
Aliza tuangkan air ke gelas Raga, wajah wanita itu pucat Pasih, kepalanya sudah berdenyut sejak bangun pagi tadi
"Duduk" Aliza tidak menghiraukan perintah Raga, ia sendokkan lauk ke piring suaminya.
"Lo tuli, gue bilang duduk!" Aliza turuti kemauan Raga, ia duduk dengan halat satu kursi dengan Raga, Raga mengerutkan keningnya saat Aliza duduk dengan satu kursi kosong sebagai pembatasnya.
"Duduknya di samping gue Aliza" perintah Raga tegas. Aliza berpindah ke kursi di samping Raga.
"makan, ambil nasi lo"
"nggak usah tuan, saya makan sisa tuan aja seperti biasa"
"GUE BILANG MAKAN, BATU BANGET SIH JADI ISTRI" dengan kasar Raga sendok nasi ke piring Aliza, ia juga meletakan satu potong ayam ke piring Aliza, Aliza hanya menatap Raga.
"habiskan, gue nggak suka badan Lo, badan Lo itu kekurusan... gue nggak suka, makan yang banyak" mau di paksa bagaimana pun, Aliza tidak bisa menghabiskan makanannya, ia terbiasa makan dengan porsi kecil, apa lagi sekarang perasannya sedang tidak baik-baik saja, rasanya Kepalanya ingin pecah. Raga sudah menyelesaikan sarapannya, sedangkan Aliza bahkan belum menghabiskan setengah porsi nasinya.
"habiskan makanan Lo, gue berangkat" ucap Raga datar dan berlalu dari sana.
....
"Lo mau apa Inayah?"
"sama in aja, kaya punya Lo"
"mbak, Mia ayamnya dua porsi, minumannya teh hangat aja"
"jadi gimana zi, apa sudah ada perkembangan dari kasusnya "
"kecelakaan itu sudah di tutup penyelidikan nya, polisi juga sudah menetapkan bahwa kematian Karina murni Karena kecelakaan biasa, dan pengendara mobil itu pun juga sudah selesai menjalankan masa hukumannya "
"terus kita harus apa, gue mau teman gue terbebas dari fitnah Raga" ucap Inayah memelas
"Lo sabar dikit bisa nggak sih, gue juga lagi usaha, nggak gampang menyelediki kasus yang sudah bertahun-tahun terjadi, gue butuh waktu, Lo kira cuman Lo yang mikirin Aliza, gue juga, gue kasihan sama cewek itu, jadi gue mohon bersabar lah sebentar lagi" zidan pun sama prustasi nya dengan Inayah, ia harus berusaha keras untuk mendapatkan bukti-bukti yang bisa membuat Aliza terbebas dari tuduhan Raga. tidak mudah untuk menggali kembali kasus yang sudah lama terjadi.
"maaf, gue cuman kesian sama Aliza, gue nggak maksut menyusahkan Lo" Zidan jadi merasa bersalah pada wanita itu, bukan maksutnya bicara kasar, mungkin karena faktor lelah jadilah ia mudah emosi. Inayah menunduk dengan menautkan kedua tangan nya.
"di lokasi kejadian seharusnya ada cctv yang bisa membantu penyelidikan Kita..." Inayah kembali mengangkat wajahnya, ia pandangi zidan dengan serius.
" Tapi sayangnya saat penyelidikan berlangsung tiba-tiba aja semua rekanan cctv di lokasi kejadian menghilang, polisi nggak bisa mengecek apa yang terjadi dari rekaman cctv, dan sampai akhirnya kecelakaan itu dinyatakan kelalaian pengemudi, tapi..."
"gue yakin, kecelakaan itu bukan lah kecelakaan biasa, tapi sudah di rencanakan sejak awal"
"kenapa Lo bisa seyakin itu zi?"
"gue sudah mencurigai satu orang di balik kecelakaan Karina, sejak awal gue sudah mencurigainya, tapi gue belum punya bukti, dia terlalu licik untuk menutupi kejahatannya, dan gue belum bisa kasih tau Lo, tapi setelah gue dapatin semua bukti kejahatannya... Lo lah orang pertama yang akan tau " Inayah mengangguk paham.
"gue mau tanya sesuatu sama Lo, tapi gue mohon jawablah dengan jujur dan apa adanya, jawaban Lo ini sungguh sangat mempengaruhi teka-teki yang tersembunyi di balik kasus yang sedang kita selidiki"
"gue bakal jawab apapun dengan jujur sesuai dengan apa yang gue tau zi, gue bisa pastikan itu"
pesanan mi ayam mereka datang dan menghentikan obrolan serius keduanya.
__ADS_1
"makasih ya mbak " ucap zidan dan Inayah bersamaan
"Kiya makan dulu, gue sudah lapar banget, mumet gue dari tadi di kantor Raga marah-marah melulu " zidan menuangkan sambal yang membuat Inayah terheran-heran.
"Zidan!" Inayah menahan tangan zidan saat ingin kembali menuangkan sambal ke mangkuknya.
"kenapa?"
"Lo gila, kuah mi ayam Lo sudah berubah merah, lo mau diare" zidan menyunggingkan senyum, tidak jadi ia tuang sendok sambal yang ke Lima pada mangkuknya.
"Lo takut gue kenapa-kenapa ya" goda zidan sambil mengaduk mi ayamnya
"idih, apaan, gue ngeri aja liat Lo makan sambal segitu banyak nya"
"alah ngeles aja Lo, bilang ja Lo kawatir" Inayah memutar matanya jengah
"terserah" jawab Inayah ketus
"Lo udah punya calon nggak sih, Nay?"
"calon apa nih, calon RT, calon presiden, calon ipar"
"calon suami" Inayah menggeleng, ia fokuskan lagi pandangnya pada zidan.
"kenapa? Lo mau jadi suami gue" kali ini Inayah yang menggoda
"baiklah kalo itu mau Lo, besok gue sama orang tua gue datang buat ngelamar Lo"
"makanya, jangan mancing-mancing, giliran ketangkep, takut juga, gimana sih"
"ngeselin Lo"
"ngeselin bikin kangen kan?"
"idih, pede banget Lo"
"nggak ngaku lagi, Siyapa yang setia nunggu gue selesai kerja, terus ngajakin gue makan siang bareng?"
"gue" jawab Inayah jujur, emang dia yang dengan setia menunggu zidan menyelesaikan pekerjaannya.
"tuh kan benar, Lo kangen"
"kangen dengkul Lo, gue nungguin Lo cuman buat nanyain Aliza aja"
"Aliza hanya alibi" masih aja zidan menggoda, melihat wajah kesal Inayah sungguh menyenangkan untuk nya.
"terserah" zidan terkekeh geli
"lucu banget sih" monolog zidan.
...
__ADS_1
"Clara, gimana kerjaan aku bisa beres, kalau kamu duduk di situ" keluh Raga, karena Clara yang suka sekali duduk di pangkuannya.
"aku suka duduk di sini, aku suka di peluk kamu, sayang"
"iya aku tau, tapi aku harus kerja, Ra" bukannya menjauh, Clara justru semakin mempererat pelukannya di leher Raga. Raga pasrah dan ia biarkan Clara terus di atas pangkuannya.
"sayang"
"Hem"
"mau nikah"
"ya nikah" jawab Raga biasa aja
"kamu ko gitu sih, aku mau nikah sama kamu"
"tunggu aku siap, ya"
"kapan, keburu aku tua Raga"
"ya udah kamu nikah sama yang lain aja, jangan nunggu aku
"tapi aku maunya kamu, kamu ngerti Nggak sih"
"apa sih yang buat kamu belum siap?" lanjut Clara lagi karena Raga hanya diam, dan pria masih tetap diam juga
"Raga" panggil Clara
"hm"
"kamu dengerin aku ngomong nggak sih"
"aku lagi kerja, banyak laporan yang harus selesai"
"kamu belum bisa lupain perempuan itu ya?"
"apa sih istimewanya dia, sampai kamu segitu gilanya mencintai dia?"
"yang pasti dia berbeda dengan mu Clara" ucap Raga menatap Clara serius, Clara tertegun dengan ucapan Raga, niat hati ingin bermanja-manja dengan sang kekasih justru berakhir sakit hati.
"kamu tega banget ya ngomong gitu sama aku"
"bukan aku yang tega, kamu aja yang baperran" Clara terus menatap Raga dengan tatapan tajam.
"aku bisa aja minta papah buat hancurin perusahaan kamu Raga" ancam Clara.
"silahkan, aku nggak takut" Clara memilih turun dari pangkuan Raga , ia pasang blazer yang tersampir di kursi, dengan perasaan marah Clara keluar dari ruangan Raga
brak
pintu ruang Raga di hempas dengan kuat. Raga menutup mata untuk mengatur emosinya.
__ADS_1