
"Ayah, ayah apa kabar, apa ayah sehat-sehat aja, Liza kangen ayah, bahagia selalu ya ayah ku" mukena masih terpasang di tubuhnya, Aliza baru saja melaksanakan sholat Dzuhur.
Aliza merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam perutnya, cepat-cepat Aliza berlari menuju wastafel.
uweek
uweek
Aliza bersihkan muntahnya, semua makanan yang tadi pagi ia makan keluar semua, tersisa rasa pahit saja di mulutnya. ia pijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
"sudah beberapa hari ko gue ngerasa ada yang aneh ya sama badan gue, apa Jangan-jangan... gue..." Aliza menggeleng, ia tidak menginginkan hal itu ia tidak mau
"nggak, nggak mungkin, gue nggak mau, gue nggak mau" tiba-tiba saja perasaannya berubah sedih, ia tutup wajahnya dengan telapak tangan, wanita itu menangis tersedu-sedu.
"nggak, gue nggak mau, jangan sampai, jangan please" lirih Aliza pilu di sela tangisannya.
...
sudah jam empat sore, setelah melaksanakan sholat ashar, Aliza bergegas untuk menyiapkan makan malam, ia buka kulkas untuk mencari bahan makanan yang ingin di olah, tapi perhatiannya justru berfokus pada buah anggur milik Raga, Aliza teguk salivanya, ia begitu menginginkan buah anggur yang terlihat segar itu.
tangannya mengambang di depan buah anggur ( jangan pernah berani menyentuh makanan yang ada di rumah gue) kalimat itu kembali berputar di kepalanya, ia segera tutup kulkas agar tidak terus melihat buah anggurnya.
"gini banget nasib Lo Aliza Aliza, mau makan buah anggur aja nggak bisa, coba dulu... apa yang Lo mau pasti langsung ada di hadapan Lo" Aliza menghembuskan nafas berat.
sayur asem, oseng tempe, ayam tumis bawang dan sambal, semuanya sudah tersusun rapi di atas meja, tinggal menunggu tuan rumah datang.
"Lo masak apa" suara berat itu membuat Aliza tersadar dari lamunannya.
"ah, ini tuan, sayur asem oseng tempe tumis ayam sama sambal" jelas Aliza sembari meletakkan piring yang sudah ia isi nasi di hadapan Raga.
"Duduklah, kita makan bersama" Aliza tidak ingin mendapatkan bentakan lagi, ia langsung duduk di samping Raga. Aliza sendok nasi ke piringnya.
"besok teman-teman gue mau datang, Lo nggak perlu masak, gue beli makanan dari luar"
"iya tuan " habiskan makanan Lo, setelah Lo sholat isya temui gue di kamar" Aliza mengangguk pelan.
__ADS_1
....
"Aamiin ya Allah " Aliza rapikan alat sholatnya, segera ia menuju lantai dua menemui Raga.
Aliza ketuk pintu kamar Raga.
"masuk" dengan kepala yang menunduk Aliza tidak berani sedikitpun mengangkat kepalanya.
"kepala Lo nggak sakit nunduk gitu" Aliza menggeleng.
"tidurlah, gue mau selesain ini dulu" ini bukan kali pertama Raga meminta Aliza untuk tidur dengannya, jadi aliza sudah terbiasa dengan permintaan Raga itu, Aliza buka kerudung panjangnya sebelum berbaring di atas kasur milik Raga, Aliza mencuri pandang pada pria yang duduk membelakanginya, Pria itu terlihat serius dengan laptop nya, sampai akhirnya rasa kantuk menyerang, baru aja Aliza ingin masuk ke alam mimpi, tapi sesaat kemudian ia rasakan tangan Raga sudah melingkar di pinggang rampingnya, Aliza buka kembali matanya, keadaan kamar sudah . gelap, tersisa lampu di atas Nakas saja.
"Liza, Lo susah tidur?"
"belum tuan"
"sebentar lagi kita akan tinggal bertiga di rumah ini" Aliza tidak mengatakan apapun, ia Hanya merasakan pelukan Raga semakin terasa erat.
"Lo, gue dan Clara" ucap Raga lagi, pria itu menghela nafas berat saat mengucapkan nama Clara.
"satu bulan lagi... gue bakal nikah sama Clara" hening, keadaan kamar menjadi senyap, Raga diam begitu juga dengan Aliza, Aliza rasakan Sesak di dadanya saat Raga mengatakan hal itu, menikah dengan Clara, matanya kembali berkaca-kaca, sudah Aliza tahan sebisa mungkin agar air matanya tidak keluar, tapi nyatanya ia tidak bisa menahan rasa sakit di hati mendengar suaminya akan menikah lagi. Raga membalik tubuh Aliza agar menghadapnya, ia pandangi begitu dalam wajah teduh sang istri, Raga juga merapikan rambut Aliza yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga, mereka saling pandang cukup lama, sampai akhirnya Raga kembali memeluk erat Aliza
"nanti, setelah Clara tinggal di rumah ini, gue minta Lo turutin aja apa maunya, jangan berani membantah, kalau Lo nggak mau sakit di tangannya"
"iya" Jawab Aliza seadanya.
"gue lelah za, gue capek, hari ini begitu banyak masalah yang terjadi, di kantor di rumah mamah, semuanya bikin gue hampir gila" keluh Raga
"tidurlah, sudah terlalu malam, gue juga butuh banyak istirahat, jangan pergi, tetaplah tidur di samping gue" Raga berucap dengan mata yang tertutup rapat, ia dapat rasakan ketenangan di saat memeluk Aliza dalam tidurnya, ia akan tidur dengan posisi terus memeluk Aliza, entah memeluk dari samping atau dari depan, yang penting Aliza ada di pelukannya.
Aliza tidak tidur, ia tunggu sampai terdengar Suara dengkuran halus dari Raga, Aliza buka matanya perlahan.
"kenapa kamu harus ngomong dulu ke aku ga, mau kamu nikah atau apapun itu, Nggak akan berpengaruh di hidup ku, kamu bisa nikah sesuka hati kamu" Aliza sedikit mengangkat kepalanya, ia cium kening Raga singkat, Aliza juga mengelus lembut rambut Raga.
__ADS_1
"jangan pernah jatuh cinta sama aku ga, aku takut rasa itu bakalan nyakitin kita berdua, tetaplah menjadi Raga kejam yang kukenal, tetaplah terlihat sangar dan menakutkan, jangan perlihatkan sisi lain yang biasanya kamu perlihatkan untuk Karina, aku mohon jangan " Aliza kembali Tidur, ia letakkan juga tangannya di pinggang Raga, keduanya terlelap di alam mimpi bersama.
....
flashback on
"menikahlah dengan Clara"
"maaf om, saya nggak bisa"
Bugh!!!
bogeman mendarat di pipi pria yang dikepung keluarganya juga keluarga Clara, di rumahnya.
saat ingin berangkat ke kantornya, Raga mendapatkan telpon dari Dewi.
*"hm, kenapa mah"
"kerumah mamah sekarang" ucap Dewi tegas di sebrang sana
"kenapa mah, Raga ada meeting"
"mamah bilang pulang, ya pulang, Raga Argantara" ucap Dewi dengan tegas dengan suara tinggi. Raga melempar ponselnya setelah panggilan Dewi putuskan secara sepihak, Raga meraup wajahnya kasar.
"pasti Clara lagi"
Raga belokkan setir mobilnya menuju rumah orang tuanya, dengan kecepatan lambat sangat lambat malahan. selambat-lambatnya Raga mengendarai mobilnya, tapi ia akan tetap sampai juga, cukup lama Raga memandang rumah mewahnya, satu mobil yang ia kenali semakin membuat Raga malas untuk turun dari mobilnya.
kembali ponselnya berdering
"Iya mah"
"masuk, mamah tau kamu ada di luar"
"brengsek" umpat Raga sebelum kembali menghidupkan mesin mobilnya.
__ADS_1