
"Ayah" pria dengan peci di kepala menoleh menatap Aliza dengan wajah datar, perlahan Aliza langkahkan kakinya mendekati Sadewa, Aliza pegangi perutnya yang kian membesar, usia kandungan Aliza baru memasuki usia lima bulan, tapi ada dua makhluk kecil yang tumbuh di dalamnya, perut Aliza jauh lebih besar dari pada wanita hamil pada umumnya. takut-takut Aliza raih tangan besar Sadewa untuk di cium punggungnya, Aliza Salimi dengan takzim, belum sempat punggung tangan Sadewa menyentuh hidung dan bagian mulut Aliza, tangan itu sudah di tarik oleh pemiliknya.
"A--ayah" Sadewa menatap tajam Aliza.
"sudah berapa kali saya peringatkan untuk menjauh dari hidup saya, ALIZA!" Aliza mundur saat bentakan Sadewa kembali ia dengar.
"ayaah.. Liza nggak bisa Tampa ayah, Liza butuh ayah, Liza ikut pulang sama ayah, ya. pulang ke rumah kita" Sadewa meludah ke samping.
"rumah?" sudut bibir pria berbaju Koko itu terangkat.
"rumah kita? saya tidak memiliki putri, yang saya miliki hanyalah istri, dan rumah itu milik saya dan istri saya, hanya ada kami berdua " luka dalam kembali Aliza rasakan, sakit sekali rasanya tidak mendapatkan pengakuan dari sang ayah.
"apa benar-benar sudah nggak ada tempat untuk Liza dihati ayah, sedikit aja?" Aliza berucap lirih, ia berusaha mendekati Sadewa, tapi Sadewa justru memundurkan langkah.
"sedikitpun tidak ada rasa sayang untuk anak pembawa sial seperti kamu" bibir bawah Aliza ia gunakan untuk menahan sakit di hatinya.
"ayah, coba lihat..." Aliza menurunkan pandangnya ke arah perutnya. dengan senyum mengembang Aliza berucap lagi.
"Liza hamil, sebentar lagi ayah akan jadi kakek" ucap Aliza antusias
"Saya tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai cucu saya, karena saya tidak pernah memiliki anak" bahkan anak nya pun tidak berhasil membuat hati Sadewa yang sekeras batu luluh. Sadewa berbalik berniat pergi, tapi Aliza tahan lagi pergelangan tangannya.
__ADS_1
"ayaaah, Liza mohon maafkan Liza, Liza harus apa agar ayah memaafkan Liza..."
"kembalikan istri saya! nggak bisa kan? maka jangan harap mendapatkan maaf saya" Sadewa tarik dengan paksa tangannya dari cengkraman aliza, Aliza yang tidak bisa menahan bobot tubuhnya limbung. Aliza menganga saat rasa sakit di bagian perut bawah menyerangnya.
"aa--ayah, to--loong" rintihan Aliza memohon pada Sadewa, tapi hati pria itu sungguh sudah sangat tertutup untuk putri tunggalnya sendiri.
"aa--ayah Liza mo--hon to--loong a--nak Liza"
"arggh" Aliza mengerang kesakitan, ia rasakan kini area pahanya dingin, Aliza angkat rok hitamnya untuk memastikan tidak terjadi apa-apa dengan anak-anaknya, tangannya meraba sesuatu yang terasa basah di bagian dalam, tangan Aliza bergetar saat telapak tangannya kini sudah berwarna merah pekat.
"a--anak ku" lirih Aliza, ia masih berharap Sadewa kembali dan menolongnya, jika tidak untuknya, setidaknya untuk cucunya.
"AYAAAAH" dada aliza naik turun,. Matanya berotasi kesembarang arah.
brak!!
Raga yang panik membanting pintu dan menghampiri Aliza, di lihatnya wanita yang terbaring dengan perut membesar sedang kesulitan mengatur nafas, Belum lagi keringat yang memenuhi wajah Aliza, Raga bisa menebak apa yang terjadi dengan istrinya, raga duduk dipinggir tempat tidur, ia Bangunkan Aliza dan memeluknya begitu erat, mata Wanita itu masih memancarkan ketakutan.
"cuman mimpi, tenanglah" Aliza remas baju yang raga kenakan.
"aa--anak anak kita" Aliza lepas pelukan raga, ia tatap perutnya lagi.
__ADS_1
"anak-anak ku" Aliza peluk erat anak-anaknya yang masih berada di dalam kandungan, raga rapikan rambut Aliza yang lepek karena keringat.
"tenanglah, za, semuanya hanya mimpi" Aliza mendongak menatap Raga, wanita itu menggeleng.
"tu--tuan, semuanya terasa nyata, anak-anak Kita dalam bahaya, tuan" Aliza raih tangan Raga untuk di genggam, tangannya gemetar ketakutan. Raga kembali mendekap tubuh Aliza, ia usap perlahan punggung wanita itu untuk menenangkannya dari ketakutan mimpi buruk.
"nggak akan ada yang bisa menyakiti anak kita, Gua janji sama Lo" Aliza merebahkan kepalanya di pundak Raga, ia rasakan kehangatan di balik usapan Raga di punggungnya.
"ada gue di sini, jadi tenanglah" perlahan Aliza bisa mengatur nafasnya kembali normal, meskipun Matanya masih basah.
"aa--anak kita..."
"husst, nggak usah di ingat, nggak usah di ceritain, gue pernah denger... kalau mimpi buruk datangnya dari setan, dan kita tidak di perbolehkan untuk menceritakannya". perlahan raga uriakan pelukannya, ia tatap dalam wajah Aliza.
"tidur lagi ya"
"tu--tuan, tidurlah di sini" raga mengangguk tanpa ragu, Aliza tahan lagi pergelangan tangan raga.
"tunggu sebentar, gue kunci pintu dulu, entar ada malampir ngamuk" Raga Menyunggingkan senyum, begitu juga dengan Aliza, Mak lampir yang di maksud raga adalah istri keduanya sendiri, Clara.
....
__ADS_1