
Keduanya kini sudah kembali duduk di pinggiran ranjang, Inayah masih diam, wanita itu masih shock depan kenyataan yang baru saja ia dengar, sahabatnya ternyata sudah di per istri oleh pria yang begitu membencinya, tapi Inayah tau Aliza tidak bahagia dengan pernikahan mereka, wanita itu tertekan fisik dan batinnya, bahkan Aliza sebut kehamilannya itu karena pemerkosaan yang di lakukan suaminya sendiri, jelas dapat Inayah simpulkan, jika Aliza tidak pernah ingin mengandung atau berhubungan Hingga hamil dengan Raga.
"Gue belum yakin, apa gue hamil atau mual biasa, gue belum cek apapun untuk memastikan apa sungguh ada anak gue di perut, gue nggak tau apa gue harus bahagia atau sedih, gue nggak tau gue harus apa dengan hidup anak gue, hidup gue hancur, hancur lebur tak tersisa, gue di nikahi Raga untuk menebus hutang ayah gue, gue nggak tau kenapa Raga ingin gue jadi istrinya, ternyata dia ingin menjadikan gue terikat terus dengan nya, gue di Tawan di rumah suami gue sendiri, tujuh bulan yang lalu gue menikah dan Hanya sah secara agama saja, Raga tidak mendaftarkan pernikahan kami, tapi dua bulan Lalu pria itu sudah mendaftarkan pernikahan kami secara hukum, ayah gue Dengan sukarela menandatangani surat perjanjian untuk menyerahkan gue seluruhnya pada Raga, ayah tidak akan bisa menuntut apa-apa pada Raga jika terjadi sesuatu dengan gue" Aliza tersenyum miring, ia menoleh, ternyata Inayah juga menatapnya, mendengarkan dengan seksama cerita hidup sahabatnya.
"gue di perlakukan layaknya seorang pembantu di rumah suami gue sendiri, gue di siksa, gue di Hina, gue direndahkan, bahkan berkali-kali gue di lecehkan" Aliza tarik dulu nafasnya sebelum lanjut bercerita.
"Sahabat Lo ini sudah hancur hidupnya, sahabat Lo ini sudah tidak memiliki alasan untuk tetap bertahan, bahkan ayah gue sudah tidak menginginkan gue lagi" jika sudah bercerita mengenai ayahnya, Aliza tak sanggup membendung air matanya.
"ayah benci gue, ayah dengan tega menyerahkan gue dengan Raga, ayah nggak mau lihat wajah gue lagi" melihat kesedihan sahabatnya membuat Inayah merasakan Sesak di dadanya, ia raih tangan Aliza untuk di genggam, Inayah tau apa yang ia lakukan tidak bisa menghilangkan penderitaan Aliza seutuhnya, tapi setidaknya ia bisa memberikan sedikit ketengan untuk Aliza.
"kenapa Lo ngomong gitu za, ayah sayang lo, Lo putri kebanggaan nya" Aliza menggeleng.
"ayah sudah nggak sayang gue, gue penyebab kematian ibu, ayah membenci gue, gara-gara gue ibu meninggal, gara-gara gue ibu sakit, gara-gara gue ayah bangkrut, dan hidup kami susah terlilit hutang di mana-mana" jelas Aliza dengan linangan air mata yang terus mengalir.
"ibu Lo meninggal karena sakit, bukan karena Lo" Aliza kembali menggeleng, emang tidak ada yang tau mengenai penyakitnya kecuali kedua orang tuanya, bahkan sahabat terdekatnya saja tidak tau mengenai hal itu.
"mungkin Lo nggak tau mengenai sakit gue" Aliza dan Inayah saling pandang.
"gue sakit ya, gue penderita gagal ginjal akut, beberapa bulan sebelum kelulusan kita, gue menghilang berbulan-bulan" Inayah Mengangguk.
__ADS_1
"gue masuk rumah sakit, gue koma karena sakit yang gue derita, orang tua gue hampir menyerah dengan keadaan, satu-satunya jalan agar gue bisa tetap bertahan dengan mendapatkan donor ginjal, dan ibu gue yang lakuin itu, gue sehat tapi ibu gue nggak, ibu jatuh sakit tepat dua bulan gue keluar dari rumah sakit, ibu nggak bisa bertahan dan akhirnya pergi ninggalin gue untuk selamanya, ayah kehilangan perusahaannya, hutang kami menumpuk di mana-mana termasuk dengan Raga, gue nggak tau kenapa ayah bisa berhutang dengan Raga, gue nggak tau, tiba-tiba Raga datang meminta uangnya tapi ayah nggak punya uang dan justru memberikan gue sebagai imbalannya, ayah menjual gue yang nggak berguna ini" Aliza Menyunggingkan senyum, ia hapus air matanya dengan kasar.
"Alizaa " lirih Inayah memanggil sahabatnya, Inayah memeluk Aliza begitu erat, ia tidak tau seberat itu kehidupan yang harus sahabatnya tanggung, kehilangan seoang ibu, kehilangan harta, di benci satu-satunya orang yang bisa di percaya, di nikahi untuk balas dendam, menderita fisik dan batinnya, tidak heran jika Aliza sekurus sekarang.
"maaf, maafin gue, gue nggak ada di saat Lo butuh sandaran, maaf .... maafin gue karena nggak becus jadi sahabat " Inayah bisa merasakan gelengan Aliza di pundaknya.
"jangan meminta maaf, gue sudah sangat bersyukur bisa bertemu dengan Lo lagi, akhirnya gue bisa rasakan punya seseorang lagi di dunia, gue bersyukur punya sahabat kaya Lo dan Karina " Aliza lepas pelukannya.
"mana hp Lo" Inayah merogoh saku bajunya, Aliza mengetikan nomor ponselnya di sana.
"waktu di kantor.... gue nggak bisa ngasih Lo nomor gue karena ada Raga, Raga nggak ngijinin gue punya hp, hp ini gue bawa diam-diam untuk menghubungi ayah, tapi ayah sungguh sudah tidak menginginkan gue lagi, jadi hp nya nganggur, gue nggak bisa terus menghubungi Lo, gue nggak punya uang untuk bisa beli pulsa, dan gue takut Raga tau gue punya hp"
"Inayah " keduanya berbalik mendengar suara zidan.
"cepat, tiga menit lagi waktu Lo habis " ucap zidan panik, tadi terpaksa ia naik menemui Inayah karena wanita itu tidak kunjung juga menunjukkan dirinya.
"iya bentar bawel" omel Inayah.
"za, gue pulang dulu ya, sekarang gue nggak bisa lakuin apapun untuk Lo, tapi gue janji akan jemput Lo pulang, kita akan hidup bersama, mama papa juga terus nanyain Lo za, mereka kangen Lo, mereka kangen kebawelan Lo"
__ADS_1
"bilangin mereka gue juga kangen, bilangin juga gue sudah nggak bawel, gue sudah nggak punya tenaga untuk bicara banyak" sekali lagi Inayah memeluk sahabatnya sebelum pergi
"jaga diri Lo baik-baik ya".
"insyaallah "
"Inayah cepat"
"bawel banget tu orang " Inayah mengadu pada Aliza, Aliza tersenyum melihat keduanya.
"semoga kalian berjodoh "
"AMIN " ucap zidan dengan lantang.
"ih, amit-amit, nggak mau gue sama cowok bawel" Aliza tertawa pelan, Inayah berdiri
"jaga diri baik-baik za, Gue sayang Lo" Aliza mengangguk. Aliza bisa bernafas lega setelah bertemu dan menjelaskan semuanya pada Inayah, Aliza usap perutnya yang masih rata
"kamu sungguh ada di dalam nak, kamu sungguh ada di perut ibu" Aliza mengenadah untuk menahan lagi air matanya.
__ADS_1