, langit" Langit tidak peduli, ia juga tuangkan air putih di gelas Aliza, barulah ia isi juga piringnya.
__ADS_1
"makan, za" ucap langit.
....
didalam rumah, Raga terbangun karena merasa kerongkongannya kering, air di atas Nakas yang selalu ia siapkan juga sudah habis. Raga mendengus kesal, sungguh ia malas turun hanya untuk mengambil segelas air, tapi mau tidak mau Raga harus turun juga.
selesai minum dan mengisi air di gelas nya, Raga kembali menuju lantai dua, tapi saat kakinya ingin melangkah naik ke anak tangga, ia berbalik lagi dan menuju kamar Aliza.
tangan pria itu mengambang di depan pintu, ia ingin meminta Aliza tidur bersamanya malam ini, tapi ia urungkan niatnya itu, Raga merasa bodoh, bisa-bisanya ia berpikir untuk tidur bersama Aliza, Raga tidak bohong, saat ia tidur dengan memeluk istrinya itu, Raga merasakan tenang dan nyaman, tidurnya pun nyenyak, tapi sepertinya malam ini ia harus urungkan dulu keinginannya , mungkin besok dan malam-malam lainnnya, Raga bisa terus meminta Aliza tidur dengannya walaupun dengan sedikit paksaan.
....
di atas atap, makan malam mereka hening tanpa adanya obrolan apapun.
"makan yang banyak za"
"Lo suka sama makanannya?" Aliza mengangguk
"ibu Lo yang masak ya?"
"iya, semua itu masakan mamah gue"
"jadi iri gue sama Lo, gue iri karena Lo masih bisa merasakan kenikmatan masakan mamah Lo" suasana makan malam yang tadinya hening berubah menjadi sedih
"Lo bisa anggap mamah gue seperti mamah Lo juga, nanti gue bakalan kenalin Lo ke orang tua gue, gue sering ceritain Lo ke mereka, dan mereka juga sangat ingin bertemu dengan Lo, tapi malam ini belum bisa... soalnya mereka kecapean, nanti kita atur waktu lain lagi" Aliza mengangguk.
"za"
"hm"
"gue boleh tanya sesuatu"
"tanya aja, apa?" Aliza beralih menatap langit
"apa Lo mau menjadi istri Gue" Aliza terbatuk-batuk karena tersedak air liurnya sendiri. langit memberikan air untuk Aliza. merasa lebih tenang, Aliza berikan tatapan tajam pada pria itu, langit tertawa terbahak-bahak.
"hahahhhhhhh, Aliza... Lo lucu banget sumpah, wajah Lo itu menggemaskan"
__ADS_1