
Aliza mengusap lengannya, ia cari siapa pelaku pelemparan batu. yang mendarat di lengannya.
"Aliza"
"Aliza" samar-samar Aliza mendengar namanya di panggil
"Aliza, di sebelah kanan Aliza"
"Langit, Lo" Aliza melirik lagi kedalam rumah, ia takut Raga melihat interaksi mereka.
"Lo apa-apaan sih langit"
"Lo yang apa-apaan, kenapa Lo nggak pernah ke atas lagi"
"gue nggak bisa terus ke atas, sampai ketahuan tuan Raga, gue yang bahaya langit... gue nggak ada waktu buat berdebat sama Lo, gue masuk"
"tunggu za, gue mohon... Lo naik ya malam ini , gue mohon " langit memohon seperti anak kecil pada ibunya, Aliza menggeleng ia tidak bisa pastikan apapun pada langit
"gue mohon za, please "
"maaf langit gue nggak bisa janji "
"Alizaaaaaaa " teriak Raga memekikkan telinga
"Aliza, gue mohon... mungkin ini pertemuan terakhir kita, gue mohon sekali aja sama Lo" tatapan pria itu begitu sayu, wajahnya pucat Pasih, Aliza tidak tau apa yang terjadi padanya, akhirnya Aliza mengiyakan permintaan Langit"
"makasih Aliza"
"Alizaaaaaaa" langit bisa bernafas lega akhirnya bisa membujuk wanita itu untuk naik ke atap, sedangkan Aliza di dalam harus bersiap dengan amukan Raga
__ADS_1
"LO TULI, HAH!" wajah wanita itu sudah mendongak.
"maaf tuan" Raga lepas cengkraman nya dari rambut wanita itu dengan kasar.
"nggak guna" Aliza pandangi punggung tegap pria itu, pintu utama di hempas bara cukup kuat, jendela di sebelah kanan dan kirinya ikut bergetar. Aliza mengusap dadanya dan kembali melanjutkan pekerjaan rumah.
tidak ada yang berubah semenjak kepulangan mereka dari Lombok, Raga tetaplah menjadi Raga yang kasar penuh dendam, yang berubah hanyalah status pernikahan mereka, Raga sungguh-sungguh dengan ucapannya waktu itu, ia sudah mendaftarkan pernikahan mereka secara hukum hanya itu saja yang berubah.
di dalam kamar kecilnya Aliza duduk menyandarkan punggungnya di dinding yang terasa dingin, air matanya tiba-tiba saja menetes, ia teringat lagi saat di Lombok.
flashback on
selesai makan dengan zidan, Aliza sempat kembali lagi ke kamar hotel, Aliza tidak berani mengetuk dan memilih menunggu di depan pintu, saat adzan Maghrib berkumandang Aliza terpaksa mencari tempat untuk sholat, ia menuju meja resepsionis untuk menanyakan tempat yang sekiranya bisa ia gunakan untuk sholat.
belum lagi Aliza utarakan niatnya, wanita dengan rambut yang di sanggul itu sudah membuat nya tidak percaya diri, wanita tersebut menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, tatapannya menunjukan ketidak sukaan.
"maaf Mbak, saya mau nanya... di sini ada ru---"
tapi Aliza tetap setia menunggu.
"maaf mbak saya mau tanya---" lagi lagi ucapannya di potong karena tiba-tiba resepsionis itu pergi dengan angkuhnya.
"ya Allah sabar kan lah lagi hamba" karena tidak ada yang bisa di mintai tolong padahal hanya untuk menanyakan hal sepele, akhirnya Aliza putuskan untuk pergi sendiri mencari mushola atau masjid terdekat.
untungnya sekitar 2 kilometer dari hotel ada mushola kecil, saat ingin masuk Aliza justru bertemu lagi dengan sosok pria yang begitu ia rindukan pelukannya.
"ayah, ayah di Lombok juga?'' monolog Aliza, rasa bahagia terpancar di wajahnya, Aliza berlari menemui sang Ayah.
"ayah Liza ka...ngen" Sadewa mundur, ia menolak Aliza memeluknya.
__ADS_1
"ayah, ini Liza, Aliza Khumaira tuan putri ayah, Liza kangen ayah" mata wanita muda itu mulai berkaca-kaca, ia sangat merindukan Sadewa, ia ingin memeluknya barang sejenak, tapi sepertinya pria itu menolak kehadirannya.
"jangan pernah berani kau sentuh saya, saya tidak memiliki putri yang menyusahkan seperti kamu"
"ayaaah, kenapa ngomong gitu, Liza sayang ayah" Aliza ingin meraih tangan Sadewa, tapi cepat saja Sadewa menghindar
"SAYA SUDAH BILANG JANGAN SENTUH SAYA, APA KAU TULI" bentakan Sadewa membuat orang-orang yang awalnya acuh kini menatap mereka.
"SAYA MEMBENCIMU, KAMU MEMBUNUH ISTRI SAYA, GARA-GARA KAMU ISTRINYA MENINGGAL, GARA-GARA ANAK PENYAKITAN KAYA KAMU ISTRI SAYA PERGI UNTUK SELAMANYA, APA KAMU BELUM PUAS JUGA SUDAH MENGHANCURKAN KEHIDUPAN BAHAGIA SAYA, DAN KEMBALI MENUNJUKAN WAJAH MU ITU, HAH... PERGI" Sadewa mendorong kasar tubuh kecil yang selalu ia gendong di dekapan, anak kecil manja kesayangan dengan tega ia perlakukan begitu kasar.
"PERGI YANG JAUH DARI HIDUP SAYA, ALIZAAAA, PERGIIII" Sadewa memutar arah, ia ingin pergi tapi teriakan Aliza menghentikan langkahnya.
"Ayaaah tunggu, Liza cuman mau bilang... Liza sayang ayah, sayang sekali, mau bagaimanapun rasa benci ayah pada Aliza, tidak sedikitpun berkurang rasa sayang Aliza untuk ayah..." Aliza tarik nafasnya dulu sebelum melanjutkan kalimatnya.
"jika memang kepergian Liza membuat ayah bahagia, mulai sekarang Aliza janji nggak akan pernah lagi menampakkan wajah Aliza di hadapan ayah, Aliza janji nggak akan pernah datang lagi di hidup ayah, tapi Aliza mohon untuk yang terakhir kalinya, Aliza mau peluk ayah, Aliza janji ini yang terakhir kali... ayah" Sadewa bergeming, ia tidak melangkah pergi tidak juga mengiyakan, hati pria itu pun ikut sakit mendengar ucapan putrinya, putri kesayangan dan kebanggaannya memohon untuk di peluk terakhir kalinya.
dengan perasaan takut Aliza melangkah lagi mendekati Sadewa, kini Aliza sudah berada di depan ayah tercinta, Sadewa memalingkan wajah, tidak ingin ia melihat wajah putri semata wayangnya.
"ayah" Aliza kini bisa memeluk Sadewa walaupun dengan sedikit paksaan, wanita itu terisak di pelukan ayahnya, tidak ia biarkan air matanya membasahi baju Koko sang ayah.
"aa--ayah, maafin Liza, karena sudah buat ayah sedih, maafin Liza, karena Liza ibu meninggal, andai Liza nggak sakit... ibu nggak akan berkorban untuk Liza, memang seharusnya Liza lah yang pergi untuk selamanya... bukan ibu, ayaaah berjanjilah pada Liza untuk selalu bahagia, Liza akan lakukan apapun untuk kebagian ayah termasuk pergi jauh dari hidup ayah jika memang itulah yang yang terbaik untuk ayah"
Aliza mendongak menatap wajah Sadewa dari bawah
"Aliza sayang ayah, Aliza kangen ayah, makasih sudah mengijinkan Aliza memeluk ayah untuk yang terakhir kalinya, Aliza senang bisa peluk ayah lagi, makasih" aliza melepaskan pelukannya, ia raih tangan besar Sadewa untuk di genggam, Aliza ciuman punggung tangan Sadewa dengan takzim.
"anak ayah sudah besar, anak ayah sudah dewasa sekarang, ayah jangan mengkuatirkan Liza, Liza hidup dengan baik bersama Raga, laki-laki yang pernah Liza ceritakan dulu pada ayah dan ibu" Aliza menyunggingkan senyum
"ayah, ini mungkin pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya, ayah. jika suatu hari Liza pergi lebih dulu menemui ibu, Liza Mohon maafkan Liza, maafkan semua salahnya Liza"
__ADS_1
"Liza pamit, assalamualaikum" dengan langkah kecil Aliza masuk kedalam musholla, air mata yang mati-matian di tahan kini tumpah juga di pelupuk mata seorang pria yang tidak tau betapa hancurnya kehidupan putri tercinta.